Siti Ma’rifah Tempuh 100,5 KM untuk Mengaji

kabupaten-indragiri-hulu-mta

PERJUANGAN dan semangat mencari ilmu agama, dijalani Siti Ma’rifah (29) dan sang suami, Rohadi (40). Setiap pekan, tepatnya setiap hari Sabtu pukul 14.00 WIB, Siti dan suaminya mengikuti pengajian di Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA) Perwakilan Indragiri Hulu, yang berjarak sekitar 100,5 kilometer dari tempat tinggalnya di Desa Mompa, Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.

Lalu, bagaimana awal mula Siti dan suaminya mengenal pengajian MTA? Berbincang dengan kontributor mta.or.id di Gedung Pusat MTA Jalan Ronggowarsito Nomor 111A Solo, Ahad (3/1/2016) lalu, Siti berkisah, awalnya pada 2012 sang suami mendapatkan informasi mengenai kajian MTA dari Ketua RW setempat.

“Suami saya diberi tahu sama Pak RW bahwa ada kajian di radio. Kemudian suami saya mencari-cari gelombangnya dan ketemu, namun waktu itu baru mendengarkan saja dan tidak tahu jadwal siarnya. Jadi masih jarang-jarang mendengarnya,” ujar ibu satu orang putri bernama Hikmatus Sobriyani ini.

Setahun berikutnya, Siti dan keluarganya pindah dari desa semula ke tempat tinggalnya yang sekarang. Sang suami mulai mencari informasi alamat kajian MTA di internet.

“Kajian yang kami temukan di internet waktu itu di Pekan Baru yang jauh dari tempat tinggal kami. Lalu dari pengurus di Pekan Baru, diberi tahu alamat pengajian di Indragiri Hulu,” jelasnya sambill tersenyum.

Mulai 2014, Siti dan suaminya mulai aktif mengikuti kajian di MTA Indragiri Hulu yang beralamat di Blok A2 Desa Titian Resak RT 09 RW 05, Seberinda, Indragiri Hulu, Riau tersebut. Jarak yang jauh tak menyurutkan keduanya mengaji ilmu agama demi memperoleh bekal ke akhirat.

Siti mengatakan, butuh waktu sekitar tiga jam untuk menempuh tempat pengajian di Indragiri Hulu. “Berboncengan naik sepeda motor dari rumah pukul 10.00 WIB, tiba kembali di rumah pukul 21.00 WIB,” ujar Siti yang bermatapencaharian sebagai petani bersama suaminya ini.

Wanita kelahiran Kebumen, Jawa Tengah ini mengaku sangat bersyukur bisa mengenal kajian MTA. Sebab dari kajian tersebut ia dan suaminya bisa mengetahui dengan jelas perintah dan larangan Allah SWT, serta menjalankan ibadah sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW.

“Sayang kami sekarang jarang mendengarkan kajian di radio karena desa kami belum ada listrik dari PLN. Untuk penerangan sehari-hari saya menggunakan lampu senter. Untuk nge-charge senter dan HP, kami ke tetangga yang punya mesin disel,” pungkas Siti.

(Ida Aisha)


Leave a Reply