Tanah yang Subur..

tanah-tandus

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa dalam hubungannya dengan hidayah, Rasulullah SAW mengumpamakan bahwa HATI manusia seperti tanah yang tersiram air hujan.

Beliau menjelaskan ada 3 macam tanah.

Yang pertama tanah yang subur yang mampu menyerap air dan menumbuhkan tanaman di atasnya.

Yang kedua tanah yang keras yang cekungannya mampu menahan air, tapi dirinya sendiri tidak mampu menyerapnya.

Sedang yang ketiga adalah tanah yang kesat yang tidak mampu menahan air hujan dan tidak mampu menyerapnya, sehingga air hujan hanya sekedar lewat begitu saja.

Hati yang subur, dalam menerima hidayah seperti tanah yang subur. Tanah itu menyerap air hujan secara maksimal dan menahannya sehingga bisa dimanfaatkan oleh tanam-tanaman untuk tumbuh di atasnya.

Begitulah gambaran hati orang-orang yang beriman, kelompok manusia yang memiliki kedudukan yang paling tinggi dalam pandangan Allah.

Hati mereka basah dengan tauhid, sehingga mereka getol belajar Al-Qur’an dan As-Sunnah, berusaha maksimal untuk memahaminya, meyaqininya, kemudian mengamalkannya, dan mengajarkannya kepada orang lain.

Ilmunya tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain. Orang-orang seperti inilah yang mampu menerima amanah menunaikan tugas dakwah, menyeru manusia untuk membuka hati dalam menerima hidayah Allah.

Seolah dia menyirami hati sasaran da’wahnya dengan hidayah. Menumbuhkan tauhid di hati mereka, membebaskannya dari penghambaan diri kepada yang lain selain Allah, dan menyelamatkannya dari siksa api neraka.

Di sisi lain hati yang keras tidak mampu menyerap air, sehingga tidak subur dan tidak mampu menumbuhkan tanaman di atasnya.

Namun tanah jenis ini mampu menampung air pada cekungannya, sehingga orang bisa mengambil air untuk memberi minum ternak dan menyirami tanaman.

Artinya, hatinya keras, tidak mau menerima hidayah, sehingga meskipun dia faham Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tidak mau mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Orang-orang sekitarnya mampu mengambil manfaat dari ilmu yang dimilikinya, tetapi dirinya sendiri menyia-nyiakan ilmunya. Ibarat sebuah lilin yang menyala di malam hari, nyala apinya bermanfaat menerangi sekelilingnya, tetapi dirinya sendiri habis terbakar.

Islam tidak mengajarkan sikap seperti itu, karena hidup di dunia ini sangat menentukan kehidupan yang kekal kelak di akhirat.

Manusia mendapat amanat dari Allah yang memberi hidup untuk menyelamatkan diri dan keluarganya dari siksa api neraka. [QS At-Tahrim : 6] Agar manusia terbebas dari siksa api neraka, mereka dilarang mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepada Allah. [QS Ali ‘Imraan : 102]

Yang ke tiga adalah hati yang seperti tanah lembek yang tidak mampu menyerap air dan tidak mampu menahan air. Mereka adalah orang-orang yang kafir yang tidak peduli terhadap hidayah Allah.

Telinga mereka mendengar Al-Qur’an, tetapi seolah-olah tidak mendengar hidayah. Ketika kita menyeru mereka untuk kembali ke jalan Allah, seolah kita menyeru binatang ternak.

Firman Allah Swt, “Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti”. [QS Al-Baqarah : 171]

Dan celakanya lagi, tanah yang lembek itu disamping tidak bisa menyerap dan menahan air, bahkan mendatangkan banjir atau tanah longsor akibat terguyur air tersebut dan membawa bencana kepada orang lain.

Begitu pula hati yang seperti tanah yang lembek ini, sering kali membawa celaka/bencana terhadap orang lain.
Saudaraku, mari kita tata hati kita sendiri agar menjadi hati yang seperti tanah yang subur, mampu menyerap dan menahan air agar tanaman tumbuh subur di atasnya.

Mari kita jaga agar hati kita senantiasa basah dengan hidayah, agar hati kita tidak menjadi keras (hanya mampu menahan air, tetapi tidak mampu menyerapnya) dan tidak menjadi hati yang kesat, tidak mampu menahan air dan tidak mampu menyerapnya.

~oO[ @ ]Oo~

 

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an


Leave a Reply