Mengenang Gempa Yogyakarta (27/5/2006) dan Kiprah 2000 SATGAS MTA

bantulah-saudaramu

Gempa 27 Mei 2006 tepatnya 9 tahun silam, adalah peristiwa gempa bumi tektonik kuat yang mengguncang DIY dan Jateng , kurang lebih pukul 05.48 berkekuatan 5.9 SR, secara umum possisi gempa berada di sekitar 25 kmselatan barat daya yogyakarta , 115 km selatan semarang .

Gempa tersebut dapat dirasakan  di Solo, Semarang, Purworejo, Banyumas bahkan getaranya hingga Jatim seperti Ngawi, Madiun, Blitar dan Surabaya. Gempa yang berlangsung 57 detik tersebut mengakibatkan gedung gedung sekolah. Mall, perkantoran dan Rumah rumah rusak parah bahkan rata dengan tanah, termasuk situs kuno Candi Prambanan dan Kraton Yogyakarta juga mengalami kerusakan cukup parah.
Meskipun pada saat bersamaan gunung merapi dalam kondisi siaga 1 tapi tidak ada hubungan dengan terjadinya gempa .

Kiprah satgas MTA

Sebelum terjadinya gempa segenap jajaran MTA DIY berserta Satgas MTA masih fokus di “Posko Emphaty Merapi MTA 2006”, dikarenakan waktu itu kondisi Merapi tidak ada tanda-tanda peningkatan status maka posko MTA Merapi di Cangkringan kita tutup, semua peralatan dibawa merapat ke majlis .

Menurut kami langkah ini adalah skenario dari Allah Swt , karena 24 jam setelah peralatan posko kita bawa turun, gempa mengguncang Yogyakarta.

Alhamdulillah dengan sigap semua tim Tanggap Darurat MTA Perwakilan DIY segera melakukan langkah cepat dalam merespon musibah gempa yang menewaskan kurang lebih 6000 orang. Alhamdulillah warga MTA DIY tidak ada yang menjadi korban, hanya rumah rumah warga mengalami kerusakan mulai yang ringan hingga rusak parah.

MTA DIY kemudian mendirikan “Posko penanggulangan Bencana Gempa 2006” di lokasi yang mengalami kerusakan cukup parah di Pundong Bantul, karena lokasi kerusakan yang cukup luas maka didirikan posko 2 yang berlokasi di Prambanan.

Posko MTA berdiri selama kurang lebih 45 hari dengan menerjunkan total 2000 personel satgas MTA yang terdiri dari Satgas, Tim Kesehatan, Bankom 09, Tim dapur umum, Tim Recovery.

Ini  menjadi catatan sejarah tersendiri bagi MTA dengan kiprah satgas MTA dalam merespon Bencana tanah air, dengan menerjunkan total kurang lebih 2000 personel  satgas yang terdiri dari satgas dari Soloraya, satgas MTA DIY, satgas MTA Semarang dll. Tugas satgas waktu itu adalah evakuasi dan mencari korban gempa , sememtara tim kesehatan melayani korban luka yang cukup banyak .

Selama posko berdiri, MTA menyalurkan bantuan yang terdiri dari beras , mie, susu, pakaian, obat obatan ,dan tenda. MTA DIY juga melakukan upaya recovery/perbaikan kurang lebih 50 rumah warga MTA yang mengalami kerusakan baik yang ringan maupun berat .

Di akhir menjelang penutupan posko MTA di Pundong, kita mendirikan Rumah sementara yang nantinya dipakai untuk aktivitas TPA dan pemulihan psikologis anak pasca gempa. Dan malamnya kita mengadakan Pengajian Umum yang diisi oleh Al Ustadz Drs Ahmad Sukino dan dihadiri ratusan warga Bantul.

Kejadian GEMPA YOGYA 2006 menjadikan satgas mta menjadi dewasa dan pengalaman dalam menghadapi berbagai bencana yang sering terjadi di tanah air. Terbukti posko MTA di Bantul termasuk posko bencana pertama yang berdiri dilokasi yang ada di Yogyakarta dan banyak menerjunkan personelnya.

Sebagaimana pesan  Al Ustadz Drs.Ahmad sukino : “Satgas MTA harus tanggap terhadap bencana bencana di Tanah air dan siap diterjunkan kapanpun“.

Semoga Satgas MTA semakin maju dan tetap dalam.  Mardhotillah . BRAVO Satgas MTA


Leave a Reply