Bahaya Syirik Tradisi Malam 1 Muharram

malam-1-syuroMalam kian larut, dari dalam keraton Surakarta sayup-sayup terdengar gamelan dengan irama yang mendayu-dayu, suaranya yang lembut mampu menciptakan suasana yang khidmad sebuah prosesi menyambut datangnya bulan Muharram atau Suro (jawa).

Hilir mudik beberapa perempuan setengah baya dengan pakaian khas sebatas dada (kemben) membawa baki nampan berisi makanan yang dihiasi bunga-bunga untuk sesaji dan menyusunnya dengan rapi di tempat yang sudah dipersiapkan.

Detik-detik prosesi malam 1 Sura pun dimulai. Beberapa laki-laki dan perempuan dengan dandanan khas bangsawan mulai duduk mengitari tempat sesaji. Disekitar tempat prosesi ratusan abdi dalem keraton dengan pakaian khas duduk bersila melingkar menambah kesan penuh misteri.

Suara gamelan makin lirih hingga senyap. Pemimpin prosesi kirab pusaka 1 Suro memberikan aba-aba pertanda prosesi tradisi keraton ini dimulai, sontak terdengar dengungan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kesan mistis berawal dengan dibacakannya ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibarengi dengan kepulan asap dupa dan kemenyan yang dibakar.

Bau harum menyengat hidung memenuhi pendapa keraton yang dipadati pengunjung ini. Menjelang tengah malam dimulailah kirab pusaka keraton yang diawali dengan kirab (kerbau bule) salah satu binatang yang dikeramatkan dan dianggap sebagai pusaka keraton.

Ribuan pengunjung memadati seputaran tempat yang dilalui kirab pusaka. Kirab pusaka dimulai dengan ritual memberikan makan dan minum kerbau yang konon dipanggil dengan sebutan “Kiai Slamet”. Malam itu kerbau Kiai Slamet dimanjakan. Badannya dibersihkan, dielus-elus dan diberi kalung dari untaian bunga kanthil yang wangi.

Kiai Slamet diberi minum kopi yang disediakan dalam dua buah ember besar, dan disediakan pula satu ember air yang ditaburi aneka ragam bunga.disebelahnya diletakkan tempat sesaji. Sedangkan untuk makan diberi ketela. Sebelum minum dan makan rombongan kiai slamet diberi kalung dari bunga yang semerbak wangi, setelah sebelumnya diadakan ritual khusus oleh seorang perempuan disertai pembakaran dupa dan kemenyan serta mantra yang entah apa yang di ucapkan.

Inilah puncak ritual yang ditunggu-tunggu mereka yang ingin ngalap berkah. Mereka yang punya niat ngalap berkah kebanyakan datang dari luar kota. Jauh-jauh datang dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang membuatnya mendapatkan keberkahan dalam hidupnya.

Mereka berebut untuk mendapatkan apa saja dari sisa-sisa ritual. Berebut sisa makanan dan minuman Kerbau Kyai Slamet, peralatan sesaji lainnya yakni air bunga yang disediakan untuk kerbau Kiai Slamet serta kotoran (tlethong)nya pun jadi incaran untuk diperebutkan.

Bahkan janur yang menghias tempat prosesipun dijadikan rebutan karena dianggap memberikan berkah. “Naudzubillahi min dzalik” beginilah kondisi masyarakat kita.

Masih banyak cara-cara tak lazim yang dilakukan masyarakat dalam menyambut bulan Muharram diantaranya adalah dengan ritual mengunjungi tempat-tempat keramat, saling melempar makanan (apem), nasi dll, menyepi (bertapa), berendam di tempuran (pertemuan dua buah sungai), dll.

Semua itu adalah perbuatan yang sangat jauh dari petunjuk, yakni Al-Qur’an dan Asunnah. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah “mengapa masyarakat kita melakukan hal yang demikian dalam menyambut bulan Muharram (1 Suro)?”

Jawabnya adalah : karena dalam masyarakat kita punya keyakinan yang salah terhadap bulan Muharram.

Untuk itu perlu diadakan upaya untuk mendidik dan mencerdaskan masyarakat sehingga masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berbau mistis yang cenderung masuk dalam ke syirik an. Penulis punya keyakinan bahwa mereka yang melakukan ritual-ritual dalam bulan Muharram (Suro) ini adalah kurangnya pengetahuan tentang agama Islam.

Karena Islam tidak pernah mengenal ritual-ritual tersebut diatas yang oleh mereka dianggapnya sebuah ibadah. Padahal ibadah apa pun bentuknya adalah haram diperuntukkan kepada selain Allah Ta’ala.

Dan tawakkal, minta keselamatan, minta pertolongan, takut dan mengharap adalah ibadah, dan yang lain sebagainya dari macammacam ibadah semuanya hanya untuk Allah Ta’ala. Inilah prinsip tauhid, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata, yang menjadi landasan paling mendasar di dalam Islam. Barangsiapa yang melanggarnya maka ia jatuh ke dalam kesyirikan.

Kecil atau besarnya kesyirikan tersebut tergantung jenis pelanggarannya. Dan sudah merupakan prinsip agama ini bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi.

Setiap peribadahan kepada selain Allah Ta’ala adalah ibadah yang batil dan pelakunya terancam kekal di neraka jahannam apabila tidak bertaubat dari perbuatannya. Allah Ta’ala berfirman.

“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. [QS. Al Hajj 62]

Anggapan Sial

Dalam pandangan masyarakat Jawa, Muharram (Suro) merupakan bulan keramat. Sehingga sebagian dari mereka tidak berani untuk menyelenggarkan suatu acara terutama hajatan dan pernikahan. Bila tidak diindahkan diyakini akan menimbulkan petaka dan kesengsaraan bagi mempelai berdua dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Sebuah anggapan yang salah dengan mengatakan bulan Muharram adalah bulan keramat dan akan mendatangkan kesialan kepada manusia. Dan itu adalah perbuatan syirik. Mungkin karena ketidak pahamannya tentang agama yang menjadikan mereka berbondong-bondong menuju tempat ritual untuk menghilangkan sial dan sekaligus ngalap berkah.

Padahal kesialan itu dijelaskan dalam firman Allah:

“………….sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.[QS. Al A’raaf 131]

Hari, minggu, atau bulan. Tidak akan dapat mendatangkan kesialan maupun keberuntungan seseorang. Semua nasib manusia baik itu sial maupun beruntung akan berjalan sesuai sunatullah.

Anggapan Saat yang tepat untuk “Ngalap Berkah” Masyarakat jawa meyakini bahwa bulan Muharran (Suro) adalah saat yang tepat untuk ngalap berkah (mencari berkah). Dan dalam bulan Muharram (Suro) ini mereka akan selalu mengistimewakannya dengan berbagai ritual yang mereka yakini mampu membawa hidup mereka penuh dengan berkah, banyak rezeki dan jauh dari kesialan.

Padahal apa yang mereka lakukan sesungguhnya akan mengundang murka Allah Ta’ala. Padahal kalau mereka mau dengan sungguh-sungguh mencari petunjuk yang lurus dalam hidupnya maka merekapun akan mengerti bahwa hanya Allah yang memberi rezeki kepada mereka, tiada yang lain.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz)”.[QS. Hud 6 ]

Syirik berarti keluar dari Islam.

Keyakinan yang berkaitan dengan ngalap berkah dari Kiai Slamet, Jamasan, pusaka-pusaka, mendatangi tempat-tempat keramat, adalah merupakan keyakinan yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.

Hal ini karena pelaku ngalap berkah beranggapan dengan cara yang seperti itu akan mendatangkan keselamatan, keberkahan, yang berarti mempunyai keyakinan bahwa ada dzat lain yang mampu mendatangkan keselamatan atau berkah serta menolak bahaya selain Allah.

Akan tetapi apabila mereka ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, mereka akan menjawab “Allah”.. Dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala menerangkan:

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: «Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?», niscaya mereka menjawab: «Allah». Katakanlah: «Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudaratan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: «Cukuplah Allah bagiku». Kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri”.[QS. Az Zumar 38]

Barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka ia adalah musyrik dan kafir. Allah berfirman:

“Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.”[QS. Al Mukminuun 117]

Dan Allah Ta’ala menjelaskan bahwa pelaku kesyirikan kekal di neraka jahannam pada ayat-Nya:

“………Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun”. [QS. Al Maidah 72]

Maka, apakah patut kita menyamakan kekuasaan Allah Ta’ala, Yang Maha Esa, Yang Maha Perkasa dengan makhluk yang lemah? Apalagi dengan hewan, keris, akik, dan patung, rajah huruf arab, yang semuanya hanyalah seonggok benda mati yang akan musnah….(Roe)
kenapa mengaji di mta


One Response to “Bahaya Syirik Tradisi Malam 1 Muharram”

  1. 1
    Nur Syamsu Kurnia Says:

    Allahumma ajrni minan naar. Semoga MTA semakin dikenal luas di masyarakat, bahkan di dunia. TV MTA belum bisa saya akses. Apakah harus pasang TV Kabel ya ..? Jangan lupa untuk direncanakan versi bahasa asing. BarakAllahu fiina jami’an.

Leave a Reply