Membawa Umat Menuju Selamat

MEMBAWA-UMAT-MENUJU-SELAMATMTA (Majlis Tafsir Al-Qur’an) menggelar kajian umum di OSO Sport center, Grand Wisata Bekasi (1/1).

Pengajian yang disiarkan langsung oleh Radio dan Televisi MTA ini dihadiri lebih kurang tiga ribu orang yang berasal dari Jabotabek dan masyarakat sekitar. Acara yang diselenggarakan bertepatan dengan tahun baru, dan libur nasional sehingga kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya untuk menjalin silaturahim sesama warga MTA .dan mayarakat sekitar, agar bisa lebih akrab dan lebih mengenal dengan tentang lembaga da’wah MTA.

 

Sehari sebelum pengajian umum digelar diadakan silaturahim antara Pengurus Pusat MTA dengan warga MTA Perwakilan Bekasi. Dalam acara ini dihadiri juga oleh Kepala Kalurahan Teluk Pucung, M. Taufik. Dalam sambutannya M. Taufik mengatakan bahwa dirinya mewakili masyarakat yang dipimpinnya menyambut baik kedatangan lembaga da’wah MTA. “Harapan saya dan masyarakat di Teluk Pucung yaitu agar warga MTA bisa bekerja sama untuk bantu membantu dalam kebaikan, dan saling menghormati antara yang satu dengan yang lain sehingga tercipta lingkungan yang kondusif. Dan mudah-mudahan dengan kedatangan lembaga da’wah MTA ini bisa membawa manfaat bagi masyarakat Teluk Pucung ini”, demikian ujar M. Taufik dalam sambutannya.

Dan acara pengajian ini juga bertujuan agar masyarakat luas dan ummat Islam khususnya mulai menyadari bahwa dengan bergantinya hari, bulan dan tahun, hakikatnya adalah semakin dekat kita kepada kematian (ajal). Seharusnya manusia bersiap diri, karena waktu yang diberikan Allah SWT semakin berkurang. Bila saatnya tiba, maut (ajal) akan datang menjemput kita. Dan tidak ada sesuatu yang bisa menundanya.

Dalam taushiyahnya di pengajian umum yang dihadiri warga MTA se Jabodetabek dan masyarakat umum, Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina selaku Pimpinan Pusat MTA menyerukan agar ummat Islam tidak rakus dunia (zuhud Dunia) dan selalu berpegang teguh kepada Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi (Hadist).

 “Orang yang zuhud hidupnya tidak dikuasai dunia, akan tetapi oranglah yang bisa menguasai dunianya. Dia boleh memiliki harta yang banyak, kaya, dan hartanya didapat dari usaha yang halalan thayyiban. Kemudian semuanya dijadikan ladang amal sebagai bekal di akhirat”. Lebih lanjut Al-Ustadz mencontohkan tauladan yang dilakukan para shahabat Rasulullah Abu Bakar RA. Dikisahkan : Sahabat Rasulullah Abu Bakar RA adalah sosok saudagar yang kaya-raya, dan ketika perjuangan ummat Islam dalam menegakkan syari’at memerlukan biaya yang besar, maka diserahkanlah semua harta yang ia miliki untuk sabiilillaah. Tinggal Allah dan Rasulullah yang dimilikinya. Dan banyak shahabat-shahabat Rasulullah yang lain yang berbuat sama dan mereka semua rela jihad dengan semua yang dia miliki, termasuk jiwanyapun diserahkan untuk membela dan menegakkan Islam.

Selanjutnya Al-Ustadz juga mencontohkan bahwa orang kafir itu makan dengan tujuh perut sedang orang muslim makan dengan satu perut. Maksudnya adalah orang kafir itu makan atau hidup adalah untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya. Orang kafir tidak akan memandang halal atau haram yang dia dapatkan, yang penting semua keinginan dan nafsunya terpenuhi. Sedangkan seorang mu’min akan hati-hati dalam mencari rezeki, dicarinya yang halalan dan thayyiban. Dan digunakan atau dimakan seperlunya saja.

“Orang mukmin makan hanya sekedar untuk bisa menegakkan punggung, sepertiga perutnya diisi makanan, sepertiganya air, dan sepertiganya udara”, jelas Ustadz. Penjelasan ini sekaligus menjawab pertanyaan yang dilontarkan Arifin mengenai rakusnya orang-orang kafir yang makan dengan tujuh perut.

Pesan moral ini disampaikan karena keprihatinan terhadap ummat Islam sekarang ini. banyaknya ummat Islam yang jauh dari tuntunan, lama-lama Islam hanya akan tinggal namanya. Orang mengaku beragama Islam namun sikap perilakunya tidak lebih baik dari pada orang kafir. Bahkan dirinya terbawa arus kehidupan yang menyesatkan, terseret oleh gaya hidup orang kafir.

Seperti halnya perayaan tahun baru, semua lapisan masyarakat menyambutnya dengan mengadakan berbagai acara yang digelar dengan pesta pora yang menghambur-hamburkan uang, dan dengan aneka ragam pertunjukan, mulai dari panggung gembira hingga pesta kembang api yang menghabiskan dana milyaran rupiah. Dan semua itu adalah sia-sia.

Bentuk-bentuk kerusakan akhlak seperti ini justru menjadi tontonan yang menarik dan menggembirakan. Namun banyak yang tidak menyadari bahwa dirinya pelan-pelan akan tenggelam ke dalam genangan dosa. Dan tidak menyadari bahwa kelak disediakan adzab yang pedih di neraka. Na’uudzu billaahi min dzaalik. (nDaru)


Leave a Reply