Shalat BerJamaah Yuk..

ayo-shalat-jamaah

SEBAGAIMANA sebuah bangunan akan berdiri kokoh jika tiang dari bangunan tersebut kuat lagi kokoh, sebaliknya jika tiang dari bangunan tersebut tidak kuat dan juga tidak kokoh maka dipastikan bangunan tersebut akan cepat roboh, bahkan bisa roboh sebelum dipakai.

Begitu juga sebagai seorang yang beragama (Islam) jika tiangnya agama tidak kuat dan juga tidak kokoh maka agama (Islam) yang menjadi statusnya akan cepat roboh dari raganya.

Apalah artinya jasmani yang kuat, hebat dan popular di seluruh jagad raya ini tetapi tidak dihiasi dengan agama yang lurus (Islam) dan akhlaq yang mulia? Dalam agama Islam, shalat memiliki kedudukan paling tinggi daripada ibadah-ibadah yang lainnya karena shalat merupakan tiangnya dari agama (Islam).

Sebagaimana sabda nabi SAW yaitu;
Shalat adalah tiangnya agama, maka barangsiapa yang meninggalkannya, sesungguhnya telah rusaklah agamanya.[HR. Al-Ghazali dalam Al-Ihyaa’].

Untuk urusan dunia, manusia selalu berusaha dan mengerjakan dengan sungguh-sungguh terhadap apa yang menjadi kebutuhannya karena berharap mendapatkan keberhasilan dan keberuntungan.

Sebagai contoh, seorang siswa/ mahasiswa akan belajar dan mengerjakan soal ujian dengan sungguh- sungguh sesuai dengan urutan jadwal yang telah ditetapkan. Misalnya di hari pertama ujian Bahasa Inggris, pastilah ia belajar dan mengerjakan soal- soal Bahasa Inggris terlebih dahulu karena jika ia belajar dan mengerjakan mata pelajaran lain (Bahasa Jawa misalnya, yang seharusnya di hari terakhir, pastilah ia mendapatkan hasil yang sia- sia). Benar?

Shalat adalah sebaik- baik amal seorang Muslim, dan shalat merupakan amal pertama kali dihisab pada hari kiamat, untuk itu shalat haruslah diutamakan daripada yang lain.

Nabi SAW bersabda:
Pada hari qiyamat yang pertama-tama dihisab amal seseorang adalah shalatnya. Kalau shalatnya baik, maka baik pulalah semua amal-amalnya yang lain. Bila shalatnya rusak, maka rusak pulalah seluruh amal-amal lainnya.[HR. Thabrani dalam Al-Ausath].

Sebagai orang mukmin (utamanya laki- laki) harus bisa dan mau shalat wajib berjama’ah di masjid (Shalat Berjama’ah Yuk) tanpa mengabaikan rukun-rukun shalat berjama’ah diantaranya meluruskan barisan, yang mana energi masjid merupakan energi kasih sayang yang akan Allah limpahkan melalui doanya malaikat kepada orang- orang yang bisa dan mau memelihara shalat wajib berjama’ah di masjid (HR. Bukhari).

Tetapi sebaliknya jika kita tidak meluruskan barisan shalat maka Allah akan menancapkan rasa permusuhan diantara orang muslim, nabi SAW bersabda:

“Sebaiknya engkau mau meluruskan barisanmu dalam shalat atau Allah akan menancapkan rasa permusuhan di antara engkau” (HR. Muslim).

Sehingga bisa kita ambil pelajaran bahwa orang-orang muslim yang memelihara shalat berjama’ah harus bisa memancarkan aura kasih sayang diantara sesama muslim dan bukanlah permusuhan.

Untuk itu sebagai orang tua hendaknya menjadi teladan bagi anak- anaknya dan juga takut meninggalkan generasi yang lemah, lemah dalam imannya.Dari hari ke hari keresahan kita meningkat, itu disebabkan karena ikatan iman di hati keluarga dan juga masyarakat kita semakin pudar.

Tidak sedikit para orang tua yang mulai mencemaskan akhlaq dan mutu kepribadian anak-anaknya. Anak-anak pada jaman sekarang ini kian lengah terhadap ajaran agama, dan semakin dekat kepada gaya hidup hedonisme dan santaisme sehingga menyebabkan mereka mudah putus asa disaat berhadapan dengan tantangan hidup.

Banyak lulusan sarjana dihasilkan oleh berbagai perguruan tinggi, namun tetap saja mayoritas dari mereka adalah para penganggur yang sukses. Jangan berbuat banyak untuk kemaslahatan lingkungan sosialnya, untuk menolong dirinya sendiripun mereka tak mampu.

Kenyataan-kenyataan tersebut telah Allah jelaskan di dalam firman- Nya melalui QS.An Nisa/ 4: 9 yang artinya
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” .

Dari QS. An Nisa/ 4: 9 tersebut tegas bahwa jika kita takut/ cemas terhadap nasib generasi penerus kita (yang semakin hari semakin mengalami degradasi akhlak dan kepribadian), maka hal pertama yang kita kerjakan adalah takut kepada Allah dan benar- benar bertaqwa kepada- Nya. Maka aqidah dan ibadah kita harus kita asah dan pelihara sehingga iman kita bisa kuat.

Kemudian di dalam QS. Maryam/ 19: 59 Allah menjelaskan generasi yang lemah adalah generasi yang menyia- nyiakan shalat dan memperturutlan hawa nafsunya, firman- Nya yang artinya;
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.

Berikut penulis sampaikan manfaat dari shalat berjama’ah berdasarkan tuntunan nabi SAW yang penulis unduh dari http://firmanwahyuit.blogspot.com/2014/11:

Seorang professor fisika di Amerika Serikat telah membuat satu kajian tentang kelebihan shalat berjamaah yang disyariatkan dalam Islam. Katanya tubuh kita memiliki dua muatan listrik yaitu muatan positif dan muatan negatif.

Dalam aktivitas harian kita apakah bekerja, beribadah atau beristirahat, sudah tentu banyak energi digunakan. Dalam proses pembakaran tenaga, banyak terjadi pertukaran cas positif dan cas negatif, yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam tubuh kita.

Ketidakseimbangan cas dalam badan menyebabkan kita merasa letih dan lesu setelah menjalankan aktivitas seharian. Jadi cas-cas ini perlu diseimbangkan kembali untuk mengembalikan kesegaran tubuh ke tingkat normal.

Terkait dengan shalat berjamaah, timbul persoalan di pikiran professor ini mengapa Islam mensyariatkan sholat berjamaah dan mengapa shalat lima waktu yang didirikan orang Islam memiliki jumlah rakaat yang tidak sama. Hasil penelitiannya menemukan bilangan rakaat yang berbeda dalam shalat kita bertindak menyeimbangkan cas-cas dalam badan kita.

Saat kita shalat berjamaah, kita disuruh meluruskan shaf, bahu bertemu bahu dan bersentuhan tapak kaki. Tindakan-tindakan yang dianjurkan saat shalat berjamaah itu memiliki berbagai kelebihan. Penelitian ilmiah menemukan sentuhan yang terjadi antara tubuh kita dengan tubuh peserta lain yang berada di kiri dan kanan kita akan menstabilkan kembali muatanmuatan yang dibutuhkan tubuh.

Ia terjadi ketika pengisian yang berlebihan – apakah negatif atau positif akan dikeluarkan, sementara yang berkurang akan ditarik ke dalam kita. Semakin lama pergeseran ini terjadi, semakin seimbang cas dalam tubuh kita. Menurut beliau lagi, setiap kali kita bangun dari tidur, badan kita akan merasa segar dan sehat setelah beristirahat beberapa jam. Ketika ini tubuh kita memiliki muatan-muatan positif dan negatif yang hampir seimbang.

Jadi, kita hanya membutuhkan sedikit lagi proses pertukaran cas agar keseimbangan penuh dapat dicapai. Sebab itu, shalat Subuh didirikan 2 rakaat.

Selanjutnya, setelah sehari kita bekerja berat dan memeras otak semua cas ini kembali tidak stabil akibat kehilangan cas lebih banyak dari tubuh. Karena itu, kita membutuhkan lebih banyak pertukaran cas. Shalat jamaah yang disyariatkan Islam berperan untuk memulihkan keseimbangan cas-cas tersebut.

Sebab itu, shalat Dzuhur didirikan 4 rakaat untuk memberi ruang yang lebih kepada proses pertukaran cas dakam tubuh. Situasi yang sama juga terjadi di sebelah petang. Banyak energi dikeluarkan ketika menghubungkan kembali tugas.

Ini menyebabkan sekali lagi kita kehilangan muatan yang banyak. Seperti shalat Dzuhur, 4 rakaat shalat Ashar yang dikerjakan akan memberikan ruang kepada proses pertukaran cas dengan lebih lama.

Biasanya, setelah waktu Ashar dan pulang dari kerja kita tidak lagi melakukan aktivitas yang banyak menggunakan energi. Waktu yang ditetapkan pula tidak begitu lama.

Maka, shalat Maghrib hanya dikerjakan sebanyak 3 rakaat adalah lebih sesuai dengan penggunaan energi yang kurang dibandingkan 2 waktu sebelumnya. Timbul pertanyaan di pikiran professor itu tentang sholat Isya yang mengandung 4 rakaat.

Logiknya, pada waktu malam kita tidak banyak melakukan aktivitas dan sudah tentu tidak membutuhkan proses pertukaran cas yang banyak. Setelah penelitian lebih lanjut, ditemukan ada keistimewaan mengapa Allah mensyariatkan 4 rakaat dalam shalat Isya. Telah kita ketahui, umat Islam sangat dianjurkan untuk tidur awal agar mampu bangun menunaikan tahajjud di sepertiga malam.

Singkatnya, shalat isya sebanyak 4 rakaat itu akan menstabilkan cas dalam badan dan memberikan energi untuk kita bangun malam (qiamullail). Dalam penelitiannya, professor ini memberikan Islam adalah satu agama yang lengkap dan khusus.

Segala amalan dan perintah Allah Taala itu memiliki hikmah yang tersirat untuk kebaikan umat Islam itu sendiri.Ia merasakan betapa kerdilnya diri dan betapa hebatnya Pencipta alam ini.

Akhirnya, dengan hidayah Allah beliau memeluk agama Islam. Sungguh firman Allah dan tuntunan nabi SAW benar adanya, salah satunya perintah untuk menunaikan shalat wajib berjama’ah (utamanya laki- laki mukmin).

Sehingga shalat wajib berjama’ah merupakan salah satu indikator penting setiap individu Muslim dalam menjalankan aktifitas kehidupan yang menyelamatkannya.

Melalui shalat inilah seorang Muslim memiliki alat kontrol untuk senantiasa membentuk perilaku yang sejalan dengan nilai- nilai Islam, sehingga tujuan shalat yakni menjauhi perbuatan- perbuatan keji dan munkar (QS. Al Ankabut/ 29: 45) akan tercapai.

Nilai-nilai Islam sendiri akan mampu terinternalisasi pada diri seorang Muslim apabila ditopang oleh Al Qur’an dan Sunnah nabi SAW. Ketika seorang Muslim menerapkan nilai- nilai Islam yang terkandung dalam Al Qur’an dan Sunnah.

Kita harus benar- benar yakin bahwa petunjuk yang membawa keselamatan dan jalan yang terang benderang adalah Al Qur’an dan bukan yang lain.

Allah SWT berfirman di dalam QS Al Maaidah/ 5: 16 yaitu
“dengan kitab Al Qur’an itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaanNya ke jalan keselamatan, dan (dengan Al Qur’an itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus” .

Allah di dalam QS Ali Imran/ 3: 103 juga berfirman:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayatayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” .

Ali bin Abu Thalib berkata: Tidak dapat dicapai kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada (terwujud) suatu kekuatan kecuali dengan persatuan, dan tidak (terwujud) suatu kesatuan kecuali dengan budi pekerti yang luhur (akhlak yang mulia), dan akhlak yang mulia tidak akan (terwujud) kecuali dengan bimbingan Dien (agama). Dan bukan dinamakan Dien (agama) kecuali yang cocok dengan Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasulullah SAW.

Dan nabi SAW bersabda:

“Taroktufiikum amroini lan tadlillu maamasaktum bihimaa kitaaballahu wa sunatu rosulillah”:  Aku tinggalkan dua perkara kepadamu, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya, maka kamu tidak tersesat yaitu kitab Allah (Qur’an) dan sunnah Rasul (HR. Malik).

Dari uraian- uraian tersebut diatas kita bisa mengambil pelajaran bahwa untuk mempererat tali persaudaraan antara sesama muslim diantaranya dengan shalat wajib berjama’ah di masjid (Menegakkan Shalat Berjama’ah Yuk!), dengan tidak melalaikan rukun-rukun shalat berjama’ah yakni dengan cara meluruskan dan merapatkan shaf- shaf akan menyelamatkan kehidupan kita di dunia ini dan juga di akhirat kelak.

Untuk itu sebagai orang tua yang baik dan mengharapkan keturunannya menjadi generasi yang baik dan handal, mari kita sebagai orang tua mengajak anak2 kita untuk Menegakkan SBY (Menegakkan Shalat Berjamaah Yuk).

Semoga melalui tulisan ini bisa menambah khasanah dienullah dan keimanan kita, khususnya kepada si penulis dan umumnya kepada kaum Muslim. Aamien …. (*)

 

Oleh :

SUTANTO, S. Pd, M. Pd
Dosen Bahasa Inggris FIK Universitas Muhammadiyah Ponorogo,
Ketua Pemuda Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA)
Kab. Semarang

 


Leave a Reply