Optimalisasi Aktifitas Ibadah di Bulan Romadhon

pahala-puasa-shaum-ramadhan

Segala puji hanya layak untuk Allah SWT, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Saw, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

Bulan Romadhon, bulan pencucian jiwa manusia. Jiwa manusia dicuci untuk dibawa menjadi jiwa yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)

Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk meningkatkan kesucian jiwanya sehingga mampu menjadi manusia yang dekat kepada Allah Tuhan yang Maha SUCI, Maha Mulia, Maha Bijaksana, Tuhan pencipta dan pemilik semesta Alam Raya.

Pencucian jiwa manusia dilakukan dengan puasa, tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan suami istri di siang hari, yang semuanya itu adalah sebagai nafsu dasar yang tanpa terasa biasa diumbar oleh manusia untuk dipuaskan. Namun dari nafsu tersebut pula maka akan berkembang bercabang dan beranting kepada nafsu-nafsu lain yang sering merugikan manusia.

Maka puasa bukanlah sekedar mengadu kepiawaian menahan makan, minum dan bersetubuh. Namun berikutnya di saat manusia mampu menekan hawa nafsu dasar tersebut kemudian manusia diperintah untuk mendidik dan mengarahkan nafsu dan jiwa manusia dengan Al-Qur’anul Karim, sebagaimana firman-Nya

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. 2:185)

Manusia perlu berterimakasih kepada Allah, bagaimana Allah Tuhan semesta Alam telah membukakan rahasia tentang bagaimana mendidik jiwa. Sehingga dengan syariat puasa yang dijalani sesuai dengan petunjuk Allah, maka manusia akan mendapatkan pencucian jiwa. Sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh seluruh mansuia yang hidup di dunia.

Sekali lagi puasa bukan sekedar lomba untuk mahir menyukai rasa lapar dan haus, serta kemampuan untuk tidak berhubungan seksual saja, namum puasa adalah jalan membangun ketaqwaan yang bangunan ketaqwaan itu membutuhkan fondasi kesucian jiwa.

Kesucian jiwa adalah syarat utama untuk mendekat kepada Allah baik di dunia dan di akherat. Tanda bahwa jiwa manusia itu suci, maka mereka akan sangat menghargai dan memulyakan segala sesuatau yang datang dari Allah SWT, yaitu Al-Qur’anul Karim, dan demikian juga sebaliknya jiwa yang kotor akan sangat lemah, malas dan enggan dekat dengan Al-Qur’an sebagaimana firman Allah

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ﴿٧٥﴾ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ﴿٧٦﴾ إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ ﴿٧٧﴾ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ ﴿٧٨﴾ لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ ﴿٧٩﴾ تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٨٠﴾ أَفَبِهَذَا الْحَدِيثِ أَنتُم مُّدْهِنُونَ ﴿٨١﴾ وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ ﴿٨٢﴾ فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ ﴿٨٣﴾ وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ ﴿٨٤﴾ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لَّا تُبْصِرُونَ ﴿٨٥﴾ فَلَوْلَا إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ ﴿٨٦﴾ تَرْجِعُونَهَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. (QS. 56:75)

Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, (QS. 56:76)

sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, (QS. 56:77)

pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), (QS. 56:78)

tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS. 56:79)

Diturunkan dari Tuhan Semesta Alam. (QS. 56:80)

Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Qur’an ini, (QS. 56:81)

kamu (mengganti) rezqi (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). (QS. 56:82)

Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, (QS. 56:83)

padahal kamu ketika itu melihat, (QS. 56:84)

dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.Tapi kamu tidak melihat, (QS. 56:85)

maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah) (QS. 56:86)

Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar, (QS. 56:87)

Jaman modern jaman penuh dengan tersebarnya kemaksiyatan dan kedurhakaan kepada Allah SWT. Jaman penuh dengan tersebarnya kekotoran dosa dan kejahatan. Di sana sini manusia telah diajari untuk berbuat kejahatan. Dan semuanya itu mengotori jiwanya dan mengotori hatinya. Bahkan sampai kepada keyakinan, banyak keyakinan dan perbuatan kemusyrikan telah disebarkan secara legal. Sungguh hal yang demikian itu akan membuat manusia jauh dari Allah SWT. Allah sangat membenci kepada orang musyrik, sehingga mereka dikatakan oleh Allah sebagai orang yang najis jiwanya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَـذَا وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ إِن شَاء إِنَّ اللّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mengdekati Masjidil Haram sesudah tahun ini,maka Allah nanti akan memberi kekayaan kepadamu karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 9:28)

Najis , sesuatu yang kotor, bila manusia telah mengotori diri baik jiwa dan raganya manusia akan tidak lagi mencintai Allah SWT dan tidak akan bersemangat untuk belajar Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sungguh ini adalah rahasia besar yang Allah jelaskan kepada manusia. Maka sungguh bulan Romadhon adalah bulan pencucian jiwa. Agar manusia mau kembali ke dalam rahmat Allah dan kasih sayang Allah. Dan kembali tekun menempuh jalan-jalan yang di ridhoi Allah SWT.

Allah sangat benci dengan jalan Dosa dan kedurhakaan semisalnya sebagaimana yang Rasulullah Muhammad sabdakan sebagaimana dalam Hadist,

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ مَا هُنَّ؟ قَالَ: الشّرْكُ بِاللهِ وَ السّحْرُ وَ قَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ اِلاَّ بِاْلحَقّ وَ اَكْلُ الرّبَا وَ اَكْلُ مَالِ اْليَتِيْمِ وَ التَّوَلّى يَوْمَ الزَّحْفِ وَ قَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ اْلمُؤْمِنَاتِ اْلغَافِلاَتِ. البخارى

 Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan !”. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa tujuh perkara itu ?”. Beliau bersabda, ” 1. Syirik kepada Allah, 2. sihir, 3. membunuh jiwa yang Allah mengharamkannya kecuali dengan haq, 4. makan riba, 5. makan harta anak yatim, 6. lari dari peperangan (sebagai pengecut), dan 7. menuduh wanita mu’minah yang baik-baik berbuat zina”. [HR. Bukhari juz 8, hal. 33].

Banyak manusia tercebur dan menekuni perbuatan tersebut diatas dan kadang malah disertai dengan rasa bangga. Manusia bangga untuk memperbanyak DOSA.

Manusia perlu mendapat bimbingan dari Allah SWT tentang bagaimana menempuh hidup ini sehingga mengetahui apa yang dikehendaki Allah SWT. Apa itu kesucian jiwa yang diridhoi Allah, serta megetahui pula apa itu dosa yang dimurkai Allah SWT.

Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuatu yang sangat luar biasa bagi kehidupan umat manusia. Allah telah memberikan penjelasan-penjelasan tentang segala seluk beluk jalan-jalan kebenaran lewat Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga Kenabian Rasulullah Muhammad SAW dan apa yang dibawa oleh beliau berupa Al-Qur’an al Karim adalah sesuatu yang luar biasa , sesuatu yang sangat-sangat dibutuhkan oleh manusia. Sebagaimana firman Allah

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. (QS. 97:1)

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS. 97:2)

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. 97:3)

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (QS. 97:4)

Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. 97:5)

 

Kenabian Rasulullah Muhammad SAW dan apa yang Allah limpahkan berupa Al-Qur’an kepada umat manusia adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Allah telah menurunkan kemuliaan itu, dan bila manusia mau mengikuti petunjuk Al-Qur’an maka manusia akan dituntun kepada derajad mulia, tinggi, dekat kepada Allah SWT. Dan akan berakhir di Surga Nya di sidratul muntaha dibawah Ars Allah SWT, tempat yang tinggi dan mulia, Surga , Al-Jannah, Firdaus.

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى ﴿١٣﴾ عِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى ﴿١٤﴾ عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (QS. 53:13)

(yaitu) di Sidratil Muntaha. (QS. 53:14)

Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (QS. 53:15)

 

Segala puji bagi Allah, yang telah menjadikan bulan Rmadhon sebagai bulan pencucian jiwa, sehingga bila manusia menjalankan seluruh aktifitas bulan romadhon sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulnya maka manusia akan keluar dari bulan romadhon dengan hati suci dan bersih dari dosa, dan siap masuk ke Surga-Nya.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. البخارى و مسلم

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadlan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Bahkan Allah menjajikan kepada orang-orang yang sukses dalam menjalankan ibadah puasa, maka akan diberi jaminan untuk masuk surga lewat pintu Ar-Rayyan,

عَنْ سَهْلٍ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اِنَّ فِى اْلجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ اَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: اَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ اَحَدٌ غَيْرُهُمْ. فَاِذَا دَخَلُوْا اُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ اَحَدٌ. البخارى

Dari Sahl RA dari Nabi SAW beliau bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat pintu yang disebut Rayyan, yang mana besok pada hari qiyamat orang-orang yang berpuasa masuk dari pintu itu. Dan tidak ada seorangpun yang masuk dari pintu itu selain mereka. Dikatakan, ”Dimanakah orang-orang yang berpuasa ?”. Maka mereka berdiri, tidak ada seorangpun selain mereka yang masuk darinya. Apabila mereka sudah masuk, maka pintu itu ditutup sehingga tidak ada seorangpun yang masuk darinya”. [HR. Bukhari 2 : 226]

 

Segala puji bagi Allah, marilah kita isi ibadah puasa ini dengan suasana belajar dan tadarus, Tadabbur Al-Qur’an dengan semaksimalnya. Dan suasanakan jaman kita ini dengan suasana di zaman Rasulullah Muhammmad SAW. Dijaman Rasulullah SAW tidak ada TV tidak ada HP, tidak ada Tablet, tidak ada Internet, tidak ada Laptop, namun yang ada adalah turunnya malaikat yang sangat sangat besar jumlahnya.

 تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (QS. 97:4)

Itulah keaslian bulan Romadhon di zaman Rasulullah SAW. Jiwa manusia butuh kiriman malaikat malaikat dari langit. Untuk menguatkan jiwa manusia dalam berbakti kepada Allah SWT.

Kedatangan malaikat tidak dipanggil lewat TV, HP, Tablet, Laptop, Internet, Games On Line dan sebangsanya. Namun malaikat akan turun ke muka bumi jika manusia menjalankan dengan serius sunnah-sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Ibadah puasa , sebuah sarana yang luar biasa yang perlu di optimalkan oleh umat manusia untuk kembali menjadi hamba-hamba yang dekat kepada Allah SWT , dan berjalan di dunia dalam Rahmat dan kasih sayang Nya. Apapun kesenangan kenikmatan dan yang dicintai oleh manusia di dunia ini akan di tinggalkan, dan Allah Tuhan Semesta Alam Tuhan yang Esa yang telah menciptakan segala yang ada di semesta Alam.

Manusia di alam KUBUR tidak akan bisa lagi untuk menikmati senangnya TV, HP, Laptop, Internet, Game On Line dan sarana-sarana hiburan lainnya. Namun bila mereka di dunia rajin beribadah kepada Allah, maka di alam kubur akan dihibur oleh Allah, di alam akherat akan dimuliakan oleh Allah. Segala puji bagi Allah, mari kita optimalkan ibadah kita kepada Allah, sehingga kita semua lebih mencintai Allah dari pada mencintai yang lainnya. Wallohu ‘alam.

 


Leave a Reply