Datangnya Cinta dari Allah Kepada Keluarga

CINTA-ALLAH-KEPADA-KELUARGA-SAKINAH

Ibu yang profesional adalah ibu yang tak pernah berhenti belajar untuk menjadikan anak dan keluarganya menjadi lebih baik. Mungkin lelaki merajai dunia, tapi tidak ada lelaki yang bukan anak dari seorang Ibu. Ibu adalah pemimpin kemanusiaan yang sesungguhnya. (Kata Mutiara-Ibu)

Seorang Ibu di dalam Islam diterangkan oleh nabi SAW sebagai laksana madrasah atau tempat mendidik anak. Jadi disebut seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang profesional adalah ibu yang pandai mendidik anak-anaknya untuk menjadi anak yang sholeh dan sholehah, taqwa pada Allah serta taat pada kedua orang tuanya.

Seorang ibu bukanlah berarti tak boleh untuk menuntut ilmu tinggi dan bekerja. Semua menjadi boleh dengan syarat bahwa tugas pokoknya tetap mendidik anak. Seorang isteri yang bekerja, pada dasarnya membantu suami dalam menegakkan ekonomi keluarga.

Di negeri kita, seorang ibu terkadang (masih) harus tetap bekerja, tidak seperti di negeri Arab dimana yang berada di pasar adalah para lelaki sehingga betul-betul para isteri mereka berada di rumah.

Karena situasi Indonesia umumnya demikian, dengan dalih tuntutan ekonomi, terkadang suami memerlukan bantuan isterinya dalam mengokohkan ekonomi keluarga, maka sah-sah saja sang isteri ikut bekerja asalkan tidak menghilangkan tugas pokoknya adalah ibu rumah tangga, mendidik anak keturunannya dan tetap melayani suami dengan baik.

Rasulullah SAW bersabda : ”Sebaik-baik wanita adalah yang ketika engkau memandangnya akan membuatmu bahagia. Dan jika diperintah, dia akan mentaatimu. Dan jika engkau tidak bersamanya, dia akan menjagamu dalam dirinya dan menjaga apaapa yang engkau miliki.” (HR Abu Daud, Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Berbincang mengenai cinta keluarga, berangkat dari niat suci segala aktivitas hidup adalah hanya karena Allah, maka dalam bekerjapun otomatis dengan niat karena Allah sehingga kecintaan kepada keluarga juga pasti masuk di dalamnya.

Artinya bahwa Allah Swt menurunkan karunia kepada hamba-hamba-Nya untuk saling mencintai. Sehingga ketika sang suami dan sang istri bekerja dengan niat karena Allah maka Allah akan turunkan kecintaan dalam sebuah keluarga yang sakinah, mawadah warrahmah.

Diliputi tenang, penuh cinta kasih–sayang dan dikucuri rahmat. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri (pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih (mawadah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar-Rum : 21).

Kembali pada bahasan Ibu profesional yang bekerja di luar, tentu ia harus pandai-pandai menjaga pandangan dan hati. Isteri, sebelum ikut aktif membantu suami mencari perkonomian ia wajib mengantongi dua hal.

Pertama, bahwa ia telah mendapat ridha dari suaminya untuk bekerja di luar rumah.

Kedua, lihat apakah sang istri bekerja di luar itu untung atau rugi.

Kalau berbicara mengenai untung dan rugi, tentu menurut pandangan agama (Allah), bukan menurut pandangan gaji. Artinya begini, walaupun gaji sang istri besar namun agamanya hilang, kehormatannya tidak terjamin maka itu namanya rugi. Kalau sekiranya istri bekerja disitu untung, tetap bisa melakukan tugas pekerjaan yang diberikan dengan baik, mampu menjaga agama, tidak rusak akidahnya, dalam pergaulannya pun selamat, itu namanya untung.

Jika sudah diridhai suami dan keyakinan agama tidak terganggu maka boleh saja istri menjadi ibu profesional yang juga bekerja, layaknya Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai ia adalah seorang saudagar.

Khadijah merupakan salah satu wanita terbaik di dunia. Hal ini jelas apabila merujuk kepada sebuah hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Anas r.a bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda : “Cukuplah bagimu empat wanita terbaik di dunia, yaitu Maryam binti Imran, Khadijah Binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad dan Asiah, isteri Fir’aun.” (Hadits Riwayat Ahmad, Abdurrazaq, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim).

Akhirnya, ibu rumah tangga profesional yang berbekal ridha suami, dan yakin akan jaminan keselamatan akidah, kehormatan serta cinta keluarga, maka ridha Allah akan turun pada keluarganya.

***
Termuat di AL-MAR’AH (04/2013)


Leave a Reply