Waktu Berlalu..Hatipun MEMBATU

waktu-berlalu-hati-membatu

Alhamdulillah, wasshalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillah. Manusia makhluk mulia yang paling banyak mendapatkan nikmat dariNya. Dengan petunjuk agama mengantarkan manusia dalam mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dalam rangka menghambakan diri kepada Allah.

Allah senantiasa mengajak kita berfikir, karena Allah telah memberikan nikmat berupa akal. Dan inilah nikmat yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Oleh karena itu marilah kita gunakan akal ini dengan sebaik-baiknya. Banyak ayat yang menekankan agar manusia menggunakan akalnya.  Allah berfirman :

أَفَمَنْ شَرَحَ اللهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللهِ أُولَئِكَ فِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. Az Zumar [39]: 22)

Ayat ini mengajak kepada manusia untuk senantiasa berfikir. Ada sekelompok manusia yang dibukakan hatinya oleh Allah, kemudian setelah hatinya terbuka dia mau menerima agama Islam ini dengan lapang dada, maka Allah meneranginya dengan petunjuk dan dia berjalan di atas petunjuk dari Allah. Berikutnya ada sekelompok manusia yang  membatu hatinya untuk mengingat Allah, sehingga karena mereka tidak menghiraukan akan keberadaan Allah dengan segala apa yang dijanjikanNya, juga dengan segala apa yang disyareatkanNya, maka mereka nyata-nyata berjalan di dalam kegelapan/kesesatan.

Selanjutnya Allah mengajak manusia untuk menggunakan akalnya, membandingkan kedua kelompok tersebut apakah sama ? Dan jawabnya tentu tidak sama, bahkan Allah memvonisnya dengan  menyatakan : “Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah.

Di dalam kehidupan, manusia dihadapkan pada realitas, orang-orang yang mengaku beragama Islam, bahkan sedikit banyak juga mengetahui ajaran Islam,  namun tidak meau melaksanakan/mengamalkannya. Mengapa demikian ? Bisa jadi karena kurangnya rasa iman di dalam dadanya sehingga tidak ada keberanian dalam mengamalkannya. Karena tidak yakin dengan janji-janji Allah. Barangsiapa yang sungguh-sungguh di jalan Allah maka Allah akan menunjukkan jalan-jalanNya. (29:69). Jika manusia menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongnya, dan meneguhkan pendiriannya. (47:7)

Setelah kita mengetahui perbandingan dua kelompok tersebut tidak sama, maka marilah kita berintrospeksi diri, kita masuk kelompok / golongan yang mana. Golongan yang diberi petunjuk oleh Allah kemudian kita mengikutinya dengan lapang, dengan ringan dan dengan ridha, sehingga hidup kita disinari dengan petunjukNya. Atau justru kita tersemasuk golongan yang hatinya keras membatu, sehingga sama saja bagi kita diberi peringatan atau tidak, karena penglihatan, pendengaran dan hati telah tertutup dari petunjuk hidayahNya. (2:6-7)

Di ayat yang lain, Allah menyebutkan hati yang jauh dari mengingat Allah itu kerasnya melebihi batu. QS. Al Baqarah : 74

 ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ اْلأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَآءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Baqarah [2] : 74)

Sekeras-kerasnya batu, karena tetesan air yang terus menerus menetes akan membuatnya berlobang. Sehingga diantara batu-batu yang keras itu bisa mengalir sungai-sungai dari padanya. Bahkan ada yang terbelah sehingga terjadilah air terjun seperti di gerojogan sewu. Tetapi hati yang keras sudah tidak mempan dengan tetesan hidayah Allah yang menyejukkan.

Allah telah menurunkan “AHSANUL HADIITS” (perkataan yang paling baik) yaitu Al Qur’an. Sifat-sifat dari Al-Qur’an ini adalah diantara ayat-ayatnya ada kesamaan mutu lagi berulang-ulang. Meskipun diulang-ulang tidak menjadikan manusia bosan tetapi justru semakin bertambah keimanannya.

Inilah yang membedakan Al Qur’an sebagai bacaan berbeda dengan bacaan-bacaan yang lainnya. Bacaan-bacaan selain Al-Qur’an  terasa basi jika sudah kita baca berulang kali.

Dengan Al Qur’an yang dibacakan, bagi orang-orang yang  khusyu’ (takut) kepada Tuhannya, kulit mereka akan gemetar (merinding), karena takut dengan ancaman-ancaman Allah. Dan kulit mereka pun menjadi tenang kembali setelah ingat dengan janji-janji Allah yang menggembirakan baik untuk kehidupan di dunia dan apalagi nanti di akherat. Demikianlah kedahsyatan Al Qur’an yang diterangkan Allah dalam QS. Az Zumar : 23

اللهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللهِ ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِيْ بِهِ مَنْ يَشَآءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya. (QS. Az-Zumar [39]:23)

Al-Qur’an diturunkan untuk dikaji, dipelajari agar kita mengerti apa yang terkandung di dalamnya. Setelah kita mengerti maka semaksimalnya kita tunduk kepada apa yang digariskan oleh Allah.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْآ أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَ يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيْرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُوْنَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Hadiid [57]:16)

Apakah belum tiba waktunya kita untuk mengaji Al Qur’an dan tunduk kepada Allah ? Kapan lagi kita mau mengaji ? Marilah saudara-saudaraku, dengan dibukanya pengajian MTA di daerah-daerah, kita sambut dengan senang hati untuk bergabung dan mengaji.

Atau kajian-kajian yang lain yang menekankan pentingnya mengaji Al-Qur’an sebagai sumber utama di dalam agama Islam. JANGAN BIARKAN WAKTU ITU BERLALU. SEHINGGA HATI KITA KERAS MEMBATU. (thmoyo@yahoo.com)

 

By. Tri Harmoyo

 

Madiun, 30 Maret 2015
Materi Kajian Binaan Geger Madiun


Leave a Reply