Sebelum Tobat, Iwan Kerap Merampok untuk Beli Ganja (Bagian 1)

TOBAT- Iwan (tengah) didampingi sang istri Siti Aisyah dalam acara Hikmah di MTA TV, Selasa (29/3/2016).

Iwan Setya Lesmana (41), begitu nama lengkap Iwan, sang mantan preman Kalijodo. Laki-laki asal Kecamatan Miri, Sragen, Jawa Tengah ini, sejak tiga tahun lalu meninggalkan dunia hitam dan kembali ke kampung halamannya. Mengenal kajian Majlis Tafsir Alquran (MTA) sejak setahun lalu melalui Persada FM dan MTA TV, Iwan pun mantap bergabung sebagai warga di MTA Cabang Miri 2.

Lalu, bagaimana awal mulanya Iwan bisa terjerumus ke dunia hitam? Dalam wawancara di acara Hikmah MTA TV, Selasa (29/3/2016), Iwan bertutur jika ia pergi ke Jakarta sejak 1991 silam, saat dirinya lulus SMP. Saat itu ia mengikuti salah seorang saudara merantau di kota metropolitan itu.

“Namun karena saudara saya ini kehidupannya tidak mapan, saya pun bergabung dengan kelompok jalanan. Saya mengamen, dari situ mengenal minuman keras dan ganja. Karena butuh uang banyak untuk beli ganja dan uang dari ngamen tidak cukup, maka saya gabung dengan komunitas pencopet dan perampok,” jelas Iwan ditemani sang istri, Siti Aisyah.

Tahun 1993, pertama kali Iwan ikut merampok. Dari aksi perampokan pertama itu, ia tertangkap basah oleh pihak keamanan komplek. “Waktu tertangkap, macam-macam siksaan saya rasakan. Mulai dipukul, kuku dicabut pakai tang, disetrum dan lain-lain,” ujarnya mengenang masa lalunya yang kelam.

Apakah Iwan kapok dengan berbagai macam siksaan itu? Ternyata tidak. Berbagai siksaan yang diterimanya itu, justru membuat keberaniannya dalam terjun ke dunia kejahatan semakin tinggi dan membuat mentalnya semakin kuat. “Di dalam penjara saya berkenalan dengan penjahat kelas kakap. Begitu keluar penjara, saya meniti ilmu dari penjahat. Saya pun jualan senjata api. Hampir semua penjahat kelas kakap di Indonesia membeli senjata api dari saya. Ada juga yang menyewa,” jelas Iwan yang mengaku memperoleh senjata api dari oknum tertentu. (Ida Aisha/ bersambung)


Leave a Reply