Islamnya ‘Umar bin Khathab RA

ISLAMNYA-UMAR-BIN-KHATTABUmar bin Al-Khaththab adalah seorang dari bangsa Quraisy di kota Makkah yang sangat berpengaruh di kalangan bangsanya, karena pada waktu itu ia adalah seorang yang gagah berani, cerdas, tangkas dan kuat..

Ia adalah seorang Quraisy yang kegagahannya, keberaniannya, dan pengaruhnya seimbang dengan Abu Jahal. Dan ia termasuk seorang pemuka Quraisy Musyrikin yang sangat memusuhi Nabi SAW sebagaimana Abu Jahal. Oleh sebab itu sering ia menganiaya dan menyakiti orang-orang yang menjadi pengikut Nabi SAW, bahkan pernah juga ia menyiksa budak beliannya yang telah menjadi pengikut Nabi SAW. Oleh sebab itu, maka Nabi SAW seringkali berdo’a kepada Allah :

اَللّٰهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلَامَ بِاَحَبِّ هٰذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ اِلَيْكَ. بِاَبِى جَهْلٍ اَوْ بِعُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ. الترمذى عن ابن عمر

Ya Allah, berilah kemenangan Islam ini dengan sebab kecintaan dua orang laki-laki ini kepada-Mu, yaitu dengan Abu Jahal atau dengan ‘Umar bin Khaththab. [HR. Tirmidzi dari Ibnu ‘Umar]

Dan permohonan beliau itu akhirnya dikabulkan Allah. Yakni dengan kejadian bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab tunduk kepada seruan beliau dan memeluk Islam serta cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dan akibat dari kejadian ini, maka agama Islam yang tadinya masih dalam keadaan yang sangat menyedihkan, menjadi kelihatan di kalangan khalayak ramai dengan menyinarkan cahaya yang amat menggoyahkan fihak musuh dan sangat mencemaskan mereka yang menghalang-halangi Islam.

Sebab-sebab Islamnya ‘Umar bin Khaththab

‘Umar bin Khaththab mempunyai adik perempuan yang bernama Fathimah. Pada waktu itu Fathimah telah bersuami dengan seorang laki-laki yang bernama Sa’id bin Zaid, dan sejak mereka mendengar dakwah Nabi SAW, mereka berdua segera mengikutnya dengan setia dan menjadi pemeluk Islam yang sungguh-sungguh. Tetapi pada waktu itu ‘Umar belum mengetahui bahwa adiknya dan iparnya telah mengikut seruan Nabi SAW.

Dan pada waktu Laila dan suaminya ‘Amir bin Rabi’ah akan berangkat berhijrah ke negeri Habsyi, ketika Laila akan menaiki untanya, mendadak hal itu diketahui oleh ‘Umar. Laila lalu ditanya : “Hai Ummu ‘Abdillah (julukan bagi Laila). Engkau akan pergi kemana ?

Laila menjawab : “Engkau toh sudah menyakiti aku dan kawan-kawanku yang mengikut seruan Muhammad. Maka sekarang aku akan pergi ke bumi Tuhan, di mana aku dapat berbakti kepada Tuhan, di sanalah aku akan bertempat tinggal, agar supaya aku tidak kamu sakiti dengan kawan-kawanmu“.

‘Umar menjawab : “Ya, mudah-mudahan Tuhan beserta kamu“. Lantas ‘Umar seketika itu pergi.

Setelah Laila bertemu dengan suaminya, ia lalu menceritakan kepada-nya, bahwa ia telah ditanya oleh ‘Umar, dan ‘Umar lalu mendo’akan kese-lamatannya. Suaminya lalu berkata : “Apakah engkau mengharapkan Islamnya ‘Umar bin Khaththab ? Janganlah engkau mengharapkan demikian ! ‘Umar tidak akan mengikut seruan Muhammad, kecuali jika himarnya si Khaththab sudah mengikut Muhammad lebih dahulu“.

Adapun sebabnya shahabat ‘Amir sampai berani berkata seperti itu, karena ia selalu ingat akan perbuatan-perbuatan ‘Umar bin Khaththab yang sangat kejam, ganas dan buas terhadap orang-orang yang telah mengikut seruan Nabi SAW, terutama ia ingat perbuatannya ketika ia menyiksa salah seorang budak beliannya yang sudah memeluk Islam sehingga jiwanya melayang.

Pada waktu itu shahabat ‘Amir tidaklah mengetahui bahwa Nabi SAW telah seringkali berdo’a kepada Allah untuk keislamannya ‘Umar.

Pada suatu hari pemuka-pemuka kaum Musyrikin Quraisy memutuskan bahwa ‘Umar bin Khaththab diberi tugas untuk membunuh Nabi SAW. Maka dari itu ‘Umar mencari Nabi SAW di mana beliau berada dan jika bertemu beliau akan dibunuhnya dengan kejam dan terang-terangan.

Pada waktu itu ‘Umar berjalan seorang diri dengan pedang terhunus dan kebetulan diwaktu panas terik.

Ketika ‘Umar sampai di suatu jalan di kota Makkah, tiba-tiba ia bertemu dengan seorang shahabat karibnya, bernama Sa’ad bin Abi Waqqash. Maka dia bertanya kepada ‘Umar : “Engkau akan pergi kemana hai Ibnul-Khaththab ? Mengapa engkau membawa pedang terhunus seperti itu ?

‘Umar menjawab : “Aku akan pergi mencari Muhammad, orang celaka itu, karena ia sudah berani mendirikan agama baru, sehingga memutuskan persaudaraan kita, memecah belah persatuan bangsa kita, membodoh-bodohkan orang-orang pandai kita, mencaci maki agama nenek moyang kita, menghina tuhan-tuhan kita, merendahkan kemuliaan kita dan sebagainya. Maka dari itu jika kudapati dia, akan kubunuh, akan kuhabisi nyawanya“.

Sa’ad menjawab : “Wahai ‘Umar ! Engkau ini lebih kecil dan lebih hina, apakah engkau akan membunuh Muhammad ? Apakah engkau mengira, kalau engkau telah membunuh Muhammad, lalu anak keturunan ‘Abdul-Muththalib akan membiarkan engkau hidup lebih lama di muka bumi ini ? Sudah tentu mereka tidak akan membiarkan engkau hidup lebih lama lagi“.

‘Umar menjawab : “Agaknya engkau sekarang berani kepadaku, sekarag aku mengerti, bahwa engkau sudah berganti agama. Engkau sudah mengikut agama Muhammad ! Jika begitu, sekarang engkau akan kubunuh lebih dulu, karena engkau sudah berlainan agama denganku“.

Mendengar ucapan ‘Umar itu Sa’ad lalu segera membaca Kalimah syahadat, yang artinya : “Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa sesungguhnya Muhammad itu pesuruh Allah

Setelah ‘Umar mendengar syahadat Sa’ad itu, segera ia mengacungkan pedangnya kepada Sa’ad. Sa’ad pun segera menghunus pedangnya dan mengacungkannya kepada ‘Umar. Kedua-duanya tampak sama beraninya sehingga kedua-duanya hampir mengadu kekuatan pedang yang sama tajamnya, lalu ‘Umar diam sebentar. Pada waktu itu Sa’ad berkata kepadanya : “Hai ‘Umar, mengapa engkau tidak berbuat demikian kepada adikmu perempuan dan iparmu ?“.

Segera muka ‘Umar menjadi merah padam, seraya berkata : “Mengapa begitu ? Apakah adikku dan iparku sudah bertukar agama dan menjadi pengikut Muhammad ?“.

Sa’ad menjawab : “Mengapa tidak ? Mereka semua tokh sudah lama menjadi pemeluk agama Muhammad dengan patuh dan ta’at“.

‘Umar berkata : “Kalau begitu, lebih baik sekarang ini juga aku datangi rumahnya, dan nanti kalau bertemu, akan kubunuh kedua-duanya ! Apa gunanya aku bersaudara dengan orang-orang yang menjadi pengikut agama Muhammad ?“.

Oleh sebab itu ‘Umar dan Sa’ad lalu berpisah, dan ‘Umar terus pergi menuju ke rumah adiknya perempuan, Fathimah. Dan ketika itu justru shahabat Sa’id bin Zaid dan isterinya (Fathimah) sedang berada di rumah, dan sedang belajar menbaca ayat-ayat Al-Qur’an pada shahabat Khabbab bin Al-Aratt

Setelah ‘Umar sampai di rumah Sa’id bin Zaid dan ternyata bahwa pintunya terkunci, maka diketuknya pintu itu dengan keras sambil memegang pedangnya yang terhunus tadi. Setelah mendengar ketokan pintu dari luar, Sa’id bin Zaid bertanya dari dalam rumah : “Siapa itu ?

‘Umar menjawab : “Ibnul-Khaththab !“.

Setelah Khabbab mendengar suara ‘Umar begitu keras, ia mengintai dari dalam, dan dilihatnya, bahwa kedatangan ‘Umar itu dengan membawa pedang terhunus. Maka dari itu segera ia lari menyembunyikan dirinya di dalam rumah. Sedang catatan ayat-ayat AlQur’an yang baru diajarkan tadi dengan secepatnya diambil dan disembunyikan oleh Fathimah, lalu pintu itu dibuka oleh Sa’id.

‘Umar lantas masuk ke dalam dengan muka merah padam sambil berkata kepada Fathimah : “Hai, orang yang memusuhi dirinya sendiri, sungguh aku sekarang telah mendengar khabar, engkau telah berganti agama, begitu juga suamimu. Betulkah engkau sekarang telah mengikut agama Muhammad ?“. Lalu ‘Umar memegang janggut Sa’id dan mencekik lehernya, lantas Sa’id dibanting lalu dadanya diinjak-injak.

Oleh karena shahabat Sa’id tidak begitu kuat, tentu saja ia tak dapat melepaskan diri dari ‘Umar.

Setelah Fathimah melihat suaminya dianiaya, ia tidak tahan lagi, lalu akan menolongnya sekuat tenaganya. Tetapi ketika ia baru mendekati ‘Umar, kepalanya dipukul dengan keras oleh kakaknya, dan mulutnya disikut, sehingga mengeluarkan darah. Setelah mengetahui bahwa mukanya sudah berdarah, lalu Fathimah menunjukkan keberaniannya seraya berkata kepada kakaknya : “Apakah engkau akan memukuli aku, atau akan membunuhku, hai seteru Allah ?“.

‘Umar lalu diam sambil duduk di atas dada iparnya.

Fathimah lalu berkata lagi : “Hai seteru Allah ! Aku dan suamiku tokh sudah lama memeluk agama Muhamnmad. Mengapa engkau baru bertanya sekarang ? Kalau engkau memang akan membunuh diriku, aku tidak akan takut sedikitpun: dan kalau engkau akan mengamukku, akupun tidak gentar dan tidak akan mundur selangkahpun. Cobalah, dekatilah aku, bunuhlah aku dan suamiku! Aku akan tetap mengikut agama Muhammad“.

Setelah ‘Umar mendengar suara adiknya dan melihat mukanya berlumuran darah yang mengalir dari atas kepalanya, ia lantas bangun melepaskan iparnya, kemudian duduk di atas sebuah kursi. Lalu termenung, dan tampak sangat menyesal atas pebuatannya yang sekejam itu dan kelihatan sangat malu kepada iparnya, serta matanya melihat ke atas dan ke bawah, ke kanan dan ke kiri.

Tidak berapa lama kemudian, ia melihat tulisan pada sehelai kertas yang tergantung di atas pintu. Dan ia tertarik kepada tulisan itu dan selalu memperhatikannya. Karena ia adalah seorang Quraisy yang dapat menulis dan membaca.

Lantaran tertariknya kepada tulisan itu, maka ia memperhatikannya, dan lama kelamaan hatinya tidak tahan, lalu ia bertanya kepada adiknya perempuan yang masih kesakitan itu : “Hai Fathimah ! Itu tulisan Apa ?” Fathimah tidak mau menjawab. Maka dari itu ‘Umar bertanya lagi : “Hai Fathimah ! Cobalah tulisan itu kau ambil sebentar, aku ingin melihatnya sebentar saja. Cobalah ambilkan !“.

Fathimah menjawab dengan tegas : “Jangan ! Aku tidak sudi mengambilkannya, nanti kau robek, dan tidak akan boleh engkau memegang tulisan itu, karena engkau seteru Allah“.

Berulang-ulang ‘Umar meminta supaya diambilkan tulisan itu, tetapi Fathimah tetap tidak mau mengambilkannya. Sebab itu akhirnya ‘Umar bersumpah : “Demi Allah ! Jika aku sudah melihat dan membaca tulisan itu, dengan segera akan ku kembalikan dan tidak akan ku robek-robek Demi Allah! Aku tidak berbohong“.

Mendengar sumpah ‘Umar itu, akhirnya Fathimah mau mengambilkan tulisan itu dan memberikan kepada ‘Umar.

Setelah ‘Umar memegang tulisan itu ia membaca permulaannya :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

Baru saja ia membaca “Bismillah” itu, hatinya pun terasa berdebar-debar. lantaran itu tulisan itu dijatuhkan ke tanah. Kemudian tulisan itu diambilnya dan dibaca lagi. Adapun tulisan itu, selain tertulis “Bismillah“, ada tertulis beberapa ayat Al-Qur’an telah diajarkan oleh beliau kepada para pengikutnya. Yaitu surat Thaahaa ayat 1 s/d 16.

Setelah ‘Umar selesai membaca ayat-ayat tersebut dan memperhatikan-nya, lantas ia mengucapkan dengan sekeras-kerasnya :

اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُهُ.

Kemudian ‘Umar berkata kepada adiknya perempuan : “Sekarang ini juga, aku minta ditunjukkan tempat Muhammad. Katakanlah kepadaku, sekarang Muhammad ada di mana, aku sekarang harus bertemu dengan Muhammad“.

Umar bin Khaththab Bertemu dengan Nabi SAW

Pada waktu itu pintu rumah shahabat Al-Arqam tertutup, karena rumah itu sedang dipergunakan oleh Nabi SAW untuk mengajar, sebab pada masa itu cara beliau mengajar pengikut-pengikutnya masih dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh kaum musyrikin.

Setelah Umar bin Khaththab tiba di rumah shahabat Al-Arqam, dengan membawa pedang yang masih terhunus, ia segera mengetok pintunya terus-menerus dengan sekeras-kerasnya.

Dari dalam, penjaga pintu itu bertanya : “Siapa itu ?“.

Umar menjawab dengan suara keras : “Ibnul Khaththab !“.

Penjaga pintu itu lalu mengintai dari dalam, untuk membuktikan, betulkah yang mengetok pintu itu Umar bin Khaththab. Ternyata betul bahwa yang mengetok pintu itu Umar bin Khaththab dengan membawa pedang terhunus.

Lantaran itu penjaga pintu itu tidak mau membukakan pintu, karena ia mengira bahwa kedatangan Umar bin Khaththab itu akan mengamuk, dan boleh jadi akan membunuh Nabi Muhammad SAW. Maka dari itu penjaga pintu lebih dulu memberitahukan kedatangan Umar itu kepada Nabi SAW. Pada saat itu Umar tidak sabar lagi menunggu lebih lama, dan karenanya pintu itu diketoknya lagi dengan sekeras-kerasnya.

Para shahabat yang ada di dalam rumah itu tidak ada seorangpun yang berani membukakan pintu. Karena maklumlah, bahwa mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Umar akan menjadi seorang kawan yang terkemuka bagi mereka, bahkan mereka beranggapan dan menyangka bahwa Umar bin Khaththab masih menjadi lawan yang terbesar, apalagi kedatangannya itu dengan membawa pedang terhunus. Pada saat itu para shahabat yang ada di dalam rumah shahabat Al-Arqam itu sangat mengkhawatirkan diri Nabi SAW.

Kemudian, setelah Nabi SAW mengetahui kedatangan Umar bin Khaththab, maka beliau bersabda : “Bukakan pintu ! Biarkan Umar masuk, semoga Allah menjadikannya seorang yang baik dan memberi petunjuk kepadanya“.

Kemudian shahabat Hamzah (paman Nabi SAW) berkata : “Bukakanlah pintu itu, persilahkan Umar masuk, mungkin Allah akan memberikan kebaikan kepadanya dengan mengikut seruan Muhammad, memeluk Islam dan tunduk di bawah panji-panji Kalimah Tauhid. Tetapi jika kedatangannya bukan demikian, maka akulah yang akan mengha-dapinya dan akulah yang akan menghabisi nyawanya“.

Tetapi penjaga pintu itu masih belum mau membukakan pintu, karena dia sangat takut. Oleh sebab itu shahabat Hamzah dan shahabat Zubair lalu mendekati pintu. Kemudian barulah penjaga pintu itu berani membuka pintu, dan ketika Umar masuk, dengan segera tangan kanannya dipegang oleh Hamzah dan tangan kirinya dipegang oleh Zubair.

Dan setelah Umar bin Khaththab mendekati tempat duduk Nabi SAW, maka seketika itu juga badannya gemetar, karena takutnya melihat wajah Nabi SAW. Kemudian beliau bersabda kepada kedua shahabat tadi : “Lepaskan Umar!” Maka oleh kedua shahabat itu Umar bin Khaththab dilepaskan dengan segera dan lalu didudukkan dihadapan Nabi SAW. Kemudian beliau menarik pakaian Umar dengan bertanya :

مَا جَاءَ بِكَ يـَا ابـْنَ اْلخَطَّابِ ؟

Dengan maksud apa kedatanganmu kemari, hai Ibnul Khaththab ?

فَوَ اللهِ مَا اَرَى اَنْ تَنْتَهِيَ حَتَّى يُنَزِّلَ اللهُ بِكَ قَارِعَةً.

Demi Allah ! Aku tidak menyangka bahwa engkau akan berhenti dari perbuatanmu sehingga Allah menurunkan sesuatu yang sangat menggon-cangkanmu“.

Umar bin Khaththab menjawab dengan tegas :

جِئْتُ لَاُوْمِنُ بِاللهِ وَرَسُوْلــِهِ وَ بِمَا جَاءَ مِنْ عِنْدِ اللهِ.

Aku datang kemari demi sesungguhnya aku akan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada apa-apa yang telah datang dari sisi Allah“.

Oleh sebab itu Nabi SAW lalu menepuk dada Umar dengan tangan kanannya tiga kali dan bersabda :

اَسْلِمْ يـَا ابـْنَ اْلخَطَّابِ، اَللّٰهُمَّ اهْدِ قَلْبَهُ ! اَللّٰهُمَّ اهْدِ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ ! اَللّٰهُمَّ اخْرُجْ مَا فِى صَدْرِ عُمَرَ مِنْ غِلٍّ وَابـْدِلْهُ اِيـْمَانًا !

Islamlah engkau hai Umar bin Khaththab ! Ya Allah, tunjukilah hati-nya ! Ya Allah, tunjukilah Umar bin Khaththab ! Ya Allah, keluarkanlah apa-apa yang ada di dalam dada Umar dari pada perasaan benci, dan gantilah dengan iman !“.

Selanjutnya Nabi SAW bersabda :

اَ لَمْ يَأْنِ لَكَ يَاعُمَرَ اَنْ تَشْهَدَ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ، وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ؟

Apakah belum masanya bagimu Umar, bahwa engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu Rasul Allah ?“.

Lalu seketika itu juga Umar membaca syahadat di hadapan Nabi SAW:

اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ، وَاَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ.

Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya engkau (Muhammad) adalah Rasul Allah“.

Setelah Umar bin Khaththab membaca syahadat, lalu Nabi SAW membaca takbir tiga kali.

اَللهُ اَكْــبَرُ ! اَللهُ اَكْــبَرُ ! اَللهُ اَكْــبَرُ !

Allah Maha Besar ! Allah Maha Besar ! Allah Maha Besar !

Kemudian sekalian kaum Muslimin yang ada di dalam rumah itu membaca takbir juga bersama-sama dengan suara sekeras-kerasnya.

Kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Nabi SAW :

اَوَ مَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنهُ وَجَعَلْنَا لَه نُوْرًا يَّمْشِيْ بِه فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُه فِى الظُّـلُمٰتِ لَـيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا، كَذٰلِكَ زُيـِّنَ لِلْكٰـفِرِيـْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar dari padanya ? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan“. [QS. Al-An’am : 122]

(ary@mta)

 

Jateng Pos, Ahad – 02 November 2014

 


2 Responses to “Islamnya ‘Umar bin Khathab RA”

  1. 2
    hartini Says:

    umar r.a mempunyai hati yang keras jujur dengan diri telah dicairkan hatinya dengan QS. Thaahaa, bagaimana hati kita belumkah saatnya melunakkan hati memeluk islam dengan kaaffah mari kita renungkan dipenghujung tahun ini dengan sepenuh jiwa amiin

  2. 1
    yono Says:

    Mari kita selalu berdoa dengan ikhlas, semoga seluruh bangsa Indonesia setidaknya, semua bersungguh-sungguh berislam sesuai Al-qur’an dan As-Sunnah, bahkan semoga seluruh manusia yang ada di bumi ini… semoga, doa kita dikabulkan..aamien

Leave a Reply