Pendekatan Humanis

PENDEKATAN-HUMANISANAK juga manusia seperti kita, para orang tua. Perbedaan antara keduanya yang paling menonjol adalah usia dan status social. Mereka lebih muda, kita lebih tua. Mereka anak dan kita orang tua. Kebutuhan psikologis keduanya tidaklah jauh berbeda alias sama. Sebagai manusia mereka mempunyai harga diri, ingin dihargai dan diakui keberadaannya, diperlakukan secara terhormat, tidak suka kekerasan, tidak suka diperlakukan secara sewenang-wenang.

Perlakuan Allah kepada manusia, tergantung sikap manusia kepada Allah, firman Allah:

فَاذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu”. (Al Baqoroh: 152).

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْآ اِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, tolonglah (laksanakanlah) agama Allah, niscaya Allah akan menolongmu .” (Muhammad: 7).

Allah akan membalas dan bersikap kepada manusia, sesuai dengan sikap manusia kepada Allah. Jika manusia ingat kepada Allah, maka Allah akan ingat kepada manusia. Jika manusia menolong (melaksanakan) agama Allah, akan akan menolong manusia.

Dua ayat ini mengingatkaan adanya keseimbangan hidup. Dalam hidup ini terdapat nuansa memberi dan menerima. Berkat adanya nuansa memberi daan menerima inilah, maka kita menjadi pribadi seperti yang sekarng ini. Jika tidak ada pahlawan yang bersedia memberi, niscaya kita tidak akan menjadi seperti sekarang ini: besar, bekerja, menjadi sarjana dll. Kita menjadi sarjana adalah karena adanya para pendahulu yang memberi pelajaran di TK, SD, SMP, SMA dan kuliah.

Aksioma hidup memberi dan menerima ini juga mengingatkan bahwa memberi (Baca: kewajiban) harus didahulukan. Setelah memberi atau melaksanakan kewajiban, barulah kemudian kita mendapatkan hak. Inilah pelajaran yang dapat diambil dari firman Allah dalam Surat Al Fatehan

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

“Hanya kepada Engkau   menyembah dan hanya kepada Engkau saya mohon pertolongan”.

Dan Firman Allah dalam Surat Alam Nasyrah ayat 5-6:

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan

اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan

 

Dalam pepatah Indonsia kita kenal “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu,bersenang-senang kemudian. Ayat-ayat ini dan pepatah tersebut memacu dan memacu semangat untuk bekerja dan bekerja. Memberilah, niscaya kamu akan mendapat. Bekerjalah, niscaya kamu akan mendapat bayaran.

Sebagai ciptaan Allah, manusia mewarisi sifat-sifat yang dimiliki Allah. Walau tidak bisa 100% dan memang pasti tidak bisa mewarisi 100% terhadap sifat-sifat Allah. Tetapi sebagai hamba yang mencintai Rabnya, tentu akan berusaha maksimal meniru sifat-sifat yang dimiliki oleh dzat yang dicintainya. Karenanya, secara naluri, pada umumnya manusia memperlakukan orang lain seperti perlakuan yang diterimanya. Seseorang yang memperlakukan secara baik-baik kepada orang lain, maka orang lain tersebut tentulah akan baik-baiknya juga kepadanya. Sebaliknya jika seseorang diperlakukan dengan kekerasan atau kasar, maka orang tersebut akan membalas dengan perlakukan keras atau kasar. Lihatkan saja orang-orang yang sedang cekcok mulut, mereka akan beradu keras dalam ucapannya. Keras dihadapi dengan keras, pukulan dibalas dengan pukulan dan seterusnya.

Jika terjadi penyimpangan dari perilaku yang sesuai dengan naluri, tentulah karena adanya factor X. Misalnya guru membentak-bentak siswa. Nalurinya, siswa akan membalas membentak. Tetapi karena mungkin takut, maka siswa memilih diam. Factor X berupa rasa takut itulah yang membuat seorang siswa tidak bertindak sesuai dengan naluri.

Maka dari itu, ada baiknya para orang tua, rekan-rekan guru, para ustadz mempertimbangkan menggunakan pendekatan kemanusiaan dalam menangani anak. Pendekatan kemanusiaan adalah pendekatan yang membawa kedamaian, kenyamanan, kekeluargaan; dan mudah-mudahan membawa keberhasilan. Sebaliknya pendekatan kekerasan itu berat, tidak nyaman, menimbulkan keretakan hubungan, ketegangan fisik dan psikologis. Denyut jantung menjadi kencang dan napas terengah-engah.

Ketika seseorang sedang marah besar dan membentak-bentak orang lain, maka hampir dapat dipastikan orang-orang lain yang berada di dekatnya merasa tegang. Demikian pihak-pihak yang berada di dekatnya. Kalau tidak dapat mengendalikan diri, tidak jarang berakhir di rumah sakit karena ada gangguan fisik dan harus berurusan dengan pihak berwajib (kepolisian). Memang, barangkali hal itu mendatangkan kepuasan. Tetapi sebenarnya kepuasan semu dan sementara, ujung-ujungnya penyelasan.

Pendekatan kemanusiaan bukan berarti menafikan ketegasan. Juga bukan berarti menafikan penegakan hukum dan tata tertib, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Dengan kata lain pendekatan kemanusiaan, tetapi juga tegas, santun tetapi tetap disiplin sesuai dengan aturan. Artinya tegas dilaksanakan secara santun, disiplin sesuai aturan dilaksanakan dengan santun. Guna memudahkan implementasi santun tetapi tegas, kiranya dapat dihadirkan di sini contoh dokter dengan pasien.

Dokter melakukan amputasi terhadap kaki pasien. Dokter mencabut gigi pasien. Dokter melakukan hal ini tidak dengan emosi (marah), tetapi dengan santun, santai, nyaman dan kasih sayang. Pasien memang (barangkali) takut, tetapi diberani-benarikan dan merasa nyaman. Tidak ada penolakan satu sama lain, bahkan saling berharap. Kiranya tidak ada yang menolak tindakan dokter, bahkan barangkali malah pada mendorong dan pendukung tindakan dokter demi kebaikan si pasien. Dokter-dokter yang professional sebelum melakukan tindakan, tidak jarang mengatakan kepada pasien “nyuwun pangapunten, wojo pun pundut nggih, pak” (mohon maaf, gigi dicabut ya pak). Ketika menyambut kedatangan pasien, dokter mengatakan silakan duduk bapak/ibu, ada keluahan apa dan seterusnya. Sehingga terjadilah hubungan yang akrab , harmonis dan hangat.

Meski tidak sama persis, tentulah tidak ada jeleknya, kita mengambil model hubungan dokter – pasien tersebut dalam menjalankan tugas sehari-hari menangani anak. Aturan dan hokum dapat ditegakkan tanpa perlawanan dan penolakan. Kalaupun terjadi perlawanan dan penolakan, dengan penjelasanan yang santun dan logis, mudah-mudahan siswa dapat menerima. Penjelasan ini penting sebagai pertimbangan, mengapa sesuatu harus dilakukan atau harus tidak dilakukan. Dengan harapan setelah siswa mengerti bahwa suatu tindakan itu bermanfaat, maka akan dilakukan. Sebaliknya sesuatu yang tidak bermanfaat akan ditinggalkan. Semuanya dilakukan atas motivasi intrinsic , motivasi yang berasal dalam diri sendiri. Tanpa paksaan dari pihak luar. Motivasi inilah yang paling kuat dan awet. Inilah cara Luqman mendidik anaknya.

وَ اِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللهِ، اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Dan ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepada anaknya :”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) benar-benar kedzaliman yang besar”. (Luqman: 13).

Luqman tidak memaksa, tetapi memberi alasan dan penjelasan mengapa suatu perbuatan itu tidak baik dilakukan. Mengajak membuka pikiran dan menggunakan logika dalam menganalisa masalah. Luqman menjelaskan bahwa mempersekutukan Allah adalah kedzaliman yang besar, maka jangan dilakukan. Paling tidak mendzalimi atau memperbodoh diri, tidak menghargai dirinya sebagai makhluk yang mulia. Bagaimana logika berfikirnya, seseorang yang menyembah berhala. Padahal berhala tidak dapat mendengar dan melihat. Jika ia diberi sesaji, tidak dapat mempertahankan sesajinya saat sesaji itu dimakan ayam.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مّنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ، وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…. (Ali Imron: 159).

Seseorang yang mendapat rahmat (kasih sayang) dari Allah (maaf bukan laknat dari Allah), hatinya lembut. Kelembutan hati itu diwujudkan dalam kelemahlembutan sikap dalam bertindak dan bertutur kata.

Sikap ini tentulah akan mengundang simpati. Dalam kancah perpolitikan di negeri ini, sikap lemah lembut , tenang dan santun telah terbukti mampu menyihir emosi massa dalam menjatuhkan pilihan. Figur-figur yang santun, lemah lembut dan tenang “mampu mengalahkan” pesaing-pesaingnya dalam perebutan kursi presiden, gubernur, bupati, ketua umum partai politik dan sebagainya. Rival-rival yang mempunyai karakter berapi-api dan meledak-meledak, menyerang pihak lain “biasanya” terpental.

Kita para guru perlu berkaca dengan fenomena itu. Selanjutnya kita implementasikan dalam menangani anak didik di sekolah. Mudah-mudah sukses.

Judul Asli : “PENDEKATAN KEMANUSIAAN DALAM PENANGANAN ANAK”
Drs. Sugiman. Guru SMA MTA Surakarta
JatengPOS, 16 Nopember 2014


Leave a Reply