SABAR dalam Keimanan

SABAR-DALAM-KEIMANANYANG SEDANG DIUJI. Kehidupan di dunia yang kita lalui tidaklah selalu seperti yang kita harapkan, suka dan duka datang silih berganti. Suatu saat kita bisa berada dalam kesenangan karena semua kebutuhan tercukupi, kadangkala merasa sedih karena segala sesuatu tidak seperti yang kita harapkan.

Keadaan seperti ini sering terjadi pada kehidupan kita, juga pada masyarakat disekitar kita. Namun demikian bagi orang yang beriman irama suka dan duka kehidupan adalah hal yang biasa. Pada saat kita mendapatkan sesuatu yang menggembirakan hendaklah bersyukur, sedang kalau lagi mendapat kesusahanN haruslah bershabar.

Bagi orang yang beriman akan selalu berpegang dan tha’at kepada aturan Allah dan Rassul-Nya, baik dalam keadaan suka maupun duka. Orang beriman akan selalu bersyukur atas ni’mat yang Allah berikan kepadanya.

Syukur yang tidak hanya sebatas lisan, akan tetapi diwujudkan dalam perbuatan, yakni dengan makin tekun dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah dan Rasulullah SAW. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW menyatakan :

عَجَبًا لِاَمْرِ الْمُؤْمِنِ، اِنَّ اَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ. وَ لَيْسَ ذَاكَ لِاَحَدٍ اِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ. اِنْ اَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ. وَ اِنْ اَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Mengagumkan sekali urusannya orang mukmin itu. Sesungguhnya urusannya, semuanya menjadi kebaikan baginya. Dan tidak ada yang mendapatkan demikian itu seseorangpun kecuali orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, bersyukur. Maka yang demikian itu adalah menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ditimpa suatu mushibah, bershabar. Maka yang demikian itu menjadi kebaikan pula baginya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2295]

Sebenarnya seseorang yang sedang ditimpa mushibah atau kesusahan dan kekurangan, maka itu hanya ujian semata yang Allah berikan kepadanya. :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلاَمْوَالِ وَاْلاَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّاِرِيْنَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang shabar, [QS Al-Baqarah : 155]

Demikianlah Allah menguji kita dengan suatu yang mengkhawatirkan, bahkan rasa ketakutan akan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan lainnya, semua ujian tersebut akan berlaku atas siapa saja, dan bisa terjadi pada siapa saja atas kehendak Allah. Hanya orang-orang yang beriman dan khusyuk yang akan melewati itu semua dengan kesabaran, dan keikhlasan bahwa yang terjadi hanyalah ujian semata. Karena orang yang beriman yakin bahwa Allah akan menolongnya, dan Allah SWT akan memberikan petunjuknya, seperti dalam firmannya:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخَاشِعِيْنَ

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan shabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, [QS Al-Baqarah : 45]

Pertolongan yang diharapkan oleh orang yang beriman bukan saja melingkupi kehidupan dunia saja, melainkan juga kehidupan akhirat. Justru yang lebih penting adalah untuk keselamatan di akhirat nanti.

Orang yang beriman dan khusyu’ dalam menjalankan ibadahnya akan mementingkan kehidupan akhirat dibandingkan kehidupan dunia. Karena kehidupan di dunia adalah kehidupan yang menipu dan hanya sebatas kehidupan yang tidak boleh dilupakan.

Sangat berbeda sekali antara sikap orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman. Orang yang tidak beriman ketika mendapatkan kesenangan mereka lupa akan diri, bahkan cenderung semakin memperturutkan hawa nafsunya dan semakin rakus untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya tanpa peduli asalnya. Halal atau Haram.

Celakanya kalau mereka merasa dirinya sudah berkecukupan, maka tindakannya bisa melampaui batas. Dunia maunya dikuasainya, dan merasa bahwa semua bisa dibeli dengan hartanya, dan semua apa yang diinginkan bisa terpenuhi. Hidupnya menjadi budak nafsu, bangga dengan kekayaannya, bangga dengan kedudukannya, dan bangga pula dengan apa yang dimilikinya. Tanpa sadar merasa dirinya melebihi segalanya, bahkan berlaku dhalim pun dianggap hal yang biasa. Seperti disebut dalam firman Allah (QS Al-‘Alaq : 6-7) :

كَلَّا اِنَّ اْلاِنْسَانَ لَيَطْغٰى، اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰى

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena merasa bahwa dirinya serba cukup. [QS. Al-‘Alaq : 6-7]

Demikianlah dikabarkan oleh Allah tentang sifat manusia yang sangat melampaui batas, manakala dirinya merasa serba cukup. Dan ini sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari disekitar kita. Ada yang dicukupkan hartanya, dia gunakan untuk berbuat ma’shiyat, dia kufur terhadap Allah, berpaling dari kebenaran.

Merasa dirinya lebih dari yang lain, dan merasa apa yang dia miliki adalah dari hasil dari usahanya sendiri, bukan dari karunia Allah. Orang-orang seperti inilah yang sangat melampaui batas.

YANG MELAMPAUI BATAS

Namun demikian ada juga orang-orang yang mengaku dirinya ulama berilmu, yang dengan ilmunya mereka berbuat melampaui batas. Mereka jual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah. Sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di dunia, mereka rela melakukan penipuan terhadap masyarakat dengan menggandalkan gelar keagamaan yang dibuatnya sendiri.

Masyarakat dibodohi dengan pengakuannya memiliki kekuatan ghaib, padahal semua itu bohong belaka. Bahkan diantara mereka ada yang berusaha menghambat masyarakat untuk berpikir cerdas. Yaitu dengan menghalangi tersebarnya Al-Quran dan As-Sunnah.

Mereka enteng saja menyebar fitnah bahwa orang yang belajar Al-Quran dan As-Sunnah secara langsung akan terkena racun, jadi masyarakat harus belajar melalui perantara. Dan masyarakat harus mengikuti apa kata guru mereka, bukan mengikuti petunjuk, yakni Kitabullah dan Sunnah Nabi SAW.

Orang-orang seperti inilah yang sangat getol menentang berkembangnya syiar Islam yang benar-benar sesuai dengan Qur’an dan Sunnah. Karena mereka akan merasa kehilangan kepercayaan dari masyarakat, kehilangan pamor, dan yang jelas kehilangan orang-orang yang bisa ditipunya. Orang Jawa menyebutnya, “Wedi kelangan upo” (takut kehilangan lahan penghasilan).

Banyak yang mengaku kyai dan mengaku memiliki kemampuan ggaib yang bisa melakukan apasaja yang diingini pelanggan, mulai dari menyembuhkan penyakit, meramal nasib, dan mendatangkan rejeki. Semua itu adalah kebohongan yang besar, tidak seorangpun di dunia ini yang bisa melihat sesuatu yang ghaib. Angin yang bisa dirasakan oleh tubuh kita saja tidak bisa dilihat, apalagi sesuatu yang dzatnya tidak nampak dan tidak bisa dirasakan.

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلَ اللهُ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَشْتَرُوْنَ بِه ثَمَنًا قَلِيْلًا اُولٰٓئِكَ مَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ اِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari qiyamat dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. [QS Al-Baqarah :174]

Ada beberapa orang yang merasa memiliki ilmu agama mendalam, namun ilmunya digunakan untuk memecah belah ummat Islam itu sendiri. Karena merasa dirinya paling benar, sehingga menyalahkan yang lain, menghina, bahkan sampai ada yang menghujat saudaranya seiman, na’uudzu billaahi min dzaalik.

Mereka mempublikasikan hujatan-hujatan mereka di media sosial, hingga terjadilah panggung hujat-menghujat sesama ummat Islam yang dijadikan konsumsi publik, akhirnya peluang ini dimanfa’atkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, untuk mengambil keuntungan.

YANG MENYERU KEMBALI KE AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH.

Akan tetapi masih ada sebagian manusia yang mau berpikir dan berusaha merubah tatanan kehidupan menjadi tatanan yang adi, mereka datang bukan dari golongan orang kaya, juga bukan dari golongan penguasa. Mereka ini terlahir dari berbagai suku, dari berbagai strata ekonomi, dari berbagai tingkatan pendidikan.

Baik yang berasal dari orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah formal, maupun mereka yang punya gelar Doktor maupun Proffesor. Mereka semua berkumpul sebagai golongan orang yang beriman yang mempelajari Al-Quran dan As-Sunnah, untuk kemudian diamalkan.

Dan mengajak ummat Islam seluruhnya untuk kembali memurnikan keislaman dengan beriman dan kembali pada Kitabullah dan Sunnah Nabi SAW.

Mereka terjun dalam perjuangan yang berat untuk membawa ummat Islam kembali ke Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka juga harus berhadapan dengan orang-orang yang memusuhinya, dicaci, dihujat bahkan harus berhadapan dengan orang-orang yang sangat melampaui batas yang menghalangi orang untuk mendapatkan petunjuk. Maka Allah berpesan kepada orang-orang yang shabar dalam keimanan :

وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ. اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصٰبَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ قَالُوْآ اِنَّا لِلّٰهِ وَ اِنَّا اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ

Maka berikanlah khabar gembira kepada orang-orang yang shabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. [QS. Al-Baqarah : 155-156]

(nDaru) @JATENGPOS

Jatengpos, Rabu 27 Agustus 2014


Leave a Reply