Tiga Perkara yang Tidak Akan Kembali

pertanyaan-akherat-mta-solo

TIGA, TIGA, TIGA. Ada serba tiga yang perlu mendapat perhatian dalam hidup ini. Ketiganya menentukan masa depan (akherat) seseorang.

Selamat atau celaka, surga atau neraka. Masa depan dimulai dan ditentukan dengan berbagai kejadian sebelumnya. Kejadian yang mendahului.

Akherat, didahului dengan kehidupan dunia. Apa yang terjadi, apa yang dilakukan sekarang (di dunia) ini akan menentukan nasib seseorang masa depan (akherat).

Hal ini menyiratkan pesan agarseseorang menaruh perhatian secara memadai untuk menghindari penyesalan yang tidak ada gunanya. Penyesalan yang tidak dapat diperbaiki. Penyesalan yang tidak dapat ditebus.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al Qoshosh 77)

Orang yang mengabaikan akherat, mengabaikan berbuat baik kepada sesamanya, termasuk orang yang berbuat kerusakan. Termasuk orang yang tidak disukai Allah. Padahal Allah sudah berbuat baik kepada manusia tanpa batas.

Kebaikan Allah luar biasa. Betapa tidak. Orangorang yang menentang Allah, tetapi diberi rejeki. Tetap diberi hidup. Tetap boleh menghisap oksigen dan seterusnya. Ada tiga hal dalam hidup yang tidak bisa kembali.

Tiga hal itu adalah : WAKTU, UCAPAN DAN KESEMPATAN. TIGA hal ini jagalah jangan sampai menyesal di kemudian hari.

WAKTU.

Ada beberapa karakteristik waktu yang harus dipahami dengan baik agar bisa mengaturnya dengan baik, diantaranya adalah :

Pertama : Waktu akan habis dan berlalu dengan cepat.
Kedua : Waktu yang telah habis tak akan pernah kembali dan tak mungkin dapat diganti.
Ketiga : Waktu adalah modal terbaik bagi manusia. Karena waktu adalah wadah bagi setiap amal perbuatan manusia.
Keempat : Kita akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah atas waktu yang telah kita pergunakan.

Orang barat mengatakan “Time is Money“, “Waktu adalah Uang”. Sebuah semboyan yang setidaknya benar-benar menggambarkan pola pikir mereka yang individualis, materialistis, dan kapitalis dalam menyikapi arti sebuah waktu.

Yang setidaknya hal ini juga tercermin didalam pola bermuamalah yang mereka terapkan. Semboyan dan ikon bagi seorang mukmin adalah “Time is doing” waktu adalah tindakan amal.

Sedangkan orang arab mengatakan di dalam pepatahnya : Waktu diibaratkan pedang, jika engkau tidak memotongnya maka waktulah yang akan memotongmu,

Dan jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan sesuatu yang halal, maka dia akan menyibukkanmu dengan sesuatu yang haram serta perbuatan-perbuatan dosa”, tentunya sebuah semboyan yang sangat indah serta menyentuh jiwa.

Islam menjadikan waktu sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebagaimana telah diisyaratkan oleh Allah yang telah bersumpah dengan nama waktu di dalam banyak ayat, diantaranya dalam firmanNya :

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian” (QS. Al-`Ashr: 1-2 )

Dan tidaklah Allah bersumpah di beberapa ayat dengan nama waktu, melainkan hal tersebut menunjukkan atas kemuliaan serta keagungan hal tersebut, yaitu dalam hal ini adalah waktu. Islam mendorong seseorang untuk menggunakan waktu dengan baik, agar orang tersebut bisa mengambil pelajaran dan bersyukur atas nikmat waktu yang Allah anugerahkan kepadanya Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (QS. Al-Furqan : 62 )

Yaitu dengan perputaran waktu, maka manusia dapat mengambil pelajaran yang sangat penting mengenai tujuan penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah serta menjalankan Syariat-Nya, mengingat ajal yang pasti akan menjemputnya, dan mempersiapkan bekal bagi kehidupan di akhiratnya yang kekal dan abadi.

Islam telah memberikan pujiannya serta mensifati orang-orang yang mengisi waktunya dengan berfikir dan menjalankan ketaatan di jalan Allah dengan sebutan Ulil Albab (Orang yang berakal).

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal ” (QS. Ali Imran : 190)

Berdasarkan ayat diatas, maka orang-orang yang tidak bisa mensyukuri serta mengisi waktunya dengan berfikir dan menjalankan ketaatan dijalan Allah maka tidaklah pantas untuk dikatakan sebagai manusia yang berakal, wal `iyadzu billah.

Waktu adalah nikmat & karunia Allah yang terlupakan oleh kebanyakan manusia. Rasululloh Shallallahu›alaihi wa sallam pernah bersabda :

Dua nikmat yang kebanyakan manusia rugi di dalamnya : Kesehatan dan Waktu Luang ” (HR. Bukhari)

Akan tetapi, sangat disayangkan sekali, banyak sekali manusia yang lalai akan kedua nikmat ini. Dan merekapun baru menyadari akan besarnya nikmat ini setelah mereka kehilangan.

Kehilangan kesehatan yang telah berganti dengan sakit menahun berkepanjangan tidak diketahui ujungnya, dan kehilangan Waktu luang yang telah berganti dengan kegiatan dan kesibukan.

Kesibukan yang tiada henti dan datang secara bertubi-tubi, wal `iyadzu billah. Kita akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah akan waktu yang telah kita pergunakan.

Rasululloh Shallallahu›alaihi wa sallam pernah menjelaskan hal ini didalam sabdanya :

Tidak tergelincir kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal: Umurnya; dihabiskan untuk apa, Waktu mudanya; digunakan untuk apa, Ilmunya; apakah diamalkan atau tidak, Hartanya; darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya” (HR.Tirmidzi )

Umat manusia benar-benar berada di dalam kerugian yang nyata apabila tidak memanfaatkan waktu pemberian Allah seoptimal mungkin untuk berjalan diatas ketaatanNya.

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-`Ashr: 1-3).

UCAPAN.
Ucapan adalah cermin pikiran seseorang. Pikiran jernih akan memantulkan ucapan yang jernih. Pikiran kotor akan memantulkan kata dan ucapan kotor. Karena itu setiap kata yang dikeluarkan dari mulut menggambarkan bagaimana kepribadian dan pikiran seseorang.

Adapun sumber-sumber dosa yang menghampiri kita, berawal dari suatu titik dalam diri, baik itu berkaitan dengan dengan aspek lahiriyah (anggota tubuh) dan aspek bathin (pikiran dan hati). Jika melalui pintu fisik, berarti dosa itu dimulai dari anggota tubuh seperti : MULUT, MATA, TELINGA, KULIT dan bahkan KELAMIN. Jika ia melalui pintu bathin berarti dosa itu dimulai dari PIKIRAN dan HATI. MULUT bisa MENDATANGKAN PAHALA, tetapi JUGA MENJADI PINTU DOSA, sama dengan mata / pikiran.

Ucapan buruk mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang, dan sebagainya merupakan salah satu pintu dosa yang amat rawan (dosa yang berawal dari mulut).

Banyak orang yang bisa mengendalikan hawa nafsu dan syahwatnya. ATAU bisa mengendalikan massa, memimpin/mengendalikan orang lain, tetapi tidak bisa mengendalikan lidah dan ucapan.

Maksudnya ucapan kotor. Allah SWT tidak menyukai dan membenci hamba-hambaNya yang suka mengucapkan kata-kata kotor sesuai dengan FirmanNya dalam Al Qur’an sbb :

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. An Nisaa: 148)

“(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu” (QS. An Nahl: 25)

“Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari” (QS. Ar Ra’d: 10)

Seseorang yang lupa kepada Allah dan dalam keadaan marah, cenderung untuk mengeluarkan kata-kata kotor, jelek, dusta, mencaci maki, mengungkit-ungkit kejelekan lawan bicara, menyanjung-nyanjung dirinya dan mengeluarkan kalimat yang mengandung kekufuran atau lainnya.

Hal ini terjadi karena ia dirasuki dan dikuasai oleh syaitan. Masalah kekufuran / hal-hal yang tidak baik (sampah) di dalam tubuh manusia, maka itulah yang akan dikeluarkan. Apa yang keluar, itulah yang berada di dalam.

Seseorang menuangkan cairan dari sebuah ceret. Cairan yang tumpah ke tanah adalah teh manis. Kesimpulannya, berarti cairan yang berada dalam ceret adalah teh manis. Mulutmu, harimaumu. Ada pesan tersisrat dalam ungkapan ini.

Yakni bahwa mulut seseorang ibarat harimau. Gambaran hewan buas. Siap menerkam setiap saat. Mulut yang digambarkan sebagai harimau, membahayakan. Berbahaya. Maka hati-hatilah dengan mulut. Sebab sewaktu-waktu dapat menerkam. Senjata makan tuan. Celaka karena tidak dapat menjaga mulutnya.

Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi, seseorang terpaksa berurusan dengan pihak berwajib karena penghinaan. Karena melakukan pencemaran nama baik. Karena kepleset lidahnya dalam berbicara.

Inilah mengapa dikatakan “Mulutmu, harimaumu”. Adalah arif dan bijaksana jika berhati-hati dalam berkalam. Hati-hati dalam berkalam adalah langkah terbaik. Mencegah lebih mudah dan murah diibanding mengatasi masalah yang telah terlanjur muncul.

Allah berfirman dalam QS Qoof 18.

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

Seorang mukmin yang ingin menjaga agama dan hatinya, akan berusaha irit bicara. Puasa bicara. Sebab bukan tidak mungkin sebuah ucapan yang barangkali tidak sengaja, dapat mendatangkan murka Allah.

Dari Abu Hurairah RA,sesungguhnya ia mendengar Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba (kadang) berbicara dengan pembicaraan yang tidak ia sadari bisa menggelincirkan ke neraka sejauh antara timur dan barat”. (HR Bukhari, Muslim dan Nasai). “Sesungguhnya Allah murka kepada orang yang berperangai jahat dan berlidah kotor.” (HR. Tirmidzi)

KESEMPATAN.

Kesempatan tidak terulang. Misalnya Ahad 7 Agustus tidak hadir di kajian Ahad Pagi. Maka kesempatan hadir di kajian Ahad Pagi hilang. Tidak dapat diulang, ditarik lagi. Kesempatannya tersedia pada Ahad yang berbeda.

Pesan yang terkandung di sini jangan membuang kesempatan, jangan menunda waktu, menunda pekerjaan dan sebagainya. Manfaat peluang yang ada, dimanfaatkan sebaik mungkin. Waktu, ucapan dan kesempatan adalah tiga perkara yang tidak akan kembali.

Jagalah sebaik-baiknya agar tidak menyesal. Tulisan ini Insya Allah akan dilanjutkan TIGA kedua, TIGA ketiga dan seterusnya. (*)

Oleh : AA Gim.
Guru SMA MTA Surakarta.


Leave a Reply