Perkuat Ukhuwah Islamiyah Dengan Al-Qur’an dan Sunnah

islam-satu-tubuh

(Dari Masjid Az-Zikra Sentul-Bogor ) GEMA taushiyah Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina pada 12 Desember, semarakkan Nusantara. Ajakan untuk memperkuat Ukhuwah Islamiyah dengan berpandu kepada Al-Qur’an dan Sunnah mengetuk pintu hati ummat Islam di Nusantara untuk menghargai perbedaan, dan bersatu dalam kebersamaan.

Dari mimbar masjid Az-Zikra dibawah kepemimpinan ustadz M. Arifin Ilham terpancar harapan bersatunya ummat Islam, baik di Nusantara maupun di seluruh dunia. Diantara ribuan jamaah yang hadir, hadir pula Ustadz Arifin Ilham yang khusyu’ mendengarkan untaian taushiyah.

Dalam taushiyahnya Al Ustadz Ahmad Sukina menyerukan bahwa ; Ukhuwah Islamiyah hanya dapat diwujudkan dengan taqwa kepada Allah SWT. Dengan kata lain Ukhuwah Islamiyah adalah sifat yang menyatu dengan iman dan taqwa. Tidak ada Ukhuwah tanpa iman dan tidak ada iman tanpa Ukhuwah.

Begitu juga tidak ada persahabatan tanpa taqwa dan tidak ada taqwa tanpa persahabatan. Persahabatan/Ukhuwah yang tanpa dilandasi dengan taqwa hanyalah persahabatan yang semu, palsu dan omong kosong. Persahabatan semacam itu hanya bisa terlaksana selama masih dirasakan adanya kepentingan dan manfaat pribadi, kelompok atau golongan.

Dan kalau persahabatan hanya diikat oleh kepentingan-kepentingan tertentu, tidak diragukan lagi, cepat atau lambat, persahabatan itu pasti akan hancur, baik itu persahabatan antar pribadi, masyarakat, atau antar negara.

Konsep yang bagaimanapun apabila hanya berdasar hasil pemikiran manusia, meskipun dengan didukung dana milyaran dan oleh ahli fikir tingkat dunia, tidak akan dapat dipakai untuk mewujudkan ukhuwah/ persahabatan yang mantap dan haqiqi.

Sudah terbukti dimata dunia dengan adanya PBB. Kapan negara-negara di dunia ini bersahabat dan bersatu dengan betul dan mantap ? Padahal PBB didanai oleh seluruh anggotanya yang terdiri dari negara-negara di dunia.

Disamping itu di sana berkumpul ahli fikir-ahli fikir tingkat dunia. Masih juga muncul pertikaian. jangankan manusia-manusia biasa seperti kita ini, sedangkan Nabi sendiri yang dipilih dan diangkat oleh Allah menjadi utusan-Nya, tidak dapat menyatukan hati manusia, sebagaimana firman Allah :

“Seandainya engkau (Muhammad) membelanjakan apa yang ada di bumi semuanya, tidaklah bisa engkau persatukan antara hati mereka, tetapi Allah-lah yang mempersatukan antara mereka.” [QS. Al-Anfal : 63].

Persahabatan yang dilandasi oleh taqwa insya Allah akan langgeng, tetapi persahabatan yang dilandasi oleh dorongan lain mungkin justru akan berakhir dengan permusuhan. Manakala salah satu merasa kepentingannya tidak tercapai, apalagi merasa dirugikan, berubahlah persahabatan itu menjadi permusuhan.

“Sahabat-sahabat akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang taqwa. [QS. Az-Zukhruf : 67].”

Islam cinta persahabatan dan persatuan, dan membenci perselisihan yang menyebabkan perpecahan dan permusuhan. Di dalam hadits disebutkan :

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling bersaing yang tidak sehat, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, janganlah seseorang diantara kalian menawar tawaran orang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Orang Islam itu saudaranya orang Islam yang lain. Tidak boleh berlaku dhalim kepadanya, tidak boleh membiarkannya (dengan tidak mau menolongnya), dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu di sini,”. Beliau sambil mengisyaratkan ke dadanya, tiga kali. “Cukuplah seseorang itu berbuat jahat apabila ia merendahkan saudaranya orang Islam. Setiap orang Islam terhadap orang Islam yang lain adalah haram darahnya, harta bendanya dan kehormatannya. [HR. Muslim juz 4, hal. 1986].

“Penyakit umat-umat sebelum kamu telah menjangkiti kepada kamu sekalian, yaitu kedengkian dan permusuhan. Itulah sang pencukur. Aku tidak mengatakan mencukur rambut, tetapi mencukur agama. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sehingga kamu sekalian beriman, dan kamu tidak beriman sehingga saling berkasih sayang”. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 74, no. 2628].

Dari hadits-hadits diatas dapat kita mengerti bahwa Islam menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, serta membenci perpecahan dan permusuhan. Bahkan menjaga dan memperbaiki hubungan persaudaraan pahalanya lebih baik daripada pahala shalat, puasa dan shadaqah.

Apa artinya puasa, jika kedengkian, kebencian, dan permusuhan terhadap sesama muslim tidak padam ? Rasulullah SAW menyatakan yang demikian sebagai “mencukur agama”, yakni terkikis agamanya. Dengan kata lain, orang tersebut tidak beragama.

Lebih tegas lagi Rasulullah SAW bersabda : “Tidak beriman salah seorang di antara kamu sekalian sehingga dia mencintai saudaranya seperti cinta pada dirinya sendiri.” [Muttafaq ‘alaih]

Oleh sebab itu kita harus dapat memupuk rasa persaudaraan dan tumbuhnya kasih sayang diantara kita, serta menghilangkan kecenderungan terhadap perpecahan dan permusuhan.

“Orang mu’min satu dengan yang lain seperti satu bangunan yang saling kuat menguatkan.” [Muttafaq ‘alaih].

Kesatuan dan persatuan merupakan benteng pertahanan dari ancaman kehancuran. Sedangkan perpecahan dan permusuhan akan merusak hubungan persaudaraan (Ukhuwah Islamiyah) yang mengakibatkan lemahnya ummat Islam.

Walaupun demikian bukan berarti ummat Islam tidak boleh berbeda faham dan berselisih pendapat dalam masalah-masalah furu’, karena hal itu merupakan hal yang pasti akan terjadi dan tidak mungkin dapat dihindari sama sekali.

Dan tampaknya sudah menjadi ketetapan Allah untuk memberi kelonggaran bagi hamba-Nya. Yang dilarang adalah perselisihan dan perbedaan pendapat/ faham yang sampai menimbulkan perpecahan dan permusuhan. Perbedaan faham/pendapat sudah ada sejak zaman Nabi, para sahabat dan Imam yang empat, tetapi keutuhan ummat tetap terjaga dan kasih sayang tetap terwujud.

Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan da’wah Islam tidak mengharapkan apapun dari usahanya itu, kecuali hanya mengharapkan ridla Allah dan demi terwujudnya rasa kasih sayang dalam kekeluargaan di antara manusia.

Nabi SAW sama sekali bersih dari harapan-harapan duniawi. Kita lihat betapa Nabi SAW mendapat berbagai tawaran dari tokoh-tokoh musyrikin Quraisy, yakni berupa harta, wanita, kedudukan dan lain sebagainya, agar Nabi SAW berhenti dari da’wahnya, namun semua itu ditolak oleh beliau, karena bukan itu semua target da’wahnya, melainkan terciptanya “mawaddah fil qurbaa” pada manusia. Firman Allah :

Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah apapun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan“. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan atas kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha mensyukuri“. [QS. Asy-Syuuraa : 23]

Maka dengan tegas Rasulullah SAW menjawab tawaran orang kafir dengan sabdanya:

Demi Allah hai paman, sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan da›wah, tentu aku tidak akan melakukannya sehingga Allah memenangkannya (agama Allah ini) atau aku mati karena membelanya. [Nuurul Yaqiin: 41].

Golongan-golongan/suku-suku yang dahulunya selalu bermusuhan, bunuhmembunuh, setelah nikmat Islam masuk di hatinya, mereka menjadi bersatu padu.

Yang tadinya saling benci-membenci dan ingin saling menghancurkan, berubah menjadi saling mengasihi dan menyayangi serta tolongmenolong satu sama lain.

Dalam tarikh sudah kita baca bagaimana suku Aus dan Khazraj yang semula senantiasa bermusuhan, setelah Islam masuk di hati, mereka menjadi saling berkasih sayang. Begitu pula antara qabilah-qabilah Arab yang lain.

Bagaimana dengan keadaan kita sekarang ? Sungguh sangat memprihatinkan, rasa ukhuwwah Islamiyah tercabikcabik, satu sama lain saling menghujat, menjatuhkan, bahkan saling bermusuhan dengan melontarkan ucapan «halal darahnya» walaupun sesama muslim, hanya karena berbeda faham/partai. Apakah sekarang inilah yang disabdakan Rasulullah SAW :

“Akan datang suatu masa bagi manusia, Islam tinggal namanya, Al-Qur’an tinggal tulisannya, masjidmasjidnya ramai adapun isinya menyalahi hukumhukum agama. Ulama-ulamanya sejelek-jelek manusia dibawah kolong langit. Dari ulama-ulama tersebut keluar fitnah dan fitnah itu kembali kepada mereka (antar ulama saling fitnah-memfitnah).”[HR. Baihaqi dalam kitab Syu›abul iimaan juz 3, hal. 317, no. 1763].

Padahal Rasulullah SAW telah mengajarkan bahwa :
”Seorang muslim cukup menjadi jahat karena dia menghina saudaranya sesama muslim. Tiap seorang muslim terhadap muslim yang lainnya adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.”[HR. Muslim]

Mungkin kita sudah terseret pada perilaku iblis yang suka permusuhan sebagaimana Sabda Rasulullah SAW
“Sesungguhnya syaithan (iblis) telah berputus-asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di Jazirah ‹Arab ini, tetapi syaithan berusaha mengadu domba dan menebarkan permusuhan diantara mereka (kaum muslimin).” [HR. Muslim juz 4, hal. 2166].

Kita harus berhati-hati dan waspada terhadap iblis yang selalu berusaha mengadu domba, dan menimbulkan permusuhan diantara kita, sebab tidak saja orang-orang awwam yang menjadi sasaran iblis untuk digarap, tingkat ulama pun menjadi target sasaran iblis.

Apabila ulama sudah dapat tergarap oleh iblis, sungguh sangat berbahaya bagi keutuhan Ukhuwwah Islamiyyah, sebab bagaimanapun ulama pasti mempunyai pengaruh dan pengikut.

Jika ulama sudah tergarap oleh iblis, maka fungsi ulama sebagai pewaris para nabi, yang membawa petunjuk ke jalan keselamatan dan sebagai penyejuk hati masyarakat telah gugur dan beralih dari manusia yang baik jatuh menjadi manusia yang paling jelek, tidak lagi menjadi penyejuk hati masyarakat, tetapi menjadi tukang penyebar fitnah.

Rasulullah SAW bersabda :
“Sebaik-baik hamba Allah ialah orang-orang yang apabila mereka dimintai wawasan, disebutlah nama Allah (memberi wawasan menurut petunjuk Allah), dan seburuk-buruk hamba Allah ialah orang-orang yang berjalan kesana-kemari berbuat namimah.” [HR. Ahmad juz 6, hal. 291, no. 18020]

Ulama yang sudah tergarap oleh iblis walaupun sudah berubah fungsi dan kedudukannya, namun kadang sebutan ulama masih melekat pada dirinya, padahal perbuatannya membuat sengsara masyarakat.

Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu, na’uudzu billaahi min dzaalik. mengapa itu semua terjadi? Karena rasanya kita (ummat Islam) sudah tidak lagi memperhatikan petunjuk-petunjuk Allah maupun nasehat-nasehat Rasulullah SAW, cenderung mengikuti hawa nafsu, tidak lagi merasa bangga dengan aturan Allah.

Yakni membina Ukhuwwah Islamiyyah yang kokoh, namun terseret kepada kebanggaan kebesaran golongan dan partai, sehingga ummat Islam yang utuh satu menjadi terpecah-belah, sebagaimana firman Allah berikut.

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) berpecah belah menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya.” [QS. Al-Mu’minuun : 52-53]

Karena manusia sudah terseret kepada fanatisme golongannya, maka sudah tidak lagi berda›wah menyeru manusia kepada Islam, tetapi lebih suka menyeru manusia untuk memperbesar golongannya, sehingga melupakan firman Allah SWT :

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (mengajak orang) kepada Allah dan mengerjakan amal shalih dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orangorang muslim (orang-orang yang berserah diri)“. [QS. Fushshilat : 33]

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, orang yang terlalu fanatisme kepada golongan/ partainya sehingga berusaha keras mengajak manusia mati-matian untuk membela partainya, tidak lagi untuk agamanya (Islam), maka orang tersebut tidak diakui sebagai pengikut Nabi.

Rasulullah SAW bersabda :

”Bukan dari golonganku orang yang mengajak kepada ‹ashabiyah, bukan dari golonganku orang yang berperang karena ‹ashabiyah, dan bukan dari golonganku orang yang mati membela ‹ashabiyah.” [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 332, no. 5121]

Bukan hanya mereka tidak diakui sebagai pengikut Nabi, bahkan mereka terseret kepada kemusyrikan yang tidak diampuni dosanya oleh Allah SWT. Firman Allah :

”Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Yaitu orangorang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.” [QS. Ar-Ruum : 31-32]

Dengan uraian tersebut maka marilah kita masingmasing mawas diri dan berusaha menjalin hubungan sesama muslim dengan memantapkan ukhuwah kita, tanpa memandang partai, aliran maupun golongan, kita pegang sabda Nabi SAW bahwa sesama muslim adalah saudara, haram darahnya, haram kehormatannya dan haram hartanya.

Hal-hal yang dapat sefaham, mari kita kerjakan bersama-sama, adapun halhal yang tidak dapat sefaham, kita saling menghormati, tidak usah mencela dan menghina, “lanaa a’maalunaa walakum a’maalukum” (bagi kami amal kami dan bagi kalian amal kalian).

Masingmasing kita tidak diberi wewenang oleh Allah untuk menilai dan mengadili amal seseorang. Allah sajalah yang akan memperhitungkan amal kita masing-masing dengan tepat, dan akan memberi balasan dengan sempurna apa yang dilakukan manusia ketika hidupnya di dunia.

Firman Allah SWT :

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”[QS. Ali ‘Imraan : 185]

Dan kita perhatikan sabda Rasulullah SAW : “Mencaci orang muslim adalah fasiq, dan membunuhnya adalah kafir.” [HR. Bukhari dan Muslim]

“Apabila dua orang muslim menghunus pedangnya masing-masing, maka yang membunuh maupun yang di bunuh masuk neraka.” [HR. Bukhari].

Semoga Allah membuka hati kita untuk segera sadar akan pentingnya kesatuan dan persatuan ummat Islam dan bahayanya perpecahan diantara kita.

Oleh karena itu dengan bekumpulnya para kyai, ulama, ustadz dan jutaan ummat Islam pada hari Jum’at tanggal 4-11 dan Jum’at 2-12 yang lalu, semoga Allah menyatukan hati kita, mempererat ukhuwwah kita dengan ikatan Islam dan menjadikan titik awwal ummat Islam kembali pada jati dirinya untuk menjadi ummat yang satu.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, ummat Islam memang diajarkan oleh Allah lewat utusan-Nya supaya berbuat baik dan berlaku adil, serta dengan lemah-lembut dan santun.

Tetapi kalau agamanya dilecehkan, Kitab Suci yang diyaqininya dihinakan orang, mereka siap menghadapinya dengan segala kemampuan yang ada, tanpa takut resiko yang harus ditanggungnya di dunia ini.

Maka kita perhatikan peristiwa di Ibu Kota pada 4.11 dan 2.12 beberapa hari yang lalu, mereka berbondong-bondong datang menyatu di Ibu Kota dari berbagai penjuru negeri ini dengan tujuan yang sama, membela Islam karena Al-Qur’an dihinakan. Mereka telah mengikat janji dengan Allah.

Perhatikan firman Allah :

”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. [QS. AtTaubah : 111]

Semoga kejadian demi kejadian di negeri ini menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua untuk menatap masa depan yang lebih baik. Kita sebagai rakyat memperkokoh rasa kebangsaan yang lebih kuat, dengan menyadari kebhinnekaan yang ada.

Para pemegang Pemerintahan hendaknya menjadi penguasa yang adil dan menjauhi semua bentuk kedhaliman, karena Allah sangat benci pada semua bentuk kedhaliman tersebut.

Kita semua berharap negeri ini menjadi Baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur, Aamiin ya robbal ‘aalamiin.

(docmta/roe/nova/bib)

photo_2016-12-15_19-13-43

photo_2016-12-15_19-13-26

photo_2016-12-15_19-12-45

photo_2016-12-15_19-12-39

photo_2016-12-15_19-12-28

photo_2016-12-15_19-12-18

 


Satu komentar pada “Perkuat Ukhuwah Islamiyah Dengan Al-Qur’an dan Sunnah

  1. semoga dakwah MTA diterima umat muslim sedunia, dan mari kita beribadah sesuai Al Quran dan sunnah rasul.

Beri Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *