Tahun Baru, Tahun Keberuntungan (Bagi yang Mau)

dua-perkara-keselamatan-manusia-dunia-akherat

Bila kita hitung harga satu kembang api adalah 100 ribu rupiah dan trumpet juga 100 ribu rupiah maka biaya untuk kembang api dan trumpet sudah 20 juta rupiah, ini belum termasuk biaya panggung hiburan dan sebagainya dan juga belum di lokasi atau kotakota yang lain.

Padahal ada ratusan bahkan mungkin ribuan lokasi titik perayaan tahun baru masehi di seluruh kota di Indonesia. Mereka bersifat boros terhadap uang dan waktu, padahal Allah telah memperingatkan melalui QS. Al Baqarah/ 2: 195, yaitu dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Bila kita seorang muslim, ada baiknya mencermati terlebih dahulu asal muasal perayaan tahun baru masehi. Kata masehi tidak bisa dilepaskan dengan kata Al Masih, yakni nama lain dari Nabi Isa dalam keyakinan agama Nasrani. Jadi budaya perayaan tahun baru bukan budaya Islam. Perayaan hanyalah sebuah kesenangan sementara yang penuh dengan hedonism yang dilarang dalam agama Islam.

Mencermati fakta historisnya, maka merayakan tahun baru masehi adalah sesuatu yang terlarang bagi muslim. Karena kaum muslim dilarang menyerupai kaum kafir baik secara umum maupun khusus.

Secara umum, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Ahmad). Firman Allah di dalam QS. Al Maidah/ 5: 51. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Kalimat yang semakna dengan hedonism terdapat di dalam QS. At Takatsur yang dalam terjemahan versi Depag RI diterjemahkan sebagai “bermegah-megahan” dengan membubuhkan catatan kaki, “bermegah-megahan dalam perihal anak, harta, pengikut, kemuliaan dan seumpamanya.” Al-Qur’an telah memperingatkan umat manusia agar senantiasa waspada terhadap penyakit ini dengan sangat keras dengan ancaman siksaan yang amat pedih, baik ketika berada di alam barzakh maupun di alam akhirat kelak.

Hal ini terlihat jelas bahwa maksud dari firman Allah, “Alhaakumuttakatsur” adalah ancaman terhadap orangorang yang selama hidupnya hanya sibuk mengurusi urusan-urusan duniawi sampai mereka masuk ke liang lahat sedang mereka tidak sempat bertaubat.

Mereka pasti akan mengetahui akibat perbuatan mereka itu dengan “ainul yaqin.” ‘(Ainul yaqin artinya melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat). Sebagai orang Islam yang mau mengubah dirinya menjadi lebih baik maka seharusnya memperhatikan firman Allah berikut.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hasyr/ 59: 18).

Dari Qur’an Surat Al Hasyr/ 59: 18 tersebut diatas jelas bahwa kita hidup di dunia ini hendaklah memperhatikan apa yang telah kita perbuat untuk hari esok yakni akhirat.

Tetapi mari kita lihat apa yang selalu terjadi di sekitar kita pada saat menjelang, menyambut dan merayakan tahun baru! Yang terjadi dari tahun ke tahun tidak semakin menunjukkan budaya orang timur yakni budaya beragama, sopan- santun atau bergotong royong tetapi yang terjadi semakin meniru budaya westernizes.

Mulai dari tempat penginapan, hiburan dan rekreasi mulai dari yang kecil sampai dengan yang besar, dari yang murah sampai dengan yang mahal mereka habiskan hanya untuk kenikmatan sesaat. Terbukti mereka hanya menikmati perayaan tersebut pada saat menjelang, menyambut dan merayakan malam pergantian tahun baru, setelah itu mereka pulang ke tempat tinggal mereka masing- masing.

Tempat- tempat hiburan tersebut tidak luput dari suguhan hiburan, hiburan yang seharusnya kita hindari. Karena sebagian besar dan bahkan semua penghibur tersebut menampakkan AURAT yang tidak seharusnya ditampakkan. Apakah mereka TIDAK TAHU OR TIDAK MAU TAHU?

Padahal ALLAH SWT telah membatasi AURAT yang bisa diperlihatkan atau yang tidak bisa, baik laki- laki or perempuan.

Melalui Q. S An Nur/ 24: 30 – 31 Allah berfirman: 30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman:

“Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat” . 31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau puteraputera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau puteraputera saudara lelaki mereka, atau puteraputera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orangorang yang beriman supaya kamu beruntung.

Dari ayat diatas jelas, aurat manakah dan kepada siapakah bisa ditampakkan. Nabi SAW bersabda mengenai aurat wanita dan laki- laki: Aurat wanita di luar rumah. ‘Aisyah berkata: Sesungguhnya Asma’ binti Abu Bakar pernah datang menghadap Nabi SAW dengan berpakaian tipis, maka beliau berpaling daripadanya dan bersabda, “Hai Asma”!, sesungguhnya seorang wanita apabila sudah baligh tidak boleh terlihat padanya melainkan ini dan ini” , beliau sambil mengisyaratkan kepada wajah dan dua tangannya. [HR. Abu Dawud]

Dan dari Abu Hurairah, ia berkata:

Rasulullah SAW bersabda, “Dua macam orang ahli neraka yang belum aku lihat, yaitu kaum yang memegang pecut (cemeti) bagaikan ekor lembu yang digunakan untuk memukul orang- orang dan orang perempuan yang berpakaian tetapi seperti telanjang dan berlenggak- lenggok kepalanya bagaikan punuk unta yang miring. Maka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapat baunya, padahal bau surga tercium dari jarak perjalanan sekian- sekian (jarak yang sangat jauh)” . [HR. Muslim]

Allah SWT juga memerintahkan kepada nabi SAW dan seluruh manusia melalui firman- Nya di dalam QS. Al Ahzaab: 59 Hai Nabi, katakanlah kepada istri- istrimu, anak- anak perempuanmu dan istri- istri orang mu’min, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka” .

Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Adapun aurat laki- laki sepanjang riwayat ialah antara pusar dan lutut.

Demikianlah saudaraku, Allah memberikan yang terbaik bagi hamba- Nya dan diingatkan pula melalui rasul- Nya nabi SAW. Mau terus menerus mengabaikan perintah ALLAH SWT or taubat yang sesungguhnya? Lantas apakah yang harus kita kerjakan pada malam tahun baru? Qiyamul lail, berfoya- foya ataukah Dzikir massal? Tentu yang lebih selamat adalah qiyamul lail dengan memperpanjang dzikir.

Qiyamul lail dan dzikir akan menjadi salah satu obat hati manusia yang hatinya sakit, yaitu yang hanya mengutamakan hawa nafsu. Dengan sering melaksanakan qiyamul lail (sholat malam), terutama shalat tahajjud akan semakin mendekatkan kita kepadaNya. Apalagi Allah juga telah menjanjikan akan memberikan “derajat yang tinggi” bagi orang yang sering bangun malam untuk beribadah kepada-Nya. Segala kegelisahan, kegundahan, kesedihan, kekhawatiran akan hilang semuanya, jika sering melaksanakan “qiyamul lail” .

Sobatku Muslim! Dari hari ini menuju ke hari berikutnya, dari bulan ini menuju ke bulan berikutnya, dari tahun ini menuju ke tahun berikutnya begitu terus bergantian, dari pergantian tersebut maka akan bergantilah angka usia kita (saat ini Januari 2016 usia kita 35 tahun, maka Januari tahun depan kita berusia 36 tahun, jika kita mengaku sebagai orang Islam yang beriman hendaklah kita bersyukur karena masih dipertemukan pada tahun baru (1 Muharam 1437 H dan juga 1 Januari 2016), maka mari kita gunakan untuk introspeksi diri, bagaimanakah dengan ibadah kita pada tahun lalu?

Sudahkah lebih besar daripada aktifitas DUNIAWI kita atau bahkan lebih kecil? Dan janganlah kita mengikuti kebanyakan orang- orang yang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya (hura- hura, makan- makan, pesta dll) karena sesungguhnya dengan bertambahnya angka usia kita, kita akan semakin dekat pada kematian. Dan sungguh benar kita akan mendapati kematian serta tidak akan bisa lari dari kematian walaupun kita bersembunyi di benteng yang tinggi lagi kokoh (QS. An Nisa/ 4: 78).

Sungguh dunia berjalan mundur (ke belakang) dan akhirat berjalan maju (ke depan) dengan cepat, hari ini amal tanpa hisab dan di hari esok adalah merupakan hisab tanpa amal, berkata Jibril AS. kepada Rasulullah SAW. Jalanilah hidup semaumu, sesungguhnya kamu pasti mati, silahkan kamu cintai orang yang ingin kau cintai, sesungguhnya kamu pasti berpisah dengannya, lakukan apa saja yang kamu inginkan, sesungguhnya kamu pasti mendapat balasannya …. (HR. Hakim, Thabrani, Abu Dawud).

Sedangkan orang yang paling banyak mengingat mati diantara mereka dan orang yang paling banyak mempersiapkan bekal untuk mati, mereka itulah orang- orang yang cerdik, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat” . (HR. Ibnu Abid-Dunya di dalam kitabul-Maut dan Thabrani di dalam Ash-Shaghir).

Sungguh jelas bahwa agama Islam mengajarkan kepada manusia untuk tidak mengikuti apapun dari orang yang tidak tahu pengetahuan tentangnya. Firman- Nya di dalam Q. S Al Israa’/ 17: 36 yang artinya:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Sedangkan di ayat lain, yakni di dalam Q. S Al An ‘am/ 6: 116

Allah berfirman: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Untuk itu Allah juga mengingatkan kaum muslimin.

Firman- Nya, “Jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (AS. Ali Imran/ 3: 196-197).

Maksudnya, kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan dan perusahaan mereka jangan sampai memperdayakan kamu sebab mereka itu hanya sedikit mendapat keni’matan duniawi.

Oleh karena itu, Allah mengancam kepada orangorang kafir dengan firman-Nya sebagai berikut: “Sesungguhnya orang-orang kafir baik harta mereka maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak adzab Allah dari mereka sedikitpun, dan mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” . (QS. Ali Imran/ 3: 116).

Hendaknya bagi segenap kaum Muslimin agar tidak terjebak dalam gaya hidup hedonistik yang dewasa ini telah membudaya di kalangan umat Islam sendiri.

Kecintaan terhadap sesuatu yang bersifat bendawi, hen daknya jangan sampai melupakan ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, apalagi sampai mengorbankan aqidah Islamiyyah yang dengan susah payah dibangun sejak kecil sampai dewasa.

Allah telah berpesan kepada kita agar jangan sampai mati kecuali dalam memeluk agama Islam. Karena hanya kaum Muslimin yang memiliki masa depan.

Kehidupan dunia bukanlah masa depan, sebab kehidupan dunia adalah “maata’un qolil” yang serba semu dan penuh dengan tipu daya.

Dengan demikian agama Islam adalah harga mati yang tidak dapat digantikan dengan apapun di dunia ini kecuali keridha’an Allah. Untuk itu melalui tulisan ini, penulis mengingatkan diri penulis, keluarga dan saudara- saudara penulis yang seiman bahwa hendaklah kita memperbanyak amal ibadah kita karena kematian akan datang setiap saat.

Marilah kita hanya mengikuti nabi SAW jika kita mengaku umatnya yang menginginkan keselamatan di dunia dan di akhirat. Pesan beliau: “Taroktufiikum amroini lan tadlillu maamasaktum bihimaa kitaaballahu wa sunatu rosulillah” Aku tinggalkan dua perkara kepadamu, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya, maka kamu tidak tersesat yaitu kitab Allah (Qur’an) dan sunnah Rasul (HR. Bukhari – Muslim).

Walaupun tahun baru datang, dzikir tetap jalan sehingga kita termasuk orang- orang yang memberi manfaat kepada manusia dikarenakan “…Sebaik-baik manusia adalahyang paling bermanfaat bagi sesama manusia…” (HR. Thabrani).

Dan kita termasuk orang- orang yang selalu menggunakan akal sehat kita demi keselamatan hidup kita, di karenakan orang- orang yang berakallah orang yang mau memperhatikan hari esok (akhirat) dan sehingga kita di tahun baru, baik di tahun baru Hijriah maupun di tahun baru Masehi kita beruntung.

Oleh Sutanto, M.Pd Dosen Bahasa INggris FIK Universitas Muhammadiyah Ponorogo. (Ketua Pemuda MTA Kab.Semarang)


Leave a Reply