Menghargai PLURALITAS

hidup-dalam-ketetapan-islam-artikel-islam-mta2

Lapang dada dalam menerima perbedaan merupakan barang yang sangat mahal di Indonesia. Terbukti banyaknya kasus tindakan anarkhi yang dipicu oleh perbedaan.

Berawal dari obrolan di warung kopi, karena terjadinya perbedaan pendapat berujung dengan perkelahian. Berawal dari nonton pertandingan sepak bola, karena perbedaan pemahaman terhadap keputusan wasit berujung dengan bentrok antar supporter di lapangan.

menghargai-pluralitas

Berawal dari rapat anggota legislatif, karena perbedaan kepentingan berujung dengan adu jotosdi gedung DPR. Padahal motto yang terpampang dipegang oleh lambang negara, Garuda Pancasila berbunyi “Bhinneka Tunggal Ika” (Meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu juga). Sedangkan sila ke tiga dari Pancasila berbunyi Persatuan Indonesia.

Apakah kita tidak mengetahui arti pentingnya persatuan bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara Indonesia?. Ataukah karena semakin berkembangnya egoisme dan individualisme menyebabkan kita kehilangan semangat persatuan?.

Atau barangkali karena pengutamaan terhadap isu Hak Asasi Manusia (HAM) secara individual menyebabkan semakin lunturnya kebersamaan? Sementara itu kita faham akan pepatah yang mengatakan”Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh“.

Di sisi lain Allah mewajibkan kepada ummat Islam untuk senantiasa bersatu dalam memagang teguh tali (agama) Allah dan melarang mereka bercerai berai.

(Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,) [QS Ali Imran : 103]

Rasulullah SAW mengingatkan “Al-jama’atu rahmah walfirqatu adzab”. (Persatuan menghadirkan rahmat Alllah, sebaliknya perpecahan mengundang adzab-Nya).

Allah telah menjadikan manusia itu berbeda-beda, bahkan tidak ada dua orang yang persis sama, meskipun kembar. Mereka dijadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa yang berbeda supaya saling mengenal satu terhadap yang lain.

(Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.) [QS Al-Hujuraat : 13]

Salah satu hikmah dibalik saling mengenal satu dengan yang lain itulah diharapkan manusia saling menghargai dan menghormati perbedaan.

Menghormati perbedaan pada hakekatnya menghormati Allah, karena yang menciptakan perbedaan adalah Allah.

Mafhum mokhalafah-nya orang yang tidak menghargai perbedaan, berarti tidak menghormati Allah. Kalau dikupas lebih dalam, orang seperti itu hakikatnya telah menuhankan pendapatanya sendiri, menuhankan pendapat ustadz/kyainya, bahkan boleh jadi telah menuhankan kelompoknya. Maka wajar kalau Allah menilai orang yang berbangga hati dengan firqah-nya sebagai orang musyrik.

(janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.) [QS Ar-Rum : 31-32]

Bagaimana mungkin pertolongan Allah akan tercurah bagi-orang-orang musyrik ?

Saudaraku, kalau kita punya hak untuk berpendapat, maka orang lain juga memiliki hak yang sama untuk berpendapat. Kalau kita menghendaki pendapat kita dihargai, maka orang lain juga menghendaki kita menghargai pendapat mereka.

Oleh karena itu Allah menuntunkan kita untuk bermusyawarah untuk mempertemukan perbedaan.

(dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.) [QS Ali Imran : 159]

Musyawarah dengan semangat kekeluargaan untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi ummat islam. Orang yang seperti itulah yang termasuk menghargai pluralitas, orang yang memiliki ketrampilan dalam mengelola hati dalam menghadapi perbedaan dengan mengutamakan semangat kebersamaan dalam kekeluargaan.

Perbedaan setajam apapun selama tidak keluar dari prinsip-prinsip dasar aqidah islamiyah masih bisa ditolerir dan dikompromikan.

Semoga Allah membebaskan ummat Islam dari penyakit ananiyyah dan ashabiyyah, sehingga di masa mendatang mereka bisa bersatu di bawah naungan tauhid, aamiin.

~oO[ @ ]Oo~

 

 

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat majlis Tafsir Al Qur’an (MTA)

Suara Merdeka, Jumat – 26 September 2014

 

 


Leave a Reply