Mencintai Allah, Rasul dan Sesama Melalui Ibadah Qurban

qurban

Setiap tahun umat Islam merayakan Idul Adha yang diiringi dengan ibadah qurban. Sebelum ibadah qurban umat Islam disyariatkan untuk mendirikan shalat, baru kemudian Allah mensyariatkan umat Islam untuk melaksanakan ibadah qurban.

Shalat dan juga ibadah qurban ini disyariatkan Allah SWT kepada umat Islam karena Dia telah menganugerahi mereka nikmat yang banyak, yang mana syariat ini sudah dijelaskan Allah SWT yaitu;

“Sesungguhnya Kami telah memberi kamu nikmat yang banyak. Karena itu, dirikan shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah” [QS. Al Kautsar: 1 – 2].

Shalat memiliki kedudukan paling tinggi daripada ibadah- ibadah yang lainnya karena shalat merupakan tiangnya dari agama (Islam). Sebagaimana sabda nabi SAW yaitu; “Shalat adalah tiangnya agama, maka barangsiapa yang meninggalkannya, sesungguhnya telah rusaklah agamanya” [HR. AlGhazali dalam Al-Ihyaa’].

Disamping shalat sebagai tiangnya agama, shalat merupakan sebaik- baik amal seorang Muslim, dan shalat merupakan amal pertama kali dihisab pada hari kiamat, untuk itu shalat haruslah diutamakan daripada yang lain. Nabi SAW bersabda:

“Pada hari qiyamat yang pertama-tama dihisab amal seseorang adalah shalatnya. Kalau shalatnya baik, maka baik pulalah semua amal-amalnya yang lain. Bila shalatnya rusak, maka rusak pulalah seluruh amal-amal lainnya” [HR. Thabrani dalam Al-Ausath].

Sebagai orang mukmin [utamanya laki- laki] harus mampu mendirikan shalat wajib berjama’ah di masjid, sebagaimana yang telah Allah perintahkan melalui QS. Al Baqarah/ 2: 43 yaitu; “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’[44]”.

[44]. Yang dimaksud ialah: shalat berjama’ah dan dapat pula diartikan: Tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersamasama orang-orang yang tunduk. Tentunya shalat yang tanpa mengabaikan rukun- rukun shalat berjama’ah, diantaranya meluruskan barisan, yang mana energy masjid merupakan energy kasih sayang yang akan Allah limpahkan melalui doanya malaikat kepada orang- orang yang bisa dan mau memelihara shalat wajib berjama’ah di masjid [HR. Bukhari].

Tetapi sebaliknya jika kita tidak meluruskan barisan shalat maka Allah akan menancapkan rasa permusuhan diantara orang muslim, nabi SAW bersabda: “Sebaiknya engkau mau meluruskan barisanmu dalam shalat atau Allah akan menancapkan rasa permusuhan di antara engkau” [HR. Muslim].

Dari hadits- hadits tersebut diatas bisa kita ambil pelajaran bahwa orangorang muslim yang memelihara shalat berjama’ah harus bisa memancarkan aura kasih sayang diantara sesama muslim dan bukanlah permusuhan.

Dan bisa disimpulkan pula bahwa orang- orang yang mengaku Islam tetapi masih suka bermusuhan dengan sesama orang Islam berarti Islamnya perlu dipertanyakan, dan mereka perlu dibina supaya bisa membawa kemaslahatan umat.

Allah SWT mensyariatkan kepada umat Islam untuk menunaikan ibadah shalat dan qurban karena Allah telah memberi nikmat yang banyak, yang mana tidak ada manusia yang bisa menghitung nikmat yang diberikan Allah kepada manusia [QS. Ibrahim/ 14: 34].

Setelah shalat Allah mensyariatkan kepada umat Islam untuk berqurban. Hakikat berqurban pada hari raya qurban tidak hanya sebatas membeli seekor hewan lalu memotongnya untuk dijadikan qurban. Tetapi lebih dari itu, berqurban sarat dengan nilai-nilai ajaran sosial yang ditekankan oleh Islam pada umatnya. Rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan persaudaraan merupakan inti dari pelaksanaan ibadah qurban.

Meskipun tidak sedikit umat Islam yang hanya menganggap hari raya qurban sebagai ritual keagamaan saja. Padahal di balik ritual tersebut ada banyak hal yang sering tidak kita sadari. Berqurban merupakan suatu ungkapan rasa kecintaan seorang mukmin kepada Allah.

Ia melaksanakan syariat berqurban dikarenakan rasa syukurnya atas segala nikmat yang diberikan Allah yang Maha memberi rizki. Dan barangsiapa yang bersyukur atas nikmat Allah maka Allah akan menambah nikmat kepadanya [QS. Ibrahim/ 14: 7]. Dalam konteks ini berarti seorang mukmin telah melakukan hubungan vertikal terkait dengan pelaksanaan ibadah qurban yang ia lakukan.

Melalui ibadah qurban, Islam mencoba untuk menyentuh ranahranah sosial yang sering dikesampingkan atau tidak tersentuh secara langsung oleh jenis ibadah yang lain. Semangat qurban dapat kita jadikan modal dalam usaha menyelesaikan berbagai macam kesulitan yang sedang kita hadapi.

Dan momen Idul Adha harus dapat dimanfaatkan secara optimal dalam usaha menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya sebuah kesatuan dan semangat pengorbanan untuk usaha kemajuan bersama, sebuah semangat sosial yang bisa kembali mengingatkan umat Islam untuk selalu menjadi bagian dari makhluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri dan lepas sepenuhnya dari orang lain.

Seharusnya ibadah tersebut tak lagi dimaknai hanya sebagai proses ritual saja, tetapi juga diletakkan dalam konteks peneguhan nilai-nilai kemanusiaan dan spirit keadilan, sebagaimana pesan tekstual utama agama tidak hanya habluminallah tetapi juga habluminannas.

Idul Adha merupakan sebuah refleksi atas catatan sejarah perjalanan kebajikan manusia pada masa lampau, yaitu untuk mengenang perjuangan monoteistik dan humanistik yang ditorehkan nabi Ibrahim kepada kita.

Idul Adha juga bermakna keteladanan nabi Ibrahim yang mampu mentransformasikan pesan keagamaan ke aksi nyata perjuangan kemanusi aan. Dalam konteks ini, mimpi nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail, merupakan sebuah ujian Allah, sekaligus perjuangan maha berat bagi seorang nabi yang diperintah oleh Tuhannya melalui malaikat Jibril untuk mengurbankan anaknya. Peristiwa itu harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang menunjukkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepasrahan seorang Ibrahim pada titah sang pencipta.

Dengan menunaikan ibadah qurban dapat berarti kita sebagai umat Islam adalah umat yang mencintai Allah, rasul dan juga cinta sesama melalui pembagian daging qurban.

Dengan menunaikan ibadah qurban dan membagi-bagikan dagingnya kepada faqir miskin dan masyarakat sekitar akan dapat saling mengenal dan terjalin hubungan yang akrab dan mesra sesama manusia dalam kehidupannya. Allah SWT berfirman, yang artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsabangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal [QS. Al-Hujurat/ 49: 13].

Demikian juga dengan kita menunaikan ibadah qurban, bukanlah daging qurban itu yang akan sampai dan mendapat balasan dari Allah, tetapi apa yang mendorong manusia menyembelih binatang qurban itulah yang akan mendapat perhatian dari Allah, sebagaimana Allah berfirman;

“Daging-daging unta itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridlaan) Allah dan tidak pula darahnya, tetapi taqwa dari pada kamulah yang dapat mencapainya” [QS. AlHajj: 37].

Semoga Allah SWT menjadikan hari raya qurban ini sebagai titik permulaan bagi kita semua untuk dapat melakukan perubahan dan menjadikan hidup ini jauh lebih bermakna dari sebelumnya. Aamiin….(*)

Oleh;
Sutanto, S. Pd., M. Pd
Dosen Bahasa Inggris FIK
Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Ketua Pemuda Majelis Tafsir Al Qur’an (MTA) Perwakilan
Kab. Semarang


Leave a Reply