Larangan Menyekutukan Allah dengan Kesuksesan Dunia

kemewahan-dunia-mta

Segala puji hanya layak untuk Allah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Saw, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

Rasulullah telah menyampaikan bahwa barang siapa yang menghayati 10 ayat awal S Al-Kahfi atau juga 10 ayat akhir S Al-Kahfi, agar terjaga dari fitnah Dajjal. Dan bila kita mau membaca surat tersebut, diawal surat tersebut ada sekelompok manusia yang mengatakan bahwa Tuhan beranak, dan di akhir surat tersebut diperintahkan kepada orang beriman untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.

 

Surat Al-Kahfi, didalamnya ada kisah pemuda-pemuda beriman yang diselamatkan oleh Allah, disebabkan karena mereka memagang teguh iman yang lurus mereka terpaksa harus mengasingkan diri, adan akhirnya ditidurkan oleh Allah SWT selama 300 tahun lebih 9 tahun, atau ditidurkan oleh Allah selama 3 Abad. Begitu pentingnya Aqidah Tauhid, keyakinan hati untuk Mengesakan Allah, sampai-sampai mereka harus mengasingkan diri karena memegang Aqidah Tauhid.

 

Zaman Modern Zaman penuh gemerlapnya Harta Benda, S Al-Kahfi memberi pelajaran tentang dua orang, yang satu menyekutukan Allah dengan harta benda, yang satunya lagi meyakini bahwa segala harta benda sebagai alat untuk bersyukur dan beribadah kepada Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلاً رَّجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعاً ﴿٣٢﴾ كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئاً وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَراً ﴿٣٣﴾ وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنكَ مَالاً وَأَعَزُّ نَفَراً ﴿٣٤﴾ وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَذِهِ أَبَداً ﴿٣٥﴾ وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْراً مِّنْهَا مُنقَلَباً ﴿٣٦﴾

 

Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang diantara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan diantara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. (QS. 18:32)

 Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,” (QS. 18:33)

 dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu’min) ketika ia bercakap-cakap dengan dia:”Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”. (QS. 18:34)

 Dan dia memasuki kebunnya sedang ia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata:”Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, (QS. 18:35)

 dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu”. (QS. 18:36)

 

قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلاً ﴿٣٧﴾ لَّكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَداً ﴿٣٨﴾ وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِن تُرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالاً وَوَلَداً ﴿٣٩﴾ فَعَسَى رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْراً مِّن جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَاناً مِّنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيداً زَلَقاً ﴿٤٠﴾ أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْراً فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَباً ﴿٤١﴾ وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَداً ﴿٤٢﴾ وَلَمْ تَكُن لَّهُ فِئَةٌ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِراً ﴿٤٣﴾ هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ هُوَ خَيْرٌ ثَوَاباً وَخَيْرٌ عُقْباً ﴿٤٤﴾

 

Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya :”Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna (QS. 18:37)

 Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. (QS. 18:38)

 Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “Maasyaa Allah, laa quwwata illaa billah” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, (QS. 18:39)

 maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; (QS. 18:40)

 atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. (QS. 18:41)

 Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”. (QS. 18:42)

 Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya, (QS. 18:43)

 Disana pertolongan itu hanya dari Allah yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan. (QS. 18:44)

 

 

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاء أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيماً تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِراً ﴿٤٥﴾ الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً ﴿٤٦﴾

 

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 18:45)

 Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. 18:46)

 

Ayat 32 sampai ayat 36 adalah sikap hati dan perasaan orang yang bangga diri dengan harta, kekuasaan, dan segala usaha-usaha sukses di dunia. Seolah semuanya sudah final, tidak hirau dengan kehidupan akherat, dan bahkan dia merasa bahwa dengan kesuksesan dalam harta benda dan kekuasaan di dunia itu, besok di akherat akan ditempatkan di tempat yang terhormat.

 

Ayat 37, adalah sikap hati seorang mukmin, seorang beriman, mengingatkan kepada dirinya bahwa dirinya tidak berdaya sama sekali, bahkan Allah SWT lah telah menumbuhkan dirinya dari setitik air mani, dirinya benar-benar tidak berdaya.

 

Sikap seorang mukmin harus selalu sadar bahwa apapun pertumbuhan yang ada di muka bumi, dari zaman duli hingga saat ini, dalam segala usahanya disana ada campur tangan Allah, sehingga setiap manusia harus mengutamakan untuk selalu beribadah kepada Allah, dan aktifitas yang lain juga merupakan aktifitas syukur kepada Allah.

 

Ketika segala usahanya berhasil maka apa yang harus diucapkan adalah, “Maasyaa Allah, laa quwwata illaa billah” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Dan hati serta perasaan semua diposisikan untuk selalu menyadari bahwa keberhasilan itu adalah atas pertolongan Allah semata.

 

Ayat 40 sampai ayat 44, ketika orang yang membanggakan hartanya, usahanya, dunianya, dan kemudian tiba-tiba terkena musibah , dan bahkan terkena bencana kehancuran, barulah sadar bahwa memang sikap hatinya selama ini salah. Seharusnya manusia tidak membanggakan dirinya, usahanya, atau kesungguhannya dalam menggapai kesuksesan dunia, namun seharusnya semuanya itu dikelola dalam rangka mengagungkan Allah, bersyukur kepada Allah.

 

Ayat 45 dan 46, Allah SWT memberitahu tentang hakekat kehidupan dunia, antara pertumbuhan dan kemunduran senantiasa silih berganti. Ibarat musim yang selalu berganti, antara kering dan hujan, antara panas dan dingin, demikian pula belum tentu usaha yang dilakukan senantiasa sukses dan menuai keberhasilan, namun juga sering harus gagal dan menuai kebangkrutan.

 

Allah menunjukkan jalan-jalan yang selalu menuai keuntungan, Jalan yang kekal di dalam menuai keuntungan,

وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً .

Para ulama berusaha menjelaskan tentang sesuatu yang utama dalam kehidupan di dunia ini yaitu, “al-baaqiyaatush sholihah” sebuah amal yang lebih baik disisi Allah dan lebih kekal disisiNya, dibanding sekedar kerja keras membangun dunia tanpa ada tujuan ibadah kepada Allah.

 

Ibnu Abbas dan Said bin Jubair mengatakan “al-baaqiyaatush sholihah”   adalah sholat wajib lima waktu. Ada juga yang mengatakan ia adalah kalimat dzikir subhânallâh, alhamdulillâh, lâ ilâha illallâh, allâhu akbar, lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyil ‘azhim.

 

Namun ada pula yang menyebutkan seluruh amal kebaikan yang dituntunkan oleh Islam, seperti mendirikan sholat, berpuasa, membayar zakat, berhaji, membebaskan budak, jihad di jalan Allah, menyambung silaturahmi, perkatan yang baik dll.

 

Dengan melakukan kebaikan-kebaikan itu semua karena menjalankan ketaatan kepada Allah maka amal-amal tersebut akan mendapatkan pahala yang akan dipetik di dunia dan di akherat kelal selamanya.

 

Zaman modern, zaman melimpah harta benda, bila manusia tidak mendasari diri dengan ilmu Islam, iman dan amal sholih serta taqwa kepada Allah, maka waktu manusia bisa habis sekedar untuk diisi dengan aktifitas kesenangan dunia tanpa ada tujuan ibadah kepada Allah. Dunia yang gemerlap bisa menyilaukan manusia sehingga banyak manusia yang melupakan Allah karena sangat sibuk dengan aktifitas kesuksesan membangun dunia.

 

Rasulullah telah bersabda kepada kita semua, tentang taman-taman surga di dunia yang disana selalu didatangi para malaikat.

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

 

dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian melewati taman Surga, maka perbanyaklah dzikir!” Aku katakan; apakah taman Surga itu wahai Rasulullah? Beliau mengatakan: “Kelompok-kelompok dzikir (majlis ilmu).” (TIRMIDZI – 3432)

 

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ الْمَسَاجِدُ قُلْتُ وَمَا الرَّتْعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

 

dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian melewati taman Surga, maka merumputlah!” Aku katakan; apakah taman Surga itu wahai Rasulullah? Beliau mengatakan: “Masjid-masjid.” Aku katakan; dan apakah rumputnya wahai Rasulullah? Beliau mengtakan: “SUBHAANALLAAHI WAL HAMDULILLAAHI WA LAA ILAAHA ILLALLAAHU WALLAAHU AKBAR” (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar). (TIRMIDZI – 3431)

 

Segala puji bagi Allah, sesaknya aktifitas membangun dunia di zaman ini seringkali manusia sangat disibukkan dengan berbagai urusan phisik dan materi, sehingga kadang sesuatu yang lebih kekal dan merupakan kebutuhan jiwa terlalaikan. Sehingga jiwa semakin rapuh dan semakin mudah berpaling kepada dunia yang semakin gemerlap.

 

Marilah kita ingat kembali tentang asal-usul kita, dan tujuan akhir kita, dan sekaligus marilah kita isi kehidupan di dunia ini dengan kebaikan-kebaikan yang bersifat KEKAL. Sesuai yang diajarkan oleh Allah SWT lewat Rasulullah Muhammad SAW

Wallâhu a’lam


Leave a Reply