Islam Takbisa Tegak Tanpa KEBERSAMAAN

kenapa memilih mengaji mtaPEREMPUAN punya peranan beragama,bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam kehidupan berumah tangga, kaum perempuan sebagai seorang ibu adalah ratu dalam mengelola rumah tangga yang menjadi pemegang kunci keluarga sempurna.

Dia bertanggungjawab mengelola keuangan, menyiapkan kebutuhan nutrisi, menentukan pakaian buat anak-anaknya, serta yang paling penting adalah madrasah bagi anak-anaknya. Dengan gizi yang baik, pakaian yang baik (menutup aurat) serta pendidikan yang baik (tentang akidah) adalah modal utama dalam meningkatkan kualitas sebuah generasi.

Bilamana sejak dini anak-anaknya diberikan pengetahuan tentang agama yang benar, maka segala bentuk kemakshiyatan akan bisa diminimalisir. Untuk itulah yayasan Majlis Tafsir AlQur’an (MTA) sangat intensif dalam meningkatkan kualitas warganya dalam mengamalkan hasil kajiannya. Terutama peningkatan kualitas ditujukan kepada generasi-generasi penerus agar mendapatkan pendidikan agama yang baik dan benar serta betul-betul diwujudkan dalam bentuk pengamalan ke dalam kehidupannya sehari-hari.

Karena pentingnya peranan seorang ibu, maka diadakanlah pengajian khusus ibu-ibu yang dibina langsung oleh ustadzah Rahayu Utami Sari, SH,S p.N. Disela-sela kesibukannya disempatkannya memberikan taushiyah kepada ibu-ibu warga MTA disetiap cabang dan perwakilan secara bergilir.

Pada ahad (30/8) lalu, dia hadir MTA cabang Pondok Cabe untuk memberikan taushiyah kepada ibu-ibu warga MTA se Jabodetabek. Kedatangannya disambut juga oleh ibu-ibu simpatisan dan pendengar dan pemirsa Radio TV MTA. yang sejak pagi memadati gedung berkapasitas seribuan ini.

Inti dari taushiyah yang disampaikan adalah sebagai berikut :

Sibuk bukan alasan Sesibuk apapun seorang ibu harus memperhatikan anaknya. Khususnya dalam mendidik anak harus dengan kasih sayang, dan diarahkan anak-anaknya untuk menjadi seorang yang sholeh dan sholehah. Untuk itulah pendidikan tentang akhlaqul karimah harus yang paling diutamakan.

Pendidikan yang mengarah kepada kehidupan yang Islami akan menumbuhkan generasi-generasi penerus yang memahami betapa pentingnya sebuah perjuangan. Baik perjuangan dalam menggapai kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat kelak.

Tujuan dari diterapkannya pendidikan agama (Islam) sejak dini adalah agar menjadi manusia yang tidak terperdaya oleh kehidupan dunia, Allah berfirman:

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. [QS.Fatir 5]

Dari ayat tersebut diatas bisa diambil pelajaran bahwa syaithan akan menipu manusia dengan menjadikan manusia tidak berdaya menghadapi kehidupan dunia hingga tersesat dari jalan Allah. dan disini peranan seorang ibu adalah benteng pertama dalam menjaga anak-anaknya dari pengaruh buruk kehidupan duniawi. dan ibu merupakan guru yang pertama kali mengajarkan pengetahuan kepada anak-anaknya.

Ibu yang baik yang taat beribadah, akan senantiasa membimbing anak-anaknya agar memiliki pengetahuan agama yang kuat, sehingga ada kemampuan bertahan menghadapi godaan dan cobaan nantinya.

Membangun komunikasi yang baik Seorang ibu harus mampu membangun komunaksi yang baik dalam keluarga, baik itu komunikasi dengan suami maupun komunikasi dengan anak.

Seorang ibu harus mengerti betul karakter dari anak-anaknya. Dengan membangun komunikasi yang baik maka anak akan merasa mendapatkan tempat mengadu dan tempat mencari solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi. Ibu haruslah menjadi tempat anak mencurahkan isi hatinya.

Dengan demikian ibu akan bisa mengarahkan anak-anaknya kepada hal-hal yang baik. Begitu pula terhadap suami, tempatkanlah suami kepada hal-hal yang layak untuk menjaga kewibawaannya.

Hubungan baik dan terbuka dengan suami dengan membicarakan permasalahan anak-anaknya akan lebih memudahkan dalam penerapan aturanaturan yang dibuat sehingga menjadi rumah tangga yang terarah,teratur dan bisa menjadi panutan bagi warga sekitarnya.

Siap menghadapi Ujian dan Tantangan Dalam menjalankan bahtera rumah tangga yang sesuai dengan petunjuk Allah (AL-Qur’an) dan Sunnah Nabi bukanlah hal yang mudah dan ringan.

Ujian akan datang bahkan ada disertai rintangan. Banyak masyarakat sekitar yang menganggap asing bagi orang-orang yang benar-benar mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah. Sehingga karena kekurang pahaman kebanyakan orang terhadap agama Allah inilah yang sering menimbulkan gesekan karena perbedaan.

Hal inilah yang menyebabkan munculnya berbagai rintangan. Bagi ibu-ibu yang baru saja bergabung dengan kajian ini mungkin akan mengalami berbagai hambatan, ujian dalam mengamalkan hasil kajian dilingkungan masing-masing. Janganlah putus asa menghadapi semua ujian tersebut.

BANNER-DAKWAH-SEORANG-IBU

Rasulullah dalam suatu riwayat telah bersabda:

“Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dengan asing (tidak umum), dan akan kembali dengan asing lagi seperti pada mulanya datang. Maka berbahagialah bagi orangorang yang asing” . Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing itu ?” . Beliau bersabda, “Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya manusia” . Dan di lain riwayat beliau ditanya (tentang orang-orang yang asing), beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang menghidup-hidupkan apa-apa yang telah dimatikan manusia daripada sunnahku”. [HR. Muslim, Ibnu Majah dan Thabrani]

Dalam riwayat lain bagi imam Ibnu Wahab, beliau SAW bersabda :
Kebahagiaan bagi orang-orang yang asing, yaitu mereka yang berpegang teguh dengan kitab Allah ketika ditinggalkan orang banyak dan mengerjakan dengan sunnah ketika sunnah itu dipadamkan orang banyak.

Dari riwayat tersebut kita dapat memahami betapa beratnya tugas Rasulullah SAW dan tugas para da’i masa mendatang memperbaiki akhlaq manusia jahiliyah, jahil terhadap kebenaran, berhati kasar, hidup hanya memperturutkan hawa nafsunya.

Sedang tugas seorang ibu adalah menjadi da’i-da’i bagi anak-anaknya yang harus dipersiapkan untuk menghadapi masa depan dengan tetap di jalan Allah. Sekalipun harus menghadapi tantangan yang berat, karena pada masa-masa tersebut dimana petunjuk dari Allah dan sunnahsunnah Rasulullah dipadamkan orang banyak, sehingga tampak asinglah bagi mereka yang tetap berpegang teguh dengannya.

Pentingnya kebersamaan Kebersamaan adalah identik dengan persatuan. Dalam kesempatan ini disampaikan kepada ibu-ibu yang hadir hendaklah menjaga persatuan dan kebersamaan. Dengan adanya kebersamaan yang kuat maka bagi saudaranya yang mengalami kesusahan dapat dibantu hingga diantara warga akan muncul ikatan hati yang kuat.

Dan inilah yang harus disyukuri, karena Allah telah menyatukan hati semuanya sehingga terciptalah kebersamaan dan persatuan yang kuat.

Hidup dalam ikatan ahti yang kuat karena Allah Ta’ala. Seperti halnya yang Allah firmankan :

Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana [QS.Al-Anfal 63]

dan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah telah bersabda:
“Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik dari pada pahala shalat, puasa dan shadaqah ?” Para sahabat menjawab : “Tentu ya Rasulullah». Nabi SAW bersabda : “Memperbaiki hubungan sesama saudara, karena rusaknya persaudaraan itu adalah pencukur” . Tirmidzi berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Aku tidak memaksud kan mencukur rambut, tetapi mencukur (menghilangkan) agama”. [HR. Tirmidzi dan Abu Dawud].

Bagi siapa saja yang berusaha untuk merusak persaudaraan maka dia telah mencukur atau menghilangkan agama yang diridhai Allah ini. Karena Islam adalah satu.

Menutup taushiyahnya ustadzah Rahayu Utami Sari berpesan agar semua ibu-ibu warga MTA bisa menjaga kebersamaan. Karena tanpa kebersamaan tidak akan ada artinya dalam beragama. Karena Islam itu tidak akan bisa tegak tanpa adanya kebersamaan.[Hbib/Roe]

kenapa mengaji di mta


Leave a Reply