Membangun KEBERSAMAAN

tak-ada-kemenangan-tanpa-kekuatan

Ada pepatah yang mengatakan bahwa “tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, tidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan, tidak ada keutamaan kecuali dengan agama dan bukan agama kalau tidak sesuai dengan kitab dan sunnah.”

Artinya kemenangan bukanlah sebuah hadiah yang diberikan cuma-cuma oleh Allah kepada hamba-Nya, tetapi harus diperjuangkan melalui rangkaian perjuangan panjang yang dimulai dari belajar Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW sampai terbentuknya kebersamaan yang berbuah kekuatan yang bisa dimanfaatkan untuk berkompetisi untuk meraih kemenangan. Pepatah lain mengatakan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh“.

Masih banyak umat Islam yang belum menyadari bahwa arah dakwah Rasulullah SAW adalah untuk membangun kebersamaan atas dasar iman. Mereka mengira bahwa berda’wah hanya sekedar menyampaikan ilmu, sehingga dengan ilmu itu ummat bisa hidup sesuai dengan rambu-rambu yang digariskan Allah dan rasul-Nya.

Dalam hal ini fungsi agama tereduksi menjadi urusan pribadi, sehingga banyak da’i yang tidak mengarahkan aktivitas da’wah mereka untuk membangun kebersamaan di antara sesama sasaran dak’wah mereka.

Sementara itu sebagian da’i menjadikan aktivitas da’wah sebagai profesi untuk mencari uang. Mereka lulus sebagai sarjana dari fakultas da’wah yang memang secara akademis dipersiapkan untuk menjadi da’i profesional.

Banyak di antara mereka terutama yang tinggal di kota-kota besar yang mengadakan program pelatihan da’i, bimbingan bahasa Arab, kursus qira’ah, perawatan jenazah dan sejensinya untuk mendapatkan uang bukan untuk membangun kebersamaan.

Padahal Allah berfirman: “Qul laa as-alukum ‘alaihi ajran illal-mawaddata fil-qurbaa.“(Katakanlah:”Bahwa aku tidak meminta upah atas seruanku, kecuali aku berharap akan terbentuknya kasih sayang dalam kekeluargaan.”)

Kasih sayang dalam kekeluargaan itulah yang menjadi penyejuk hati dalam membangun kebersamaan yang selama ini hilang dari tengah-tengah umat Islam. Hilangnya rasa kasih sayang dalam kekaluargaan itulah yang menyebabkan hati menjadi kering kerontang, sehingga mudah terbakar bila terpercik api meskipun sangat kecil.

Maka tidak mengherankan bila di berbagai tempat di seluruh pelosok negeri banyak terjadi tindak anarki yang dilakukan oleh orang Islam dalam berbagai bentuk seperti perkelahian antar pelajar, tawuran sesama pemuda, perang antar kampong, bahkan konflik antar aparat dari kesatuan yang berbeda.

Untuk memperbaiki keadaan perlu dilakukan reorientasi da’wah. Tidak lagi menjadikan da’wah sebagai profesi untuk mencari rejeki, tetapi sebagai amal ikhlash untuk mengajak manusia kembali ke jalan Allah membangun kebersamaan atas dasar iman.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan imam Muslim Rasulullah SAW menggambarkan umat Islam sebagai satu tubuh, bila sebagian sakit maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur. Artinya kebersamaan sesama orang beriman dalam menghadapi mushibah itu benar-benar solid.

Dalam hadits lain yang juga diriwayatkan oleh imam Muslim, Rasulullah SAW menggambarkan kebersamaan ummat Islam itu bagaikan satu bagunan yang satu bagian menguatkan bagian yang lain. Artinya sesama ummat Islam harus bersinergi dalam mencapai tujuan.

Untuk itu umat islam perlu bersatu dalam kebersamaan untuk membangun bangsa ini sehingga menjadi bangsa yang sejahtera, adil, makmur dan dilimpahi ampunan dan kasih sayang Allah. Kita terima perbedaan dengan lapang dada, karena bersama memang tidak harus sama.

~oO[ @ ]Oo~

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)

Solopos, 09 Januari 2015

 


One Response to “Membangun KEBERSAMAAN”

  1. 1
    virnaw.ikhlass@ymail.com Says:

    Tanggapi “perbedaan” dengan lapang dada, karena “…kebersamaan itu tidak harus sama”. Motivasi Hebat.

Leave a Reply