Problem Solving..

agama-teman

DI ERA globalisasi ini banyak kita jumpai perbuatan- perbuatan yang melanggar syariat agama Islam,itu berarti menunjukkan bahwa orang- orang yang melanggar syariat Islam jika mereka adalah orang- orang Islam maka mereka termasuk dalam kategori orangorang yang tidak menegakkan shalat.  Yang mana shalat itu bertujuan untuk mencegah perbuatan- perbuatan keji dan munkar.

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45).

Bahkan belum lama diberitakan Jateng Pos edisi Rabu, 26 Oktober 2016 ada tiga siswa SD cabuli teman sekolah. Na’udhubillah, sungguh memprihatinkan dan mencengangkan bagi korban,orang tuanya, keluarganya dan kita sebagai umat Islam.

Kepada para orang tua hendaknya sigap dalam menyikapi kenakalan yang muncul pada anak keturunannya. Orang tua adalah pihak yang utama dan pertama dalam mengemban kewajiban mendidik dan membina mereka.

Tidak boleh berpaku-tangan menyerahkan kepada pihak lain, seperti guru, sekolah, dan sebagainya. Tetapi harus bekerja sama dengan baik.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Maka orang tua harus mampu menegakkan QS. At Tahrim/ 66: 6 tersebut, yaitu orangtua muslim dalam menjaga akidah generasi yang merupakan wujud di dalam menjaga diri dan keluarga dari api neraka.

Orang tua menyampaikan kepada anak-anak yang menginjak remaja, betapa Islam adalah ajaran yang lurus dan terbaik bagi seluruh manusia. Tak ada jalan hidup yang menyamai apalagi mengalahkannya. Sebab, sebagian orang benci terhadap Islam karena salah paham atau buruknya potret Islam yang ia kenal atau dikenalkan kepadanya.

Tidak terkecuali pertengkaran remaja dan berbagai ujian lain yang mengancam jiwa mereka banyak kita jumpai, seperti agama dan akhlak mereka. Bahkan ancaman bisa datang dari dalam rumah mereka sendiri jadi ketika mereka berada di dalam rumah pun, tidak bisa dikatakan mereka aman dari ancaman. Maka sebagai orang tua wajib menghayati dan mengamalkan perintah Allah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka (Q. S AtTahrim/ 66: 6)!

Keimanan- lah yang menjadi indikator penting setiap individu Muslim dalam menjalankan aktifitas kehidupan. Melalui keimanan inilah seorang Muslim memiliki alat kontrol untuk senantiasa membentuk perilaku yang sejalan dengan nilainilai Islam. Nilai- nilai Islam sendiri akan mampu terinternalisasi pada diri seorang Muslim apabila ditopang oleh Al Qur’an dan Sunnah.

Ketika seorang Muslim menerapkan nilai- nilai Islam yang terkandung dalam Al Qur’an dan Sunnah, ada elemen lain yang tidak boleh dikesampingkan, yaitu keluarga. Keluarga sebagai satu kesatuan terkecil yang memiliki fungsi efektif dalam membelajarkan nilai- nilai Al Qur’an dan Sunnah.

Keluarga menjadi medium sosialisasi yang pertama dan utama dalam mengendalikan perilaku individu pada garis yang telah dituntunkan Al Qur’an dan Sunnah.

Maka penting bagi orang tua dan para pendidik untuk mengetahui masalah- masalah yang umumnya menjerat remaja dan sekaligus memberikan solusinya.

Berikut ini beberapa faktor penyebab terjadinya kenakalan dan penyimpangan remaja :

Banyaknya waktu luang yang digunakan untuk hal- hal yang tidak positif, contoh :

  • Nonton TV yang acaranya tidak edukatif (sinetron/ film tentang cinta,gossip, zodiac dll)
  • Main game, FB-an, twitter-an, chatting dll
  • Nongkrong ma temen- temen Jalan- jalan ke mall yang sifatnya hanya sight seeing (cuci mata) dll.

Solusi :
Kurangi nonton TV Yaitu dengan menonton TV pada waktu luang saja dan kita harus selektif dalam menonton, yaitu dengan memilih acaraacara yang edukatif, setelah itu diskusikan tentang acara yang baru saja ditonton dengan keluarga.

Sebagai orang tua yang cerdas jika menginginkan putra- putrinya sukses duniaakhirat, maka sebagai orang tua hendaknya bisa dan mau meluangkan waktu untuk mengawasi dan memilih channel yang tepat atau bahkan nonton bersama. Hindari memberikan fasilitas TV, DVD dll di kamar anak.

Kurangi main game, FB- an, twitter- an ataupun chatting di media lain Yaitu dengan membuat jadwal tentang waktu bermain dan belajar. Hindari bermain yang berlebihan karena permainan itu  melalaikan. Sebagaimana firman Allah di dalam QS. Al Hadiid/57: 20 yaitu:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegahmegah antara kamu serta berbangga- banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam- tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (Q. S Al Hadiid/ 57: 20)”.

Hindari nongkrong yang tidak bermanfaat Nongkrong? Boleh- boleh saja, asalkan bermanfaat untuk kemaslahatan diri sendiri dan umat.

Contoh :  Nongkrong di majelis ilmu untuk mendengarkan kajian- kajian dari ustadz, maka hal tersebut akan memberikan manfaat dan kebaikan bersama.

Perlu diketahui bahwa bergaul dengan sesama manusia di tempat pengajian ataupun majelis ilmu untuk beramar ma’ruf dan nahi mungkar serta menjaga diri dari mara bahaya kemudian sabar menghadapi cobaan adalah merupakan perbuatan yang dilaksanakan Rasulullah SAW, dan kebaikannya adalah lebih baik dari 1000 rakaat shalat sunnah.

Jalan- jalan ke mall?
Dalam hal ini para remaja pasti senang. Tetapi kita harus ingat sisa waktu dari sekolah untuk menanti malam (waktu tidur) itu tidak hanya untuk jalan- jalan saja.

Ada kewajiban yang harus dijaga dan ditegakkan untuk keberhasilan, kesuksesan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, yaitu menuntut ilmu (dienullah). Karena ada kewajiban kita untuk menuntut ilmu agama maka sebagai orang Islam yang cerdas harus bisa mengurangi frekuensi jalan- jalan ke mall.

Bisa saja jalan- jalan yang menjadi tujuan pertama tetapi karena melihat- lihat barang bagus dan mewah, niat jadi berubah untuk membeli. Ingat! Boros adalah temannya setan! Firman Allah didalam QS. Al Israa’/ 17: 26 dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Adanya sekat antara orang tua dan ana. Hendaknya para orang tua Muslim berkaca dari hadits nabi SAW yang menyatakan bahwa baik dan buruknya anak ataupun mereka menjadi majusi,nasrani dan yahudi adalah tergantung dari orang tuanya. Rasulullah SAW bersabda,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تَنْتِجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

“Setiap anak yang lahir, dia terlahir atas fithrah, maka tergantung kedua orang tuanya yang menjadikan dia orang Yahudi, Nashrani, atau Majusi, seperti binatang ternak yang dilahirkan dengan sempurna, apakah kamu melihat padanya telinga yang terpotong ?”.[HR. Al-Bukhari juz 2, hal. 104]

********

Maka dari itu sebagai orang tua dan para pemuda harus berusaha menghilangkan jarak yang meyebabkan hubungan memanas, dengan menanamkan keyakinan bahwa suatu masyarakat dengan seluruh komponennya, remaja dan orang dewasa layaknya satu tubuh, jika ada yang rusak maka akan mempengaruhi seluruh tubuh.

*********

Para orang tua harus menyadari akan tanggung jawab mereka terhadap para remaja dan tetap optimis serta niat secara ikhlas dengan izin Allah melalui pembinaan yang berkesinambungan dan teratur bisa berubah menjadi manusia- manusia yang shaleh dan bermanfaat bagi sesama.

Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Berapa banyak orang sesat yang mendapatkan hidayah dari-Nya dan akhirnya menjadi pelita petunjuk dan penyeru kepada kebaikan, sehingga akhirnya menjadi kunci kebaikan bagi masyarakatnya.

Tetapi di sisi lain, para pemuda pun harus hormat kepada orangtua dan seorang anak haruslah berterima kasih kepada orang tuanya karena merupakan suatu kewajiban bagi seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.

Disamping itu manusia hendaklah berbuat baik kepada karib- kerabat, anak- anak yatim, orang- orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh, teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahaya serta dilarang berlaku sombong setelah Allah SWT memerintahkan kepada kita supaya menyembah kepada-Nya serta tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Sebagaimana yang telah diperintahkan Allah SWT melalui Qur’an Surat An Nisaa/ 4: 36

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggabanggakan diri,

Menghormati pandangan mereka dan menerima arahan- arahan mereka itulah wujud sebagai anak yang shalih dan shaliha. Sebab orang tua telah merasakan asam garam kehidupan yang belum dilewati oleh remaja.

Apabila kekuatan fisik remaja bersatu dengan kebijaksanaan orang tua,niscaya masyarakat akan merasakan kebahagiaan dengan izin Allah.

Adanya kemungkinan besar banyaknya tuntutan orang tua kepada anak tetapi orang tua tidak memberikan suri teladan yang nyata dan bermanfaat.

Contoh :
Orang tua menyuruh anak shalat awal waktu tetapi orang tua sendiri tidak shalat di awal waktu dan ada juga orang tua yang shalatnya bolong- bolong/ bahkan tidak shalat. Maka sebagai orang tua apabila menghendaki anak-anaknya menjadi shaleh/ shalehah, orang harus shaleh/ shalehah terlebih dahulu.

Berikan kepada mereka suri teladan yang nyata. Mempunyai anak shaleh merupakan investasi orang tua yang menguntungkan karena doa dari anak- anak yang  shaleh tersebut akan menjadikan orang tua bahagia di dunia dan akhirat (Insya Allah).

Sebagaimana sabda Nabi SAW:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Memanjakan anak untuk tidak mengerjakan pekerjaan- pekerjaan di rumah

Contoh:
Menyapu dan merapikan tempat tidur, mencuci dan menyetrika walaupun pakaiannya sendiri tetapi diserahkan orang lain, antar- jemput ke tempat sekolah walaupun mereka sebenarnya mampu dan berani sendiri.

Solusi:
Berikan mereka pekerjaan- pekerjaan yang bisa mereka kerjaan karena dengan memberikan pekerjaan kepadanya, mereka akan lebih mandiri dan bertanggung jawab.

Bergaul dengan orang- orang yang tidak baik. Pergaulan dengan orang- orang buruk akhlak, rusak aqidah dan jauh dari agama akan banyak membekaskan pengaruh negative pada akal, pikiran, kepribadian dan bahkan aqidah mereka.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat1.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Solusi:

Remaja Muslim harus cerdas dalam memilih teman, bergaulah hanya dengan remaja yang baik, shaleh dan cerdas agar dapat memperoleh manfaat dari kebaikan, keshalehan, dan kepandaiannya. Ia harus menimbang siapa saja yang pantas dijadikan teman dengan mencari tahu latar- belakang dan reputasi mereka.

Jika termasuk para pemuda berakhlak baik, itulah yang harus dicari dan dijadikan sahabat sejati. Kalau tidak ada,hendaknya ia waspada dan menjauhi pergaulan dengan remaja- remaja yang bermasalah.

Menurut penulis sudah banyak yang penulis sampaikan di edisi kali ini, walaupun masih ada beberapa problem bagi kita para tua dan generasi penerus kita dan tentunya ada solving yang bisa kita kerjakan. Tetapi akan lebih baik penulis lanjutkan di edisi berikutnya.

Akhirnya di edisi kali ini penulis berdoa kepada diri dan keluarga penulis khususnya dan kepada para pembaca yang insyaAllah di rahmati Allah SWT pada umumnya, mudah- mudahan kita semua dalam lindungan Allah SWT. Aamiin….

Oleh:
SUTANTO, S. Pd, M. Pd
Dosen Bahasa Inggris FIK
Universitas Muhammadiyah Ponorogo,
Ketua Pemuda Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA)
Kab. Semarang


Leave a Reply