Pengajian Gabungan di Salatiga & Sekitarnya

Salatiga (30/08) Semarak hari Sabtu pagi yang bertepatan dengan tanggal 30 Agustus itu kota Salatiga tampak cerah, dan makin semarak dengan diselenggarakannya kajian gabungan warga MTA. Penyelenggara kajian ini adalah MTA perwakilan Salatiga dan perwakilan Semarang.

Tigaribuan warga MTA, simpatisan pecinta radio Persada FM memadati gedung Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) yang berlokasi di Jl. Hasanudin 833, kota Salatiga. Mengawali acara Tantowi selaku ketua panitia penyelenggara setelah mengucapkan selamat datang kepada para hadirin, menyatakan bahwa MTA Perwakilan Salatiga diresmikan bersamaan dengan Silatnas di Jakarta pada 15 September tahun 2013 silam.

Wajah-wajah ceria dengan penuh semangat menantikan taushiyah dari pimpinan Pusat MTA (Majlis Tafsir Al-Quran) Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina. Kesejukan udara membuat suasana dalam menanti taushiyah terasa damai.

Mengawali taushiyahnya Al-Ustadz menegaskan bahwa MTA adalah lembaga da’wah yang menda’wahkan Islam kepada seluruh ummat manusia. Dalam da’wahnya MTA tidak meminta upah untuk guru ataupun ustadznya, dan tidak mendapatkan bantuan dana dari pihak luar, semua da’wahnya dijalankan dengan pemberdayaan sumber daya yang ada pada warganya. Upah yang diharapkan adalah semata dari Allah SWT. Ditanamkan pada warganya bahwa semua harta ataupun uang adalah asalnya dari Allah, dan akan dipakai untuk jihad di jalan Allah.

Dalam kesempatan ini Al-Ustadz juga menegaskan bahwa MTA tidak ada hubungannya dengan ISIS, organisasi yang namanya akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan di media karena aksinya.

Kemudian Al Ustadz mengajak segenap ummat Islam agar memurnikan aqidahnya dan menjauhi perbuatan syirik. Jangan mengikuti umumnya, karena belum tentu benar. jangan mengikuti kira-kira. Dalam beragama harus mengikuti tuntunan, Islam itu pasti, yang haq adalah tetap haq, dan yang bathil adalah bathil. Tidak akan bercampur antara yang haq dengan yang bathil. Islam itu mudah, tidak sulit.

Manusialah yang mempersulit dirinya sendiri. Banyak ummat Islam yang menjalankan ibadah yang ditambah-tambah, seakan dengan adanya Al-Quran dan Sunnah tidak cukup. Mereka masih banyak yang mengikuti tradisi yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Seperti tersirat dalam firman Allah QS Al-Maidah 104 :

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا اِلٰى مَآ اَنْزَلَ اللهُ وَ اِلَى الرَّسُوْلِ قَالُوْا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَآءَنَا اَوَلَوْ كَانَ اٰبَآؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ شَيْئًا وَّلاَ يَهْتَدُوْنَ

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. [QS. Al-Maaidah : 104]

Untuk itulah salah satu tujuan keberadaan lembaga da’wah MTA yakni mengajak ummat Islam seluruh dunia untuk kembali ke Al-Quran dan As-Sunnah. Hal ini juga harus diikuti dengan bentuk kerjasama yang baik antar para Ulama sehingga akan satu sinergi dalam memberikan pendidikan moral kepada bangsa ini.

Seperti kita ketahui bahwa “Baik buruknya suatu bangsa ditentukan oleh akhlaqnya”. Oleh karena itu upaya untuk memperbaiki akhlaq anak bangsa ini hendaklah menjadi prioritas utama, karena hanya dengan akhlaq dari anak bangsa yang baik maka akan tercipta suatu kondisi yang membuat masyarakat bisa hidup tentram, jauh dari gangguan kejahatan”.

Juga akan bisa menjadikan bangsa yang maju apabila pemimpin bangsa ini semuanya amanah terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya. Jangan sampai bangsa ini menjadi bangsa yang dimurkai oleh Allah, karena didapati para pemimpin bangsa ini tidak amanah, bahkan cenderung membikin kerusakan.

Sungguh janji Allah itu pasti, apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qura’an itu adalah suatu kebenaran yang tidak diragukan lagi. Kita simak dalam-dalam di salah satu firman-Nya dalam Kitabullah (Al-Qur’an) surat Al-Israa’ :16.

وَ اِذَآ ااَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. [QS. Al-Israa’ : 16]

Semoga dengan menyimak dan merenungkan ayat tersebut diatas, kita mendapatkan pelajaran, bagaimana Allah akan menghancurkan sebuah negeri dengan kehancuran yang dahsyat, bilamana negeri tersebut dipimpin oleh orang yang hidup mewah bergelimang harta dan kemewahan tersebut menjadikannya bermakshiyat kepada Allah.

Tidak terbayangkan bagaimana ketika sebuah negeri dihancurkan oleh Allah sehancur-hancurnya, sedang kita berada didalamnya. Naudzubillahi mindzalik, semoga kita semua termasuk orang yang beriman dan orang yang diselamatkan oleh Allah. (nDaru)

 

(JatengPOS, 31 Agustus 2014)


Leave a Reply