Hewan yang Menjulurkan Lidahnya

HEWAN-YG-MENJULURKAN-LIDANHYAAllah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya, sungguh tidak ada yang sia-sia. Meski manusia belum (tidak) tahu rahasia di balik ciptaan Allah, namun jelas semua mengandung maksud, manfaat dan hikmah. Maha suci Allah dari tindakan sia-sia, dari tindakan yang tidak bermanfaat.

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَاْلاَرْضِ، رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran 191).

Kalbun (anjing), salah satu dari sekian banyak ciptaan Allah. Hewan ini mempunyai sifat suka menjulurkan lidah.

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّه اَخْلَدَ اِلَى اْلاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ فَمَثَلُه كَمَثَلِ الْكَلْبِ، اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ، ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. Al A’raf 176).

Allah bermaksud meninggikan derajat atau kedudukan manusia dengan ayat-ayat Al Qur’an. Artinya bahwa apabila manusia bersedia hidup di atas petunjuk ayat-ayat Al Qur’an, maka akan menjadi mulia dan terhormat. Tinggi derajat kedudukannya. Tetapi maksud baik belum tentu mendapat tanggapan yang baik. Faktanya ada yang bertolakbelakang atau kontra, yakni menanggapi maksud baik dengan sikap yang buruk. Dalam ayat 176 Al A’raaf disebutkan, dalam menanggapi seruan Allah sebagian manusia cenderung kepada dunia dan hawa nafsu yang rendah.

Cenderung kepada dunia maksudnya condong (memilih) hal-hal yang bersifat duniawi (sementara). Semua tindakan/tujuan yang ujung-ujungnya kesenangan sementara, masuk kategori dunia. Bersedekah dengan tujuan agar dinilai dan disebut-sebut oleh manusia sebagai seorang dermawan; bersedekah dengan maksud agar dapat memenangkan pemilihan adalah contoh cenderung pada dunia. Demikian juga orang mengambil pola hidup bergaul bebas masuk cenderung pada dunia. Adapun bersedekah dengan berharap pahala dari Allah berarti cenderung pada iman, cenderung pada akhirat.

Menurutkan atau menuruti hawa nafsunya yang rendah. Kata “yang rendah” menegaskan dan meneguhkan bahwa menuruti hawa nafsu sangat tidak baik, perilaku murahan. Juga menegaskan, sama sekali tidak ada menuruti hawa nafsu yang tinggi atau mulia. Bagaimanapun juga mengikuti hawa nafsu adalah rendah. Hawa nafsu menyuruh dan mengajak berbuat jahat. Yusuf 53.

وَمَآ اُبَرّئُ نَفْسِيْ، اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ بِالسُّوْءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبّيْ، اِنَّ رَبّي غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..

Orang-orang yang mengabaikan ayat-ayat Allah, kemudian cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsu, disamakan dengan anjing; digambarkan seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya. Anjing adalah hewan yang setia. Memiliki kesetiaan besar terhadap tuannya yang memberikan makan kepadanya. Tetapi bila ada orang lain yang memberikan makanan kepadanya, maka iapun akan menerima dengan senang tanpa peduli apakah tuannya melarang atau membolehkannya.

Ketika tuannya atau orang lain memberikan makanan kepadanya, maka anjing ini secara naluriah akan menjulurkan lidah dengan gerakan tertentu sebagai ungkapan rasa senang atau terima kasih. Kemudian, bila tuannya atau orang lain tadi menghalau maka sang anjing menganggap sebuah permainan. Anjing meresponnya dengan tetap menjulurkan lidahnya. Demikian pula ketika dibiarkan, anjing tetap menjulurkan lidahnya, seolah menunggu instruksi dari orang-orang di sekitarnya. Orang itu tuannya atau orang lain.Dalam pergaulan sehari-hari, bila ada orang menjulurkan lidah, maka ini merupakan isyarat bahwa ia sedang mengejek.

Dalam Al-Qur’an ada “kutukan” terhadap orang-orang yang melakukan pelanggaran. Laknat atas orang-orang yang menyimpang, melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Allah berfirman dalam Al-Baqarah : 65

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاسِئِيْنَ

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”.

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَّا نُهُوْا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاسِئِيْنَ

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina”. (QS Al A’raf 166).

Sabtu merupakan hari khusus untuk beribadah bagi orang-orang Yahudi. Diantara mereka ada yang melakukan pelanggaran pada hari Sabtu (baca : tidak beribadah, tetapi malah melakukan kegiatan lain di luar ibadah). Terhadap mereka yang melakukan pelanggaran ini, Allah mengatakan “kamu jadi kera saja”. Kepribadian yang demikian, bukan milik manusia. Lebih pantas milik kera. Orang-orang yang melakukan pelanggaran, tidak selayaknya menjadi manusia. Ditambah lagi Allah menyebutnya dengan bahasa sinisme “qirodatan khoosi-iin” (kera yang hina, Jawa =kethek elek), suatu penghinaan yang sangat.

Umat Islam juga memiliki waktu-waktu ibadah seperti misalnya shalat lima waktu, ibadah Jumah (Hari Jumah) dan sebagainya. Kita memiliki hari-hari khusus untuk menghadiri kajian cabang, gelombang, binaan dan lain-lain. Pesan yang terkandung dalam ayat itu, jangan melakukan pelanggaran pada hari-hari yang sudah terjadwal untuk menghadiri dan mengikuti kegiatan. Tentu kita takut dan tidak ingin jika sampai dikatakan sebagai (manusia) kera; apalagi kera yang hina. Mestinya kita juga mengerti dan faham sifat “kethek elek” itu, kalau temannya mempunyai/memegang makanan, maka ia suka merampasnya (serakah).

Adapun pengertian kera dalam ayat 65 Al-Baqarah dan 166 Al-A’raaf tersebut, ada yang memahami benar-benar menjadi kera. Ada juga yang memahami hatinya bagaikan kera. Kera dan hewan lainnya, memiliki hati. Tetapi hatinya tidak berfungsi untuk memahami dan memikirkan kebenaran ayat-ayat Allah. Karenanya wajar, jika mereka tidak tersentuh oleh ayat-ayat Allah. Wallahu a’lam.

Orang-orang yang sombong pada ayat 166 Al-A’raaf, yaitu orang-orang yang menolak kebenaran merendahkan manusia, kepadanya juga dikatakan “jadilah kamu kera yang hina”. Ada korelasi atau hubungan antara kebenaran dan manusia (yang membawa/menyampaikan kebenaran). Maksudnya jika seseorang merendahkan manusia (yang membawa/ menyampaikan keterangan), maka hampir dapat dipastikan seseorang tersebut akan menolak keterangan yang dibawa, dan sebaliknya.

Dalam dunia pendidikan hal ini penting difahami para ustadz (guru), siswa dan orang tua. Jika seorang murid membenci ustadznya, maka murid tersebut sulit untuk dapat memahami pelajaran yang disampaikan. Pesan yang dapat dipetik adalah para murid hendaklah mencintai dan menghormati ustadznya agar dapat mengambil ilmunya. Demikian juga para ustadz hendaklah melakukan berbagai cara demi keberhasilan kegiatan belajar-mengajar; demi agar siswa dapat meneguk ilmu yang disampaikannya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan para ustadz adalah tidak monoton dalam penampilan dan suara. Ustadz jangan hanya duduk tanpa ekspresi atau gerakan. Sebaiknya penjelasan disertai gerakan tangan atau lainnya yang sesuai, intonasi surara yang keras dan bervariasi. Ini penting untuk memperjelas atau membantu memperjelas keterangan yang disampaikan. Lebih dari itu, diharapkan dapat membantu para siswa untuk menjadi siswa yang tawadlu’ kepada ustadznya. Jelasnya, jangan sampai ada siswa menjulurkan lidahnya sebagai pertanda ejekan, baik di belakang ustadznya apalagi ketika berhadapan dengan ustadznya.

Penampilan ustadz mewakili sikap, kepercayaan diri, nilai, karakter dan kepribadiannya. Penampilan seorang ustadz memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar. Termasuk dalam penampilan ini adalah gaya bicara dan intonasi suara. Ustadz dengan intonasi suara lemah, apalagi sangat lemah, menyebabkan suasana kelas tidak hidup, siswa cenderung ngantuk. Dengan demikian sesaat sebelum mengajar, sebaiknya persiapkan diri dengan baik. Ustadz dapat bercermin lebih dahulu untuk memastikan semuanya dalam keadaan beres. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan. Jika ada yang belum beres, sebaiknya dibereskan lebih dahulu sebelum masuk kelas.

  1. Apakah warna pakaian yang dipakai terlalu mencolok atau sudah kusam.
  2. Apakah ada kancing baju yang terlepas, belum dikancingkan
  3. Apakah dasi dan krah sudah rapi
  4. Apakah baju sudah dimasukkan dalam celana keadaan rapi.
  5. Apakah warna sepatu sudah kusam, apakah sudah disemir.
  6. Apakah ritsleting sudah ditutup.
  7. Apakah bau badan terlalu menyengat
  8. Apakah parfum yang dipakai terlalu menyengat
  9. Apakah make up terlalu menor
  10. Apakah pakaian terlalu mini, ketat dan atau tipis (terutama bagi ustadz putri).
  11. Apakah wajah terlalu berminyak
  12. Apakah mata tampak kuyu atau mengantuk
  13. Apakah rambut sudah dirapikan dan panjang sehingga sulit diatur
  14. Bagaimana kondisi kumis, jenggot, cambang.
  15. Apakah kita tampil dengan PD, ditandai dengan penguasaan materi.
  16. Apakah gigi sudah bersih dari sisa-sisa makanan, apalagi makanan berwarna seperti sayuran hijau, cabe. Sisa makanan menimbulkan bau tidak enak dan sangat mengganggu penampilan dan pergaulan. Gunakan tusuk gigi atau sikat gigi untuk menghilangkan sisa-sisa makanan.

Oleh : (Drs. Sugiman. Guru SMA MTA Surakarta)
Jateng POS, 10 Desember 20114


Leave a Reply