TERBIASNYA MATA HATI

terbias 2Segala puji bagi Alloh, Dia-lah, Tuhan yang Maha Esa, Tuhan seluruh Langit dan Bumi, Tuhan Dunia dan Akherat, Alloh Tuhan semesta Alam. Allohu Akbar. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan kepada seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya

Alloh SWT telah mewanti-wanti kepada seluruh umat manusia yang telah menerima kitab suci dari langit agar mereka selalu berlaku lurus dan berlaku benar sesuai dengan yang Alloh tuntunkan kepada mereka. Bila manusia melepaskan diri dari ketekunannya dan kelurusannya dalam memegang teguh kitab suci yang datang dari sisi Alloh, maka pandangan mata hati manusia akan dapat terbelok dan terbias. Sebagaimana firman-Nya

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ آمِنُواْ بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُم مِّن قَبْلِ أَن نَّطْمِسَ وُجُوهاً فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللّهِ مَفْعُولاً ﴿٤٧﴾

Hai orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (al-Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merobah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat ma’siat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku. (QS. 4:47)

 

Dizaman Rasulullah Muhammad SAW diberi wahyu Al-Qur’an, tentu ayat ini diberikan kepada para ahli kitab, yaitu orang-orang yang tekun dengan kitab Taurat Dan kitab Injil. Namun bila ayat ini kita baca di zaman saat ini, maka ayat ini akan mengenai kita semua umat penerima kitab suci dari langit.

Manusia harus hati-hati dengan potensi merusak diri yang bisa muncul dari dalam diri masing-masing. Alloh telah mengingatkan ada potensi diri yang bila dibiarkan dan tidak diisolasi, maka dapat merusakan sifat baik manusia. Yaitu membiarkan perbuatan ma’siyat dianggab sebagai sesuatu yang biasa dilakukan dan bahkan dikerjakan dengan tanpa merasa berbuat dosa. Bila manusia telah memperturutkan diri dengan perbuatan ma’siyat maka manusia akan kehilangan kemampuan membedakan antara yang haq dengan yang batil.

 

أَفَمَن كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّهِ كَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءهُمْ ﴿١٤﴾

Maka apakah orang-orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya (QS. 47:14)

 

Umat Islam perlu menjaga diri dan keluarganya agar tidak terhanyut dengan perilaku dan bahkan budaya yang memperturutkan hawa nafsu, karena semua hal tersebut dapat menutupi hati dan menjadikan mata hati menjadi bias di dalam melihat segala sesuatu yang ada.

 

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ ﴿٤﴾

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). (QS. 27:4)

 

Iman sebagai kekuatan agar manusia tekun di dalam kebenaran. Bahwa iman yang ada dalam diri manusia akan mengajak seseorang untuk selalu dalam kebenaran dan kebaikan yang telah ditetapkan Alloh SWT. Namun bila manusia tidak lagi memegang iman, mata hati manusia akan terbias dan senang dengan perbuatan yang merusak diri.

 

تَاللّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٦٣﴾

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang pedih. (QS. 16:63)

 

Bila manusia terus mengikuti bujukan syaitan untuk dibujuk kepada kejahatan, maka manusia akan suka bergelimang pada kejahatan. Syaitan telah menipu daya hati manusia dengan menghiasi perbuatan jahat itu seolah suatu kebaikan yang menyenangkan.

 

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجَرِمِيهَا لِيَمْكُرُواْ فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلاَّ بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ ﴿١٢٣﴾

Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. (QS. 6:123)

 

Bahkan sampai-sampai mereka berlomba-lomba untuk berbuat kejahatan yang terbesar, dan bangga bisa menjadi manusia yang dikenal dan dikenang sebagai penjahat besar. Hati nya merasa bangga untuk menjadi penjahat yang terbesar, padahal sebenarnya penglihatan Alloh dan ancaman Alloh dan azab Alloh sudah sangat dekat dengan mereka.

Mata terbias, mata hati yang terbias, sesuatu yang salah dianggab benar sebaliknya sesuatu yang benar dianggab salah, manusia perlu menarik diri dari segala perbuatan jahat dan budaya jahat yang telah membelenggunya. Bila manusia tidak segera keluar dari itu maka manusia akan salah dalam melihat dan melihat dengan mata yang terbalik. Baik dilihat salah dan salah dilihat baik.

 

قَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وِإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ ﴿٦٦﴾

Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata:”Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta”. (QS. 7:66)

 

 

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ اتَّقَواْ فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ﴿٢١٢﴾

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia dari pada mereka di hari Kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS. 2:212)

 

Bagi kita insan manusia yang masih mempunyai hati nurani, janganlah sekedar kita melihat gebyar-gebyar yang ada di sebuah zaman. Namun lihatlah ke dalam esensi yang seharusnya kita pegang teguh. Ketika manusia telah tersilaukan dengan gemerlapnya keindahan dan kenikmatan dunia, banyak diantara mereka yang mata hatinya terbias, terbelok bahkan mungkin terbutakan.

Esensi kehidupan yang berisi dengan hidup penuh IBADAH kedapa ALLOH Tuhan semesta Alam Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Mulia, telah terbelok dan terbias berubah menjadi hidup dipenuhi dengan ibadah kepada HAWA NAFSU rendah manusia. Dan menjadikan hawa nafsu selalu diperturutkan. Sehingga tertutuplah hati nurani, butalah hati nurani dan tidak lagi membedakan antara yang benar dan yang salah. Semoga Alloh menyelamatkan kita dari pengaruh kerusakan zaman. Wallohu a’lam


Leave a Reply