Tiket Syurga Bagi Istri

tiket-surga-bagi-istri-mta-ahmad-sukina

Dari seluruh hal yang dimiliki wanita, yang teristimewa adalah diberi hal untuk menjadi seorang ibu. Setiap wanita akan menjadi seorang isteri (ibu).

Disabdakan oleh Nabi bahwa ibu adalah pusat pendidikan bagi wanita pasti akan menjadi seorang anak-anaknya. Untuk menanamkan supaya ikhlas menjadi madrasah anak-anaknya maka seorang isteri (ibu) mesti memahami tuntunan agama dengan didasari bahwa “Sesungguhnya aktivitas hidupku hanya karena Allah.”

Seorang wanita aktivitas hidupnya termasuk sebagai Ibu Rumah Tangga, aktivitas ini tidak bisa dihindari dan itu bukanlah tugas yang hina namun tugas amat mulia, karena penentu rumah tangga nanti menjadi baik atau tidaknya isteri sangat berperan.

Sampai nabi menyabdakan bahwa surga berada dibawah telapak kaki para ibu. Maksud dari sabda surga di bawah telapak kaki ibu ialah anak didalam mencapai kebahagiaan sampai disurga nanti, ibulah yang sangat menentukan.

Sabda tersebut satu sisi menjelaskan mengenai perasaan ibu bertanggung jawab terhadap kemuliaan anaknya, sisi lain anak juga mempunyai kewajiban taat pada ibu selama tidak diperintah maksiat. Kadangkala seorang ibu sudah disibukkan dengan urusan rumah tangga sehingga terasa teramat lelah, ditambah lagi ketika buah hati ‘nakal’, tentu akan tersemat dihati ada kejengkelan hingga berujung kerap menyalahkan suami sebagai pelampiasan kejengkelan.

Sikap ini jika tidak didasari paham pada ajaran agama tentu akan menyulut persoalan kecil menjadi membabi buta. Maka demi menanamkan ikhlas dalam aktivitas hidup (selaku isteri serta ibu) tadi, senantiasa hanya satu harapan di hati, menggapai ridho Allah semata.

Allah tidaklah menuntut hasil, asal kita sudah berusaha maksimal. Yang dituntut oleh Allah adalah kesungguhan dan kesabaranmu dalam berusaha.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya.” (QS Ali Imran [3]: 142-143)

Dalam perjalanan biduk rumah tangganya, isteri beserta suami senantiasa harus sering bermusyawarah. Pertama masing-masing harus tahu apa kewajibannya, kedua berikan hak masing-masing diri. Jika suami sudah maksimal melakukan kewajibannya berarti sudah memberikan haknya isteri.

Begitupula sebaliknya, jika isteri sudah menunaikan kewajibannya secara maksimal berarti isteri sudah memenuhi hak terhadap suami. Namun demikian, terkadang manusia dikuasai oleh perasaan atau nafsu. Jika suami kurang sedikit memuaskan saja, isteri detik itu juga langsung marah.

“Dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Para sahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Baginda menjawab :“Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.” (HR Al-Bukhari)

Benang merahnya, isteri harus menyadari bahwa di dunia ini tidak ada suami yang mutlak sempurna. Umumnya manusia jika sedang berselisih yang diingat dalam memorinya hanya keburukan-keburukannya saja, sehingga seolah kebaikan yang ada terhapus.

Maka jika berselisih coba suami mengingat-ingat kebaikan isteri, berlaku juga sebaliknya. Akhirnya cek-cok yang ada tidak akan berkepanjangan. Kembali pada tugas mulia sebagai isteri, bahwa ‘saya melayani suami, berbuat baik pada suami dalam rangka beribadah mengharap ridha Allah. Masalah makin dicinta suami itu adalah bonusnya.

Ingatlah, “Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah : “Wanita bagaimanakah yang terbaik?” Beliau menjawab: “Yang menyenangkan suami ketika dipandang, taat kepada suami jika diperintah dan ia tidak menyalahi pada dirinya dan hartanya dengan yang tidak disukai suaminya.” (Isnadnya hasan)

Berbekal dari hadits ini maka isteri akan selalu berpenampilan menyenangkan dihadapan suami. Berpenampilan disini bukan mengandung maksud berdandan yang macam-macam, namun terutama akhlaqnya, tawadhu’ nya serta sopan terhadap suami. Sehingga sak polah-polah’e si isteri, hati suami merasa senang sampai nabi mengatakan “Setiap istri yang meninggal dunia dan diridhai oleh suaminya, maka ia masuk surga.” (HR AtTirmidzi)

Tafsir hadits ini jangan lantas disalah tafsirkan bahwa suami ‘bahagia’ jika isteri meninggal, maksud sejatinya adalah selama perjalanan hidup sang isteri, suami selalu ridha dengan semua perilakunya sehingga sampai matipun dalam keadaan ridha suami.

Yang terpenting kalau mempunyai suami, bagaimanapun juga kalau suami adalah orang yang tanggung jawab terhadap keluarga, memenuhi nafkah semaksimalnya (bukan berarti harus mewah), dia juga tidak pelit sesuai kemampuan yang ada, kemudian ia berusaha ‘kuanfusakum wa ahlikum naro’ yang artinya menuntun isteri dan anak-anaknya ke jalan yang lurus, maka kalau sudah seperti itu masih kurang apalagi? Jangan suka membanding-bandingkan kemampuan suami dengan kemampuan suami orang lain. Apalagi sampai terucap ‘Suami itu isterinya dibelikan ini-itu”.

Isteri boleh saja senang terhadap harta tapi jangan sampai karena harta ia menjadi kufur terhadap suaminya. Ikhlas, syukur adalah senjata yang harus dimiliki di zaman dimana tidak gampang memilih pasangan hidup yang baik, imannya kuat, ibadah kuat serta tidak berlaku maksiat. Adapun kekurangan suami, mari samasama diperbaiki.

Asal sama-sama mau ngaji, kekurangan yang ada tadi dapat diperbaiki pelan-pelan. Bila pada akhirnya suami isteri ada silang pendapat (cekcok) itu biasa. Orang islam tidak perlu risau jika ada perbedaan pendapat, jalan keluarnya adalah kembali pada Allah dan rasul-Nya.

“Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisa’ : 59]***

__________________________________
Dimuat dalam Edisi TAFAKUR
Majalah Al-Mar’ah (sholihah & cerdas)
Maret 2013/1434H


One Response to “Tiket Syurga Bagi Istri”

  1. 1
    Man Says:

    Assaalamu’Alaikum ustad,nama saya Man,sya mau bertanya apabila istri meninggalkan rumah dg alasan bekerja dan atas seizin suaminya pula diperbolehkan.namun suatu ketika karena suatu permasalahan keluarga dan suami tsb menyuruh istrinya pulang akan tetapi istrinya menolak padahal suaminya sudah mengancam itu semua demi perbaikan dan kelangsungan rmhtgga.namun si istri tetap menolak dan bahkan lebih dari 5bln tdk pulang.tlg dijawab pak ustad dan semoga istri tsb dan klrganya mengetahui hal ini.terima kasih.
    Wassalamu Alaikum.

Leave a Reply