Penanaman Nilai-nilai Karakter Puasa Ramadhan

puasa-menuju-taqwa-mta

Alhamdulillah Kita (orang mukmin) telah dipertemukan kembali kepada bulan yang istimewa yaitu bulan ramadlan di tahun 1437 H.

Sebagaimana kereta berjalan, ia hanya punya satu tujuan membawa diri dan para penumpangnya untuk sampai ke tempat tujuan dengan bahagia dan selamat, tujuannya hanya satu, sampai di satu tempat yang ia tuju, yaitu “stasiun, stasiun kereta”.

Orang Islam yang bisa dan mau menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah yang lain di bulan ramadhan harusnya hanya punya satu tujuan stasiun, yaitu stasiun KETAQWAAN. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam QS. Al Baqarah 2: 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa seba-gaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. [QS. Al-Baqarah : 183]

Allah hanya menyeru kepada orang-orang yang beriman, bukan kepada orang Islam secara keseluruhan dan bukan pula kepada seluruh manusia. Jadi salah satu ciri orang-orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang menegakkan ibadah puasa ramadlan sebagai wujud dari keimanan mereka.

Walaupun yang bisa memutuskan seseorang sudah tiba di stasiun ketaqwaan sehingga meraih gelar takwa atau belum memang HANYALAH ALLAH SWT namun ada indikator yang bisa kita jadikan pegangan untuk menilai pribadi kita pasca ramadhan nanti.

Perlu kita ketahui bahwa banyak pula orang yang berpuasa di bulan ramadlan tetapi banyak pula yang hanya mendapatkan haus dan lapar saja, yang hanya disebabkan karena lidah dan ulah manusia tersebut.

Sebagaimana sabda nabi SAW yaitu;

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata- kata dusta dan perbuatan dusta, maka tidak ada kebutuhan bagi Allah dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya “. [HR. Bukhari juz 2,hal. 2281].

Definisi takwa dpat berarti: “Mentaati Allah dan senantiasa tidak lupa bersyukur dan tidak kufur kepada-Nya”. Dari definisi ini kita bisa menyimpulkan bahwa takwa adalah kalimat yang singkat namun kaya akan makna, diantaranya mencakup; akidah, ibadah, muamalah dan akhlak.

Takwa bukanlah kalimat yang hanya di lisan atau hanya sekedar ucapan tanpa perbuatan. Tetapi takwa adalah perbuatan dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah dan tidak melakukan maksiat kepada-Nya.

Pada prinsipnya, puasa ramadhan akan selalu ditandai dengan transformasi dalam diri pelakunya dan masyarakat sekitarnya dengan mengalirnya amal saleh dan berbagai perbuatan terpuji lainnya. Jika setelah ramadhan seseorang selalu berbuat baik dan bisa memberikan peran untuk perubahan masyarakat di sekitarnya sampai ia menghadap Allah SWT, maka jelas ia tergolong kelompok manusia yang meraih gelar takwa dan pahala yang akan kelak ia dapatkan adalah surga.

Sebagaimana Allah SWT menjelaskan di dalam QS. Al Hajj : 23 yaitu;

“ Sesungguhnya Allah memasukkan orangorang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera”.

Tetapi sebaliknya, jika setelah melaksanakan ibadah ramadhan seseorang masih seperti sebelum melaksanakan ramadhan maka bisa dipastikan ramadhannya tidak berkah dan ia gagal meraih predikat takwa.

Namun begitu, kita memang TIDAK BISA MENILAI apakah seseorang itu benar-benar mencapai gelar takwa atau tidak, hal tersebut merupakan hak prerogative Allah. Namun kita bisa mengenali ciri-ciri orang yang meraih gelar takwa antara lain adalah; terjadinya perubahan pribadi ke arah yang positif.

Perubahan ini mencakup hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan lingkungan sekitar), juga mencakup kualitas ibadah jasmani dan rohani. Maka, supaya kita beruntung, mari kita jaga dan tegakkan pesan nabi SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, sebagai berikut

“Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia adalah rugi dan apalagi hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia sangatlah celaka tetapi jika hari ini lebih baik daripada hari kemarin maka ia beruntung”.

Puasa ramadhan yang bernilai di mata Allah maka akan menanamkan nilai-nilai karakter di dalam diri orang yang menjalankannya karena ibadah puasa ramadhan dapat mendidik manusia menjadi pribadi muslim yang bertaqwa (QS. AlBaqarah : 183), menjadi sarana pendidikan akhlak dan latihan jiwa, diantaranya mendidik manusia untuk bersikap jujur dan amanah.

Indikator takwa yang lain adalah ia akan konsekuen meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT, terutama dosa-dosa besar, seperti syirik, riba, judi, zina, khamr, korupsi, membunuh orang, bunuh diri, bertengkar, menyakiti orang lain, khurafat, bid’ah dan sebagainya.

Dia juga akan gemar melakukan ibadah wajib, sunnah dan amal shalih lainnya serta berusaha meninggalkan perbuatan yang makruh dan tidak bermanfaat. Mendidik manusia untuk hidup sederhana karena seharusnya mereka akan memiliki sifat sabar, syukur, tawakkal, tasamuh (toleransi), pemaaf, tawadlu dan sebagainya.

Ia juga akan malu kepada Allah SWT untuk melakukan perbuatan yang dilarang-Nya. Bersemangat dan sungguh-sungguh dalam menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan terutama dienullah (ilmu-ilmu Islam). Kemudian ia juga akan senantiasa bekerja keras dan tekun untuk memenuhi keperluan hidup dirinya, keluarganya dan dalam rangka membantu orang lain serta berusaha untuk tidak membebani dan menyulitkan orang lain.

Puasa ramadhan sebagai pendidikan perubahan.

Sebagian dari dampak ibadah puasa ramadhan bagi pelakunya adalah terjadinya perubahan kualitas perilaku ke arah yang lebih baik dan lebih terpuji. Indikator diraihnya gelar takwa pasca ramadhan adalah jika pelakunya patuh melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan meninggalkan apa yang dilarangNya, baik semasa ramadhan maupun nanti pasca ramadhan.

Ada banyak kriteria orang yang bertakwa yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Sunnah nabi SAW, diantaranya adalah; beriman, senantiasa mendirikan shalat, menunaikan zakat/menafkahkan sebagian harta, selalu menepati janji, sabar, selalu berdo’a kepada Allah, benar, tetap taat dan mengingat Allah, selalu beristighfar(meminta ampun) dan taubat kepada Allah dari semua dosanya.

Disamping itu, mereka bisa dan mau untuk selalu berbuat baik, diantaranya; menahan amarah, suka memaafkan, tidak melakukan perbuatan keji, maupun shalat tahajud. Mendidik manusia berjiwa sosial tinggi serta menumbuh kembangkan kepekaan sosial. Mereka memiliki sifat aktif berkiprah dalam memperjuangkan, menda’wahkan Islam dan istiqamah serta sungguh-sungguh dalam melaksanakan amar ma’ruf dengan cara yang ma’ruf, melaksanakan nahi munkar tidak dengan cara munkar.

Artinya ia akan memiliki komitmen yang total untuk mentaati Allah SWT dan tunduk kepada-Nya, bukan saja selama puasa ramadhan, melainkan kapan saja dan di mana saja ia berada. Puasa ramadhan tidak akan bermakna jika pasca ramadhan seseorang tidak menyadari identitas kehambaanya kepada Allah SWT.

Tuntunan syetan kembali diagungkan. Merebut harta haram (KKN) dan kemaksiatan menjadi kebiasaannya sehari-hari. Dan sebagai kesimpulannya, mudah- mudahan puasa ramadhan kita mampu menghijrahkan diri kita agar menjadi insane yang semakin bertakwa dan mampu menjadi manusia yang sebaikbaiknya, yaitu yang dapat memberikan manfaat kepada manusia lainnya. Aamiin. (*)

 

Oleh : SUTANTO S.Pd, M. Pd
Dosen Bahasa Inggris FIK
Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Ketua Pemuda
Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA) Kab. Semarang


Leave a Reply