Bulan Peningkatan

Dari segi bahasa syawwala-yusyawwilu yang masdarnya syawwal itu mempunyai arti meningkat. Sehingga bulan syawwal bisa dimaknai sebagai bulan peningkatan.

Artinya kualitas kepribadian seorang muslim di bulan Syawwal itu diharapkan meningkat setelah mengalami penggemblengan intensif selama bulan Ramadlan. Kualitas penghambaannya kepada Allah (‘ibadah) meningkat. Begitu pula kualitas pelayanannya kepada sesama hamba Allah (mu’amalah) juga meningkat.

Kualitas penghambaan kepada Allah ditentukan oleh kemurnian iman dalam bertauhid kepada-Nya. Sedangkan kualitas interaksi antar sesama hamba Allah alias amal shalih adalah buah dari iman.

Sehingga hanya orang-orang yang beriman sajalah yang bisa beramal shalih. Sedangkan orang kafir amalnya lenyap bagaikan fatamorgana (Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun) [QS An-Nuur : 39].

Orang munafiq tertipu oleh angan-angan kosong mereka sendiri (Orang-orang munafiq itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.) [QS Al-Hadiid : 14] dan orang musyrik amal shalihnya dihapus Allah (Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.) [QS Az-Zumar : 65].

Maka tepat sekali bila Allah mengingatkan kepada hamba-Nya untuk menegakkan hubungannya dengan Allah dan meluruskan hubungannya dengan sesama manusia agar tidak ditimpa kehinaan :

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan….” (QS Ali ‘Imraan : 112)

Saudaraku, memasuki minggu terakhir bulan Syawwal ini mari kita lakukan evaluasi diri.

Umar bin Khaththab ra pernah mengingatkan: “Haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu.” (Hisablah diri kalian sendiri, sebelum kalian dihisab)

Mari kita periksa kembali tiga hal penting dalam diri kita masing-masing. Yang pertama adalah kualitas keislaman. Apakah kita telah menjadi hamba Allah yang benar-benar tunduk patuh alias tha’at kepada-Nya? Atau barangkali masih ada kemunafiqan yang terselip sehingga menjadikan kita sering mengkompromikan antara ketha’atan dengan kema’shiyatan?

Setiap saat orang Islam hendaknya ingat akan syahadat yang telah diikrarkannya, karena syahadat itu hakekatnya adalah janji setianya kepada Allah dan rasul-Nya. Pengingkaran atas syahadat itu boleh jadi menjadikannya kafir, munafiq atau fasiq.

Yang ke dua mari kita periksa kembali kualitas keimanan kita masing-masing. Benarkah kita semakin mencitai keimanan dan iman itu semakin terasa indah di dalam hati? (QS Al-Hujuraat : 7)

Iman memang bisa bertambah atau berkurang, tetapi orang beriman tidak akan membiarkan imannya berkurang. Berkurangnya iman karena kema’shiyatan (kedurhakaan), sedang Allah menjadikannya benci kepada kekafiran, kefasiqan dan kedurhakaan. (QS Al-Hujuraat : 7)

Yang terakhir mari kita periksa kualitas ihsan kita. Benarkah kita telah merasakan kehadiran Allah setiap saat. Allah sangat dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita.(QS Qaaf : 16)

Tetapi banyak orang yang tidak merasakan kehadiran Allah itu, sehinga begitu mudah berbuat maksiat. Berdusta, ingkar janji dan berkhianat menjadi amalan hariannya, padahal tidak ada seorangpun yang bisa bersembunyi dari pengawasan Allah.(QS Ali ‘Imraan : 5) Sebaliknya orang yang ihsan akan merasakan kehadiran Allah yang menyertai dan mengawasinya setiap saat dimanapun dia berada.

Sehingga dirinya terjaga dari berbuat ma’shiyat, bahkan selalu termotivasi untuk lebih banyak beramal shalih. Hanya orang-orang seperti itulah yang bisa melaksanakan perintah nabi Muhammad SAW untuk bertaqwa kepada Allah dimana saja dia berada (Ittaqillaaha haitsu maa kunta). Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita untuk memperbaiki kualitas islam, iman dan ihsan, sehinga kita menjadi hamba-Nya yang bertakwa, aamiin.

 

Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA)

 

Hikmah Jumat SOLOPOS (Jum’at, 22 Agustus 2014)

~oO[ @ ]Oo~


Leave a Reply