DARURAT Pelecehan Seksual

JANGAN-MENDEKATI-ZINA

Hati siapapun akan miris mendengar berita bahwa anaknya mati dibunuh setelah diperkosa oleh 14 orang pemuda. Para aktivis perempuan dan anak dibuat terbelalak oleh fakta yang mengejutkan itu.

Belum hilang keheranan memikirkan pelecehan seksual yang terjadi pada Yy di Bengkulu, sudah muncul berita di layar televisi seorang remaja putri di Surabaya diperkosa oleh 9 remaja tanggung. Dan salah satu anak yang terlibat pelecehan itu masih berusia 9 tahun.

Bahkan lebih mengerikan lagi seorang buruh pabrik, EF diperkosa oleh tiga pemuda lalu dibunuh dengan jalan menyiksa dan menusukkan gagang pacul ke dalam kemaluan wanita itu sampai menembus paru-paru.

Tiga peristiwa di atas ditambah dengan beberapa peristiwa lain yang sejenis membikin para petinggi negeri ini sibuk merumuskan paraturan atau hukuman yang layak bagi pelaku pelecehan seksual. Ada yang mengusulkan untuk menambah hukuman kebiri kepada para predator anak.

Sementara keluarga korban dan masyarakat menuntut hukuman maksimal kepada mereka. Belum tuntas pembicaraan tentang berita di atas sudah muncul berita baru, seorang laki-laki di Kediri melakukan pelecehan seksual terhadap remaja dan anak-anak putri sebanyak 56 anak.

Moral bangsa ini semakin rusak, tetapi masih saja kita tidak menyadari bahwa untuk memperbaiki manusia kita membutuhkan petunjuk Allah yang menciptakan manusia. Sayang sekali, manusia sangat angkuh dan sombong. Mereka lebih menghendaki dan mengandalkan solusi persoalan pelecehan seksual itu datang dari otak mereka yang kecil dan kemampuan akal mereka yang terbatas.

Padahal Allah yang Maha Pandai dan Maha Bijaksana sudah menyediakan solusi yang bersifat permanen, yang akan membuat jera para pelakunya dan membuat ciut nyali orang-orang yang memiliki keinginan untuk melakukan kejahatan yang sama.

Firman Allah:

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman”. [QS An Nuur 24: 2]

Bagi para remaja yang belum pernah menikah lalu melakukan perbuatan zina, mereka diancam hukuman cambuk 100 kali di depan umum. Sudah pasti remaja yang mengalami hukuman seperti itu akan jera dan tidak akan berani mengulang kembali perbuatannya yang hina.

Mereka yang menyaksikan hukuman itu baik secara langsung maupun melalui televisi akan merasa ngeri, ciut nyalinya, dan tidak akan berani melakukan perbuatan yang sama, apalagi melakukan perkosaan.

Sedang bagi orang dewasa yang sudah menikah lalu melakukan perzinaan, mereka diancam hukuman rajam, badan ditanam di dalam tanah lalu dilempari batu di depan umum sampai mati. Bagi pelaku perzinaan, dia sudah tidak bisa mengulangi lagi perbuatannya, karena dia akan mati pada saat pelaksanaan hukuman.

Sedang bagi orang yang mendengar dan menyaksikan akan merasa ngeri dan ciut nyalinya, dan  tidak akan berani melakukan perbuatan yang sama.

Bukankah hukum Allah tersebut lebih menghargai wanita dan melindungi remaja putri kita ? Lalu mengapa kita memilih hukum lain yang bersifat coba-coba dengan resiko mengorbankan jutaan wanita dan remaja putri yang lainnya ?

Andai para pencuri dipotong tangannya, para pembunuh dihukum bunuh, dan para pemerkosa dicambuk atau dirajam seperti yang dikehendaki Allah, insyaa Allah negeri ini akan jauh lebih aman, tenteram, dan nyaman sebagai rumah bersama bagi seluruh komponen bangsa.

Andai seluruh ummat Islam menjalankan syariat dengan penuh kesadaran, maka sudah hampir 90% penduduk negeri ini terbebas dari perbuatan nista dan tercela.

Semoga Allah mengampuni kesalahan dan dosa kita serta membimbing kita ke jalan-Nya yang benar, aamiin.
~oO[ @ ]Oo~

 

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)

SOLOPOS, Jumat 20 Mei 2016


Leave a Reply