Mencari Makna : Dengan Menjalankan Syari’at Islam

Segala puji hanya untuk Allah SWT, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Saw, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

Allah SWT, Allah Tuhan pencipta, pemilik, pemelihara semesta alam raya, baik alam yang diketahui oleh manusia maupun alam yang tidak diketahui manusia. Segala puji hanya untuk Allah SWT.

Para pendiri bangsa , tentu mereka merasakan suasana zaman, merasakan suasana zaman kemerdekaan, mereka telah dengan susah payah dan bersimbah darah melahirkan sebuah bangsa berdaulat yang bernama bangsa Indonesia.

Belum lagi tentu mereka yang telah bersungguh-sungguh untuk bertaqorub kepada Allah, ketika zaman genting dengan berbagai keadaan yang sangat mencekam jiwa dan raga bangsa Indonesia terutama kaum pejuang yang kebanyakan adalah umat Islam. Umat yang selalu bergantung, berserah diri dan berjalan di jalan yang diridhoi Allah SWT. Alhamdulillah.

 

Kalimat yang amat meresap dalam preambule UUD 45 adalah “atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Esa dan dengan didorongkan keinginan luhur “ merupakan tonggak kuat, kemauan bangsa Indonesia untuk merdeka dan berhasil mendapat kemerdekaan.

 

Allah SWT telah berfirman dalam 3 surat masing-masing adalah

 

وَإِذَا مَسَّ الإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِداً أَوْ قَآئِماً فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَّسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ ﴿١٢﴾

 

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS Yunus ayat 12)

 

 

وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُم مُّنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُم مِّنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ ﴿٣٣﴾

Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebahagian daripada mereka mempersekutukan Tuhannya,(QS Ruum 33)

 

وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيباً إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِن قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَاداً لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلاً إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ﴿٨﴾

 

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan ni`mat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdo`a (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”.(Q S Zumar  ayat 8)

 

Para pendiri bangsa, mereka benar-benar merasakan suasana zaman dan meresapi betul dengan hal-hal yang menjadikan mereka mendapatkan kemerdekaan. Dan sekaligus mereka ingin agar suasana itu tetap lestari sepanjang masa.

 

Bila kita menghayati 7 kata dibelakang koma di dalam piagam jakarta, yaitu kalimat “ dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya “ , adalah suatu ungkapan rasa agar anak cucu pelanjut estafet kemerdekaan bangsa ini dapat selalu dalam kondisi “ DIRAHMATI ALLAH”.  Dan rahmat Allah itu akan turun kepada manusia-manusia yang selalu berjalan di jalan yang di ridhoi Allah.

 

Para generasi pencetus kemerdekaan tentu ingin menjaga kelestarian kemerdekaan ini dan menuangkan dalam kalimat “ kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa”, bahkan ada keinginan untuk ikut dalam  “mewujudkan perdamaian dunia”. Sebuah cita cita yang mulia dari sebuah bangsa yang baru saja memerdekakan dirinya dari penjajah. Sebuah rasa prihatin akan terjadinya penjajahan bangsa-bangsa  Kuat terhadap bangsa-bangsa Lemah. Sebuah hikmah yang amat tinggi, yang muncul dalam jiwa-jiwa yang bersih dan ikhlas.

 

Istiqomah dalam memegang Islam dan selalu meningkatkan iman dan taqwa sepanjang kehidupan adalah yang dikehendaki generasi pencetus kemerdekaan bangsa Indonesia. Tidak hanya dekat kepada Allah ketika saat-saat yang genting saja.

 

 

  1. BELAJAR DARI KEHIDUPAN KOLONI LEBAH.

 

Estafet Islam dan suasana Rahmat Allah akan dapat lestari maka manusia dapat mengambil hikmah dari kehidupan koloni LEBAH. Dimana ada lebah Ratu, ada pula beberapa pasukan khusus pekerja di dalam koloni lebah,  ada  pasukan pembuat rumah, ada pasukan pencari madu, ada pasukan menyuapi anak lebah dan ada pula pasukan pelindung sarang lebah dari gangguan luar.

 

Generasi Umat Islam setidaknya memelihara 3 lapis generasi yang harus selalu siap untuk memikul beban DAKWAH ISLAM ke dalam 3 lapis umur, yaitu mereka yang berumur 20 tahun, berumur 40 tahun dan yang berumur 60 tahun.

 

Para generasi umur 60 tahun haruslah selalu memelihara, meningkatkan kemampuan ilmu dan amal generasi yang berumur 40 tahun, dan generasi 40 tahun harus terus memelihara dan  meningkatkan ilmu dan amal generasi yang berumur 20 tahun, demikian juga generasi yang berumur 20 tahun, harus terus membimbing dan membina generasi dibawahnya yang masih berumur 7 s/d 16 tahun.

 

Rasa tanggung jawab yang disandangkan kepada masing-masing tingkat generasi, agar memunculkan rasa tanggung jawab pada tiap-tiap tingkat generasi, dan kepedulian bagi masing-masing tingkat generasi. Sehingga tidak ada kelengahan pada sebuah tingkat generasi.

 

  1. Menjaga Kebersihan IMAN DAN TAQWA dari generasi ke generasi.

 

7 kata dibelakang koma,  “ dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya “, merupakan  syarat yang harus dijalankan oleh para Pemimpin yang Pemuka masyarakat yang peduli dengan keteguhan iman dan taqwa sebuah generasi bangsa.

 

Walaupun kalimat tersebut sudah dihapus dari usulan Pancasila di dalam Piagam Jakarta atau Pancasila di dalam pembukaan Undang-Undang dasar 1945. namun masing-masing generasi harus menyadari akan perlunya mengamalkan kalimat tersebut agar bangsa Indonesia dari zaman ke zaman tetap memiliki KEIMANAN  dan KETAQWAAN yang dapat mendatangkan PERTOLONGAN ALLAH dan RAHMAT ALLAH di sepanjang zaman.

 

Ketika sebuah generasi ISLAM lengah, ketika SIARAN-SIARAN MULTIMEDIA telah masuk ke jantung kehidupan , dan kemudian banyak KONTEN-KONTEN SIARAN yang merusak iman dan taqwa manusia dibiarkan mewarnai generasi muslim. Maka tiba-tiba pelajaran AGAMA yang disampaikan oleh para ULAMA oleh para orang SHOLIH menjadi mentah disebabkan oleh kesenangan menikmati para “SELEBRITY” yang cenderung membawa manusia untuk lengah dan melepaskan iman dan taqwanya kepada Allah.

 

Namun bila kita para Pemimpin dan pemuka Umat masih terus memperjuangkan pelaksanaan “ dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya “, maka ada batas-batas yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun, terutama oleh kaum liberal dan kaum atheis yang ingin merusak AKHLAQ manusia dengan perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan BUDAYA TIMUR dan SOPAN SANTUN.

 

Berapa ratus kali sebuah IKLAN yang jelas-jelas tidak sesuai dengan BUDAYA TIMUR dan SOPAN SANTUN ketimuran, telah diputar dalam sehari. Memang itu akan menghasilkan uang bagi pemilik pemancar TV, namun berakibat runtuhnya akhlaq GENERASI MUDA. Hal yang kelihatan sepele ini yang diabaikan oleh para penyelenggara Negara, telah membuat bangsa ini menjadi terjun kepada jurang yang mendatangkan AZAB ALLAH SWT.

 

Manusia perlu mengingat firman Allah :

 

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُواْ بِمَا أُوتُواْ أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ ﴿٤٤﴾

 

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.(QS Al-Anaam 44)

 

وَلاَ تَحْسَبَنَّ اللّهَ غَافِلاً عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأَبْصَارُ ﴿٤٢﴾ مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لاَ يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاء ﴿٤٣﴾

 

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.

mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong. (QS Ibrahim 42 dan 43)

 

Bagaimana Generasi 60 tahun bisa memberikan isyarat ini kepada generasi 40 tahun, dan seterusnya bisa mengalir ke generasi 20 tahun. Sehingga seluruh generasi dalam keadaan siap siaga selalu menjaga agar semuanya tidak terkena AZAB Allah SWT.

 

 

  1. Pelajaran Yang NYATA di dalam SEJARAH.

 

Bangsa Indonesia telah diberi tahu akan kedatangan bangsa GOG  ma GOG, dan telah menjadi pengertian yang diketahui dari mulut ke telinga. Dan seberapa tingkat kebenaran hal tersebut, masing-masing akan mencari dalam buku sejarah masa lalu.

 

Namun umat Islam dapat segera tahu bahwa yang dimaksudkan GOG ma GOG adalah bangsa Ya’jud Ma’jud yang juga akan meraja lela di saat zaman akhir, yang akan melakukan kerusakan besar di dalam negri kaum muslimin. Dari kitab sejarah para alim sudah menyampaikan bahwa Bagdad sebagai pusat peradapan Islam telah dihancur leburkan oleh Bangsa Ya’jud dan Ma’jud yang waktu itu tidak lain adalah bangsa Tar-Tar yang melakukan kerusakan di negri-negri kaum muslimin.

 

Demikian pula dalam sebuah buku TURKISTAN NEGRI YANG HILANG, sebuah negri muslim yang lenyap ditelan oleh negara besar CINA . Dan juga beberapa negri-negri muslimin yang dicaplok oleh RUSIA.  Terbukti sudah, bila Umat Islam melalaikan pemeliharaan  iman dan taqwa, bila mereka lalai dan melupakan Allah maka Allah tidak akan lagi menolong mereka.

 

  1. Agar ALLAH selalu  MENOLONG UMAT ISLAM.

 

Para pemimpin Umat Islam yang duduk di lembaga-lembaga formal harus intensif membuat peraturan-peraturan yang mengarahkan umat Islam sesuai nasehat para pencetus kemerdekaan bangsa Indonesia. Agar PERDA-PERDA yang dihasilkan akan membawa bangsa ini kepada ketinggian IMAN dan TAQWA. Kita telah melihat keampuhan perda-perda yang diberlakukan oleh orang Non Muslim kepada umat Islam.

 

Menjadi kewaspadaan dari generasi ke generasi, baik secara sadar atau secara tidak sadar harus memegang teguh warisan pendahulu kita pencetus kemerdekaan bangsa Indonesia tersebut yaitu  “ dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya “, artinya selalu memahami, menghayati dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan pasti Allah akan selalu menolong mereka.

 

 

إِن يَنصُرْكُمُ اللّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا الَّذِي يَنصُرُكُم مِّن بَعْدِهِ وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكِّلِ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١٦٠﴾

 

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.  (QS 3 ayat 160)

 

Allah akan memberikan pertolongan kepada orang yang menolong agama Allah SWT. Selalu berusaha menyampaikan firman Allah kepada umat manusia dan semua itu ditujukan untuk menyebarkan Agama Allah dan menjelaskan kepada manusia tentang keberadaan Allah dan tentang tugas manusia kepada Allah.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ ﴿٧﴾

 

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS 47 ayat 7)

 

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ ﴿٤٠﴾ الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ ﴿٤١﴾

 

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS 22 ayat 40 – 41)

 

Sebelum Nabi Adam diciptakan maka Allah SWT mengurusi seluruh Alam raya sendirian. Dan Allah juga yang tidak pernah letih memelihara semesta Alam termasuk Nabi Adam dan anak cucunya yang berjumlah 7,5 MILYAR di muka bumi.

 

Namun berapa jumlah umat manusia yang mereka masih beribadah kepada Allah dan terus menerus mengharap pertolongan Allah dan selalu mendakwahkan agama Allah.  Dan apakah dakwah mereka itu untuk mengagungkan Allah ataukan untuk bangga diri atau bangga GOLONGAN. Karena Allah hanya akan menolong orang yang menyampaikan agama ini untuk mengagungkan Allah dan tidak mengagungkan diri-diri manusia atau golongan.

 

لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً ﴿٩﴾

 

supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama) Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (S 48 ayat 9)

 

Banyak orang yang menyampaikan dakwah agama Islam dengan bertujuan lain. Ada yang menjadi sumber nafkah, ada pula yang menyampaikan agama untuk memperbanyak pengikut tanpa memperbaiki kwalitas pengikutnya dengan KELURUSAN dan KEBENARAN dalam mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga tidak termasuk orang-orang yang ditolong Allah SWT.

 

Bahkan dalam kehidupan modern , banyak bermunculan aliran-aliran yang menyimpang yang disusupkan ke dalam Islam sehingga umat Islam menjadi bercerai berai. Dan tentu Allah Maha mengetahui siapa yang menolong agamaNYA dan siapa pula yang ingin merusak agamaNYA.

 

Segala puji bagi Allah, marilah kita semua memperbaiki hubungan kita kepada Allah SWT. Agar kita secara BANGSA, SUKU, GOLONGAN, MASYARAKAT, KELUARGA dan PRIBADI, selalu di jalan yang di ridhoi oleh Allah, selalu dalam Keselamatan, Rahmat dan Barokah dari Allah SWT. Wallahu a’lam.


Beri Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *