MTA Tumbuh Pesat di Kalimantan Barat

peresmian-mta-pontianak

BERAWAL dari kelompok pengajian di masjid Al-Muhlisin pada tahun 2009, terbentuklah kelompok pengajian yang belakangan tumbuh berkembang menjadi perwakilan MTA di Kalimantan Barat, yang berkedudukan di kota Pontianak.

“Pada saat itu ketua pengajian mengusulkan kepada MTA di Solo untuk bergabung, karena merasa satu tujuan dan visi, Kemudian melihat perkembangan anggota yang semakin banyak, pada bulan Mei 2014 dilakukanlah pembangunan gedung MTA untuk perwakilan Pontianak.” ujarnya ketika diwawancarai Tribun Pontianak. usai peresmian gedung perwakilan Pontianak, oleh Wali Kota Pontianak, Sutarmidji Selasa (23/8/2016).

Saat ini Majelis Tafsir Alquran (MTA) Perwakilan Pontianak yang beralamatkan di Jl Kesehatan, Gang Assalam, Kota Baru Pontianak, di pimpin oleh Liwono.

Dia menyebutkan, perkembangan MTA di Kalimantan Barat sangat pesat. Gedung yang dibangun terdiri dari tiga lantai, dan untuk lantai satu dan dua dengan kapasitas 1.200 jemaah ini menelan biaya lebih dari 3,5 milyar.

Dana sebesar ini diperoleh dari iuran warga MTA. Ini adalah kekuatan dalam kebersamaan. Dengan diresmikannya gedung ini, maka segera akan difungsikan untuk tempat kajian.

Sudah diagendakan setiap Sabtu dan Minggu pagi ada kajian rutin serta setiap malam juga akan diadakan kajian rutin yang berlangsung secara terus menerus.

Saat ini MTA di Kalimantan Barat mempunyai empat perwakilan yang sudah terbentuk yaitu, Kubu Raya, Sintang, Sambas, Ketapang dan Pontianak Utara. MTA juga punya binaan di beberapa daerah yang meliputi Kapuas Hulu, Singkawang, Batu Ampar, dan Sambora.

Keberhasilan MTA (Majlis Tafsir Al-Qur’an) dalam mengembangkan sayap dakwahnya merupakan wujud dari kemajuan pola pikir ummat Islam. Setelah berabad-abad ummat Islam di Nusantara ini berada dalam belenggu fanatisme figur (ketokohan), maka dengan kehadiran MTA perlahan namun pasti akan menjadikan ummat cerdas dalam berpikir dan bertindak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.

Dengan kepahamannya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dengan sendirinya akan menjadikannya sebagai ummat yang tidak mudah dibodohi oleh hal-hal yang berbau menyesatkan, apalagi dipengaruhi oleh hal-hal yang berbau kepentingan.

Belenggu kebodohan akibat fanatisme dan “taqlit buta” yang ada di masyarakatpun semakin terkikis. Doktrin kepada masyarakat bahwasanya Al-Qu’ran adalah racun yang tidak boleh dikaji melainkan oleh para kyai dan kaum alim ulama hilang dengan sendirinya.

Ummat berbondong-bondong belajar mengkaji kandungan AlQur’an dengan dipandu oleh ustadz dan ustadzah yang mumpuni. Banyak testimoni dari masyarakat yang terbuka mata hatinya setelah mendengarkan taushiyah yang mengarahkan kepada Qur’an dan Sunnah. (Roe).


Leave a Reply