Melayani, Mendidik, Mengawasi dan Menguji Dengan Hati

melayani-anak

Segala puji hanya layak untuk Allah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Saw, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

Kehidupan antar manusia senantiasa diwarnai 4 hal, yaitu melayani, mendidik, mengawasi, dan menguji. Hal ini bisa berlaku di segala lingkungan, baik dalam sebuah keluarga , dalam dunia pendidikan, lingkungan kedinasan, lingkungan perkantoran termasuk lingkungan perusahaan dan bahkan sampai di lingkungan lembaga pemasyarakatan ataupun dalam lingkungan-lingkungan yang lainnya.

Para Nabi dan Rasul dikatakan mereka biasanya tumbuh dari muda sebagai penggembala. Penggembala kambing, yang harus mengawasi dan melayani kambing-kabing ternak mereka. Bagaimana ternak ternak itu dicarikan tempat merumput yang hijau dan juga tempat berteduh yang aman. Demikian pula bagaimana usahanya untuk mengobati hewan-hewan yang sakit dan juga membuat seluruh yang digembala menjadi nyaman. Demikian pula harus mengawasi dan melindungi kambing-kambing dari terkaman serigala, atau dari ulah agresip diantara kambing-kambing yang kuat kepada kambing-kambing yang lemah.

Segala puji bagi Allah dialah Tuhan semesta Alam, Tuhan pencipta, pemilik, pemelihara semesta Alam, manusia diperintah untuk rajin beribadah kepada Allah Tuhan semesta Alam, Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Manusia yang rajin menyembah kepada-Nya maka Allah akan limpahkan IMAN dan TAQWA kepadanya, dan akan pula diberi limpahan dengan sifat-sifat baik dan mulia kepada mereka, yang akan menjadikan mereka sebagai manusia yang bijaksana di dalam menghadapi dan menyelesaikan segala masalah kehidupan. Allah berfirman dalam beberapa ayat

 

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ ﴿٢٦٩﴾

Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (QS. 2:269)

 

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْماً وَعِلْماً وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿٢٢﴾

Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepandanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 12:22)

 

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيّاً ﴿١٢﴾

Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak. (QS. 19:12)

 

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلّاً آتَيْنَا حُكْماً وَعِلْماً وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ ﴿٧٩﴾

maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum(yang lebih tepat): dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya. (QS. 21:79)

 

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْماً وَعِلْماً وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٤﴾

Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 28:14)

 

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ ﴿٢٠﴾

Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. (QS. 38:20)

 

Dengan ilmu dan hikmah yang Allah berikan kepada umat manusia maka kehidupan akan berjalan dengan lebih tertata, lebih teratur dan lebih serasi dan lancar. Lebih lebih lagi bila semua manusia di dunia ini mau membaca, mempelajari, menghayati dan mengaplikasi Al-Qur’an yang Allah turunkan, karena Al-Qur’an adalah kitab penuh Hikmah.

 

الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ ﴿١﴾

Alif Laam Raa’. Inilah ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung hikmah. (QS. 10:1)

 

وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ ﴿٢﴾

Demi al-Qur’an yang penuh hikmah, (QS. 36:2)

 

وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ ﴿٤﴾

Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (QS. 43:4)

 

Allah telah menurunkan kitab yang penuh HIKMAH, untuk dapat memahami hikmah-hikmah yang ada di dalamnya maka Allah SWT mengutus seorang Nabi yang akan menjabarkan segala hikmah yang ada dalam Kitab Suci Tersebut. Bagi orang awam di jaman ini, ketika tidak lagi menemui langsung para Nabi maka setidaknya mereka harus menempuh jalan yang ditunjukkan oleh Kitab Suci Tersebut.

 

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ ﴿١٥١﴾

Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS. 2:151)

 

لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ ﴿١٦٤﴾

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. 3:164)

 

Untuk dapat menangkap HIKMAH yang Allah turunkan, syarat mutlak yang harus ada adalah manusia harus mensucikan diri terlebih dahulu dari perbuatan dosa. Manusia manusia yang masih suka bergelimang dalam dosa, masih merasa nyaman dengan mengikuti syaitan dan hawa nafsu, maka tidak akan mampu menangkap hikmah yang Allah berikan kepada meraka. Namun kengganan manusia untuk menerima hikmah dari Allah hanya akan membawa mereka berakhir ke dalam siksa API NERAKA

 

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلاً ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ ﴿٢٧﴾

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (QS. 38:27)

 

  1. Lingkungan Pendidikan

Peran Guru adalah peran yang sangat penting, misalnya GURU yang mengajar tentang masalah ketrampilan dunia, maka guru tersebut harus mampu untuk segera cepat menangkap sesuatu yang baru dan dianggap sulit oleh orang awam, sehingga dengan kelebihan kepadainnya itu maka para GURU akan bisa mengajari muritnya untuk menguasai ketrampilan tersebut dengan lebih cepat dan tepat.

Bila setiap guru memiliki hati nurani yang bersih memiliki iman dan taqwa , maka mereka akan mengajari dan mendidik murit nya dengan hati. Mereka mengajari dan mendidik muritnya tidak sekedar mengejar Gaji bulanan yang akan dia terima, namun dibalik itu dia ingin mendapatkan balasan dari setiap perbuatan baiknya yang telah ia lakukan kepada murit muritnya untuk mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT.

Guru disatu sisi harus mendidik muritnya untuk memiliki akhlaq yang baik. Sehingga ilmu ketrampilan Dunia yang ditularkan kepada muritnya nantinya akan digunakan untuk berbuat baik. Guru yang baik juga menyadari bahwa dia harus mencetak generasi penerus yang lebih baik dan lebih unggul dari pada dirinya.

Apalagi guru yang mengajarkan tentang masalah moral, akhlaq dan agama. Lemahnya generasi penerus dalam menghayati dan mengamalkan masalah agama, boleh jadi disebabkan kesalahan para guru dalam membawakan dan menyampaikan ilmu tersebut kepada muritnya. Mungkin sang guru sendiri belum mampu mengimani dan mengamalkan ilmunya dengan benar, sehingga akhirnya murit kesulitan dalam memahami dan mengamalkan.

 

  1. Lingkungan Keamanan dan Ketertipan Umum

Keberhasilan di dalam lingkungan pendidikan akan berimbas kuat kepada lingkungan keamanan dan ketertipan. Seharusnya apa yang di utamakan di lingkungan keamanan dan ketertiban adalah usaha PENCEGAHAN sebelum PENINDAKAN.

Bila para petugas Keamanan dan ketertiban bisa melakukan 3 hal saja kepada masyarakat mungkin saja langkah pencegahan akan menyelesaikan tanpa lagi penindakan. Mendidik, menguji dan mengawasi, adalah 3 hal yang akan memastikan bahwa seluruh masyarakat sudah memahami akan cara-cara mewujudkan keamanan dan ketertipan.

Disamping itu aparat harus juga memiliki jiwa melayani. Melayani bukanlah pekerjaan rendah seperti yang kita anggap rendahnya pandangan orang terhadap pelayan rumah tangga. Namun seorang pelayan yang berbuat dengan Hati, berbuat karena didasari dengan ilmu, iman dan amal sholih, maka apa yang dilakukannya untuk melayani, adalah tabungan pahala yang melimpah ruah di Akherat di sisi Allah SWT.

Boleh jadi simulasi simulasi tentang mendidik, menguji dan mengawasi masyarakat belum pernah diteliti dan diterapkan dalam pelaksanaan sebuah peraturan tentang keamanan dan ketertipan, sehingga banyak orang yang tidak tahu bahwa dirinya telah melanggar keamanan dan ketertipan. Atau juga karena masyarakat sering melihat ketidak adilan ditengah penertiban dan pengamanan, sehingga masyarakat lebih suka mengambil jalan pintas untuk tidak tertip dan tidak aman.

Menertibkan dan mengamankan dengan HATI, dengan ilmu, iman dan amal sholih, setidaknya seorang petugas keamanan dan ketertipan akan berpikir dan menggunakan dengan rasa hati, bila saja masalah masalah sulit itu mengenai keluarga atau dirinya sendiri. Disamping itu juga ketidak tepatan dalam menyelesaikan masalah, atau kesalahan yang disengaja dalam menyelesaikan sebuah masalah, hal buruk tersebut akan dapat menjadi balasan buruk yang akan kembali kepada diri masing-masing petugas.

Rasulullah mengingatkan kepada kita untuk berhati-hati dengan akibat buruk dari perbuatan dzalim dan juga hati-hati dari do’a orang yang di dzalimi, karena tidak ada hijab antara dia dengan sang Pencipta (Allah SWT) walaupun yang berdoa itu orang yang masih Kafir.

 

  1. Lingkungan Perusahaan dan Lingkungan Yang lain

Dalam dunia perusahaan yang mengejar keuntungan yang diharapkan terus membesar, biasanya 4 hal penting melayani, mendidik, mengawasi dan menguji merupakan sesuatu yang terus menerus dilakukan penyempurnaan.

Bila perusahaan ingin tetap berdiri dengan kokoh dan kuat maka empat hal tersebut sering dijabarkan dengan sangat rinci dan kemudian sering juga disimulasi dan kemudian terus menerus dilakukan penyempurnaan padanya. Keuntungan materi yang segera didapat oleh perusahaan menjadikan setiap masalah yang menyangkut kemajuan perusahaan menjadi sesuaatu yang penting untuk diperbaharui dan disosialisasikan pada seluruh pihak yang berhubungan dengannya.

Sebenarnya 4 hal penting yaitu melayani, mendidik, mengawasi dan menguji bukanlah menjadi hal yang penting hanya di sebuah perusahaan yang terus ingin maju. Namun juga di setiap lembaga apapun yang ingin terus maju. Termasuk di dalam lembaga lembaga DAKWAH pun juga harus mengikuti , disana sini kita melihat perusahaan yang maju pesat dan terus menyempurnakan diri dengan berbagai inovasi-inovasi yang menjadikan perusahaan semakin kokoh dan besar.

Maka demikian pula sebuah LEMBAGA DAKWAH yang punya potensi untuk tumbuh membesar, kokoh kuat dan MENGGLOBAL maka proses melayani, mendidik, mengawasi dan menguji perlu di wujudkan dalam setiap proses membangun seluruh elemen dakwah, Dengan proses proses yang telah definitip, maka memudahkan seluruh elemen-elemen pendukung dakwah untuk mengukur tingkat keberhasilan dakwah dan tetap menjaga agar semua elemen dakwah dalam kondisi optimal.

Namun semuanya itu tetap saja tidak akan pernah lepas dari kehendak Allah SWT. La hawla wala quwwata ila billah (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali semua dengan kehendak dan pertolongan Allah SWT). Manusia hanya bisa berusaha dan menyempurnakan diri pada hukum sebab akibat yang diketahui. Namun sebab sebab lain yang belum dan tidak diketahui tentu lebih banyak lagi.   Wallâhu a’lam

 


Leave a Reply