Baik Buruk Suatu Bangsa Ditentukan oleh Akhlaknya

pegang-teguh-alquran

(Surakarta, 1 Syawwal 1437H) Kita sebagai bangsa yang besar dan umat Islam terbesar didunia tetapi keadaannya sangat memprihatinkan. Disana sini terdapat kecurangan, pengkhianatan serta pertikaian dan sebagainya. Kalau kita cermati sebab pokoknya adalah karena krisis akhlaq.

Adapun sebabnya krisis akhlaq, karena jauhnya dari tuntunan Al-Qur’an dalam kehidupan. Oleh karena itu untuk mengatasi keadaan yang sangat memprihatinkan ini harus kita perbaiki akhlaq bangsa ini, karena ini merupakan hal yang sangat mendasar, sebagaimana dikatakan oleh seorang pujangga Islam yang sangat terkenal Asy-Syauqi :

“Sesungguhnya bangsa itu tergantung akhlaqnya,” Apabila rusak akhlaqnya, maka rusaklah bangsa itu.

Rasulullah SAW dalam sabdanya :
Kejahatan dan perbuatan jahat, keduanya sama sekali bukan ajaran Islam. Dan orang yang paling baik Islamnya ialah yang paling baik akhlaqnya. [HR. Tirmidzi]

Dampak dari krisis akhlaq, timbul berbagai macam kejahatan dan kerusakan di berbagai bidang sebagaimana yang kita rasakan sekarang ini. Padahal kita seluruh bangsa Indonesia yang sudah merdeka selama 71 tahun, tentunya berharap meni’mati kemerdekaan ini dengan nyaman, aman, bahagia dan sejahtera setelah mengalami penderitaan akibat penjajahan oleh bangsa asing selama 350 tahun.

Namun apa yang kita rasakan ? Astaghfirullooh, keadaaan bangsa ini semakin hari tidak menunjukkan semakin baik, tetapi kian memprihatinkan, di mana-mana terjadi korupsi, peredaran narkoba sulit dibendung, pelacuran menjadi hal biasa, penyakit HIV/ AIDS semakin mengancam, berita bayi tidak berdosa jadi korban pembunuhan orang tuanya karena hasil hubungan gelap/zina (seks bebas) sering kita dengar dan kita lihat di layar kaca, masih diperparah dengan pelecehan seksual pada anak di bawah umur dilakukan beramai-ramai, kemudian diakhiri dengan pembunuhan, dan adanya gerakan sekelompok manusia yang mendesak dan menuntut agar LGBT dilegalkan. Na’uudzu billaahi min dzaalik.

shalat-ied-manahan-1437h

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah,
kesepakatan perekat bangsa yang ditandai dengan Sumpah Pemuda, sudah mulai dikhianati. Kita lihat sering terjadi perkelahian sesama bangsa, antar mahasiswa, pelajar, suku, kampung, rakyat dengan aparat, bahkan lebih memalukan lagi perkelahian sesama aparat.

Ukhuwah sesama muslimpun sudah rapuh, mendekati kehancuran. Hanya karena beda faham dianggapnya sebagai lawan yang harus dibasmi, diusir, tidak boleh hidup di kampungnya/daerahnya, padahal mereka tinggal di rumah dan kampung halamannya sendiri, tetapi harus pergi karena perbedaan tersebut.

Peraturan dan perundang-undangan negara yang resmi sudah tidak digubris lagi, seolah dia mempunyai wilayah dalam negeri ini yang diatur sendiri. Sayangnya aparat penegak hukum sering bertindak tidak sesuai dengan hukum yang berlaku yang sah di negeri ini.

Setiap tanggal 28 Oktober Sumpah Pemuda selalu diperingati, dan setiap tanggal 1 Oktober kesaktian Pancasila juga selalu diperingati oleh bangsa ini, tetapi peringatan-peringatan tersebut seolah hanya berhenti sebagai peringatan saja, dan hanya seremonial belaka, sudah tidak menyentuh hati nurani.

Katanya hukum sebagai Panglima, ternyata hanya jargon belaka, bahkan hukum seolah-olah dilecehkan, karena diantara penegak hukum sendiri tidak menjaga kehormatan jati dirinya. Para elit yang dijadikan figur pimpinan sudah kehilangan kepercayaan di mata rakyatnya, karena terasa sudah tidak sempat mengurusi rakyat, sebab dirinya sendiri sibuk terkena urusan.

Masih sangat banyak ummat Islam di negeri ini cara beragamanya hanya taqlid buta kepada orang yang dianggap sebaai Tokoh Agama, tidak mau peduli lagi mendalami kitab suci yang menjadi sumber ajaran agamanya yang merupakan warisan Rasulullah SAW kepada ummatnya sebagai jaminan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat kelak, yakni Al-Qur’an dan sunnah Nabi-Nya.

Keadaan yang sedemikian rupa, tentu tidak menyenangkan bagi kita semua sebagai anak bangsa. Oleh karena itu belum saatnyakah ummat Islam terbesar di dunia ini mau dipimpin dengan Al-Qur’an ?

shalat-ied-manahan-1437h-2

Mari kita ingat kembali dan kita renungkan dengan suara hati yang paling dalam seruan Bapak Presiden kita yang ke-6 (SBY) ketika itu, yang sangat mendasar dan sangat tepat dalam situasi seperti ini.

Beliau menyerukan, “Berbagai pergeseran nilai norma dan perilaku kemanusiaan menjadi bahan introspeksi ummat untuk kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah. Ummat Islam berkewajiban meningkatkan kwalitas pemahaman, perenungan dan pembelajaran dari Kitab Suci Al-Qur’an, baik yang berupa ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah. Ummat Islam juga harus terus menggelorakan semangat dalam mempelajari nilai-nilai keteladanan yang tertuang dalam hadits-hadits Nabi, serta mengaktualisasikan dalam kehidupan seharihari. Al-Qur’an dan hadits harus dijadikan rujukan utama baik di lingkungan keluarga, lingkungan sosial maupun pada tataran kehidupan berbangsa dan bernegara”. (Republika, Kamis 30/6 2011).

Pergeseran nilai, norma serta perilaku kemanusiaan benar-benar sudah menyimpang jauh dari tuntunan Al-Qur’an serta Sunnah Rasulullah SAW. Kekayaan dan kedudukan menjadi tolok ukur kemuliaan dan kehormatan seseorang.

Maka siapa yang mempunyai harta yang berlimpah atau mempunyai kedudukan di tengah-tengah masyarakatnya, dirinya merasa menempati derajat yang tinggi dan terhormat.

Oleh karena itu manusia berusaha dengan berbagai cara untuk meraup harta kekayaan yang sebanyak mungkin tanpa memperhatikan norma agama, halal maupun haram.

Demikian pula masalah kedudukan, manusia juga menempuh dengan berbagai cara untuk memperoleh kedudukan di tengah-tengah masyarakatnya, sekalipun dengan jalan suap-menyuap, bahkan sampai hati memfitnah, membunuh orang yang dianggap sebagai pesaingnya dalam meraih kedudukan tersebut.

Padahal harta dan kedudukan, semua itu adalah hanya kesenangan yang menipu. [QS. Al-Hadiid : 20]

Sedangkan kemuliaan menurut Al-Qur’an adalah terletak pada ketaqwaannya kepada Allah. [QS. Al-Hujuraat : 13],

Hal yang demikian itu malah diabaikan. Karena nilai, norma serta perilaku kemanusiaan sudah bergeser dari nilai kebenaran, maka menjadi manusia yang rakus terhadap dunia dan kedudukan.

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda

“Kerusakan agama seseorang yang disebabkan oleh sifat thama’ dan rakus terhadap harta dan kedudukan lebih parah daripada kerusakan yang ditimbulkan dari dua serigala lapar yang dilepaskan dalam kawanan kambing.” [HR. Tirmidzi]

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah,
kalau dengan kerakusannya dapat mencapai apa yang diinginkan, manusia semacam itu tentu menjadi manusia-manusia yang sombong, meremehkan orangorang yang lemah dan rakyat kecil. Padahal

Rasulullah SAW bersabda :
Hanyasanya Allah akan menolong ummat ini lantaran orang-orang lemahnya dengan doa mereka, shalat mereka dan keikhlashan mereka. [HR. Nasaiy]

shalat-ied-manahan-1437h-3

Sedangkan orang-orang yang hidup mewah dan punya kedudukan karena diperoleh dengan kerakusannya, mereka mengingkari peringatan dan petunjuk-petunjuk Allah dengan sombongnya mengatakan : kami lebih banyak memiliki harta dan anak-anak (anak buah) dan kami sekali-kali tidak akan diadzab. [QS. Saba’ : 35]

Kalau orang-orang yang hidup mewah (orang-orang kaya) sudah berlaku sombong di suatu negeri, perhatikanlah ancaman Allah :

Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah (para pejabat) di negeri itu (supaya mentha›ati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah selayaknya berlaku terhadapnya ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. [QS. Al-Israa’ : 16]

Melihat kondisi yang demikian, maka sungguh sangat tepat dan bijak sekali seruan supaya kita ummat Islam meningkatkan kwalitas pemahaman, perenungan dan pembelajaran Kitab Suci Al-Qur’an, ser ta menggelorakan semangat dalam mempelajari nilai-nilai keteladanan Rasulullah, kemudian mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian pula Bapak Presiden kita yang sekarang, Bapak Ir. Joko Widodo (Jokowi), dalam peringatan Nuzulul Qur›an 1437 H tingkat Nasional, Selasa 21 Juni 2016 di Istana Negara. Beliau mengatakan,

“Kita perlu tuntunan Al-Qur›an untuk menata bangsa, Bangsa Indonesia bisa lebih maju dan sejahtera apabila ummat Islam menjalankan ajaran Al-Qur›an. Sekarang kita perlu tuntunan AlQur’an untuk menata kehidupan bangsa Indonesia agar lebih maju, lebih toleran dan bebas dari kemiskinan”. [metroTV news.com Jakarta]

Seruan Bapak Presiden itu sangat mulia dan sangat mendasar, tidak bisa ditunda-tunda lagi, melihat kondisi negara yang serba dlarurat dalam berbagai kejahatan ini.

Memang hanya dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah jalan atau cara untuk mengatasi semua itu.

Namun anehnya, ada sekelompok manusia yang mengaku beragama Islam, menentang keras seruan Bapak Presiden tersebut. Bapak Presiden mengatakan, “Kita perlu tuntunan Al-Qur’an untuk menata kehidupan bangsa ini agar lebih maju”,

Tetapi sekelompok manusia tersebut, baru Al-Qur’an dikaji dan dipelajari saja sudah tidak suka, kemudian didemo, diusir, dibubarkan dan sampai dianiaya. Aparat keamanan harus mewaspadai orang yang semacam ini, demi suksesnya seruan Bapak Presiden tersebut dalam menata bangsa ini, jangan malah sebaliknya !.

Oleh karena itu mari kita sambut dengan segera dan serius seruan tersebut, karena hanya dengan mengikuti Al-Qur›an dan As-Sunnah bangsa ini akan selamat dan maju. Perhatikan sabda Rasulullah SAW :

Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda,

“Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya”. [HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ juz 2, hal. 899].

Beredarlah kamu mengikuti Al-Qur›an ke mana saja Al-Qur’an beredar. [HR. Hakim]

Allah SWT menegaskan :

Dan bahwa (Al-Qur’an) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan selain Al-Qur’an akan menyesatkan kamu dari jalan yang lurus. [QS. Al-An›aam : 153]

Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari qiyamat dan banyak mengingat Allah. [QS. Al-Ahzaab : 21]

Dengan demikian seorang muslim di dalam beragama harus benar-benar mengikuti petunjuk Allah dan Rasulullah SAW, tidak boleh taqlid buta kepada siapapun. Oleh karena itu kita harus meningkatkan pemahaman terhadap Al-Qur›an dan sunnah Rasulullah SAW sebagai rujukan dalam aktivitas kehidupan kita sehari-hari.

shalat-ied-manahan

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah,
Rasulullah SAW dalam membina ukhuwah di kalangan para shahabatnya dengan menanamkan rasa kasih sayang dan tolong-menolong satu dengan yang lain. Mari kita perhatikan nasihat-nasihat beliau :

Tidak beriman seseorang diantara kalian sehingga mencintai saudaranya seperti cintanya pada dirinya sendiri. [HR. Bukhari dan Muslim]

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak boleh ia menganiayanya, tidak boleh membiarkannya (tidak tolong-menolong), tidak boleh menghinanya. Taqwa itu di sini (beliau sambil menunjuk ke dadanya), beliau berbuat demikian tiga kali. Seseorang cukup menjadi jahat karena dia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap seorang muslim terhadap muslim lainnya adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. [HR. Muslim juz 4, hal. 1986]

Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,

“Demi Tuhan yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, kalian tidak masuk surga sehingga kalian beriman dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling berkasih-sayang. Maukah aku tunjukkan kepada kalian pada suatu perkara apabila kalian mengamalkannya kalian akan saling berkasih sayang ? Tebarkanlah salam diantara kalian !”. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 156, no. 2829, hadits ini hasan shahih]

Beliau juga menjelaskan bahwa persaudaraan sesama muslim itu bagaikan satu tubuh, kalau ada sebagian anggota tubuh yang sakit, seluruh tubuh ikut merasakan sakit, sampai terasa demam dan tidak bisa tidur. Begitu indah dan mulianya persaudaraan sesama muslim yang ditanamkan dan dibangun oleh Rasulullah SAW.

Coba kita renungkan kehidupan sesama muslim sekarang, masih adakah yang memperhatikan nasihat-nasihat yang demikian itu ?

Apakah mencintai Rasulullah cukup dengan membaca shalawat ketika nama beliau disebut, tanpa memperhatikan nasihat-nasihatnya ?.

Kasih sayang sesama muslim rasanya sudah tidak ada lagi, yang tampak rasa kedengkian dan kebencian. Hanya karena beda faham dan beda golongan sampai hati menghina, meremehkan, melecehkan, memfitnah, bahkan sampai melakukan penganiayaan dan menghalalkan darahnya kepada saudaranya sesama muslim.

Yang menjadi kebanggaan bukan lagi karena Islamnya, tetapi bergeser kepada kebanggaan terhadap golongannya. Kalau sudah demikian keadaannya, tentu sangat membahayakan, karena tidak disadari mereka terjatuh ke dalam ashobiyah, keyaqinan yang sangat besar dosanya.

…..dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [QS. Ar-Ruum : 31-32]

Dan sungguh (agama islam) inilah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhamu, maka bertaqwalah kepada-Ku. Kemudian mereka terpecahbelah urusan (agama)nya menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka masingmasing. [QS. Al-Mu’min : 52-53]

Kalau ummat Islam sudah tidak bangga dengan Islamnya, tetapi bangga dengan golongannya, maka persaudaraan sesama muslim yang dikatakan oleh Rasulullah SAW seperti satu tubuh, kalau sebagian anggota tubuh sakit seluruh tubuh ikut merasakannya, sesama muslim tidak boleh berbuat dhalim, hendaklah saling tolong-menolong, haram darahnya, haram kehormatannya dan haram hartanya dan saling kasih sayang, maka itu semua pasti sudah tidak mungkin bisa terwujud, yang terjadi justru sebaliknya.

Kalau persaudaraan hanya diikat oleh golongan/partai, tentu kepentingan atau keuntungan dunia yang dituju. Kalau kepentingan/keuntungan tersebut tidak dapat dicapai, apalagi merasa dirugikan, cepat atau lambat perasaudaraan tersebut pasti hancur berantakan, tidak bisa dipertahankan. Bahkan akhirnya menjadi musuh. Perhatikan firman Allah SWT :

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa. [QS. Az-Zukhruf : 67]

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah,
persaudaraan yang haqiqi adalah persaudaraan yang diikat dengan Ad-Dien (dengan taqwa kepada Allah). Kalau itu sudah bergeser, maka harus segera dikembalikan kepada rujukan yang haq, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, karena hanya dengan Al-Qur’an dan keteladanan Rasulullah akhlaq bangsa ini akan menjadi baik, dan kalau akhlaq bangsa ini menjadi baik, maka akan baiklah bangsa ini.

Segala kekurangan kami mohon maaf, dan semoga bermanfaat untuk kita semua, aamiin. (*)

KUTHBAH IDHUL FITHRI 1437H
Lapangan Parkir Stadion Manahan,
Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina Pimpinan Pusat MTA


Leave a Reply