Metamorphose JABATAN menjadi KEBAJIKAN

METAMORPOSE-JABATAN-KEBAIKANSegala puji bagi Alloh, Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

Seorang Nabi utusan Alloh adalah manusia tauladan yang harus diikuti oleh setiap manusia yang ingin sukses di dunia dan di akherat. Namun selalu saja Nabi dan Rasul Alloh, biasanya diutus oleh Alloh di saat umat manusia mengalami kemerosotan akhlaq, kemerosotan budi pekerti. Seorang Nabi dan Rasul biasanya sebagai manusia yang harus berkurban jiwa dan raga untuk bisa mengangkat kembali umat manusia untuk sadar dan kembali menuju kepada jalan kemuliaan akhlaq dan budi pekerti jalan kebajikan yang diridhoi Alloh SWT.

Bila manusia mengartikan KEBAJIKAN sebagai amal sholih, yaitu suatu perbuatan yang mutlak bermanfaat bagi segenap manusia, maka kebajikan harus memiliki fondasi yang kokoh, yaitu iman. Iman adalah keyakinan yang bersifat immateriil yang dapat menghadirkan kebahagiaan jiwa.   Manusia akan dapat merasakan nikmatnya kebahagiaan jiwa, bila mampu menahan diri (puasa) dari kenikmatan dari rayuan syaitan dan hawa nafsu.

Islam telah mengajarkan tentang rukun iman yang enam, yaitu iman kepada Alloh, kepada Malaikat, kepada Kitab Alloh, Kepada Rasul Alloh, Kepada Hari Akhir, dan kepada Taqdir. Bila seorang Islam mau membaca penjelasan ringkas tentang rukun Iman, maka semua hal tersebut bersifat Ghoib, namun dapat dirasakan bukti nyata di hati bagi mereka yang telah mengamalkannya.

 

Iman Kepada Alloh Dan Hari Akhir

Ketika seorang islam membaca surat Al-Fathehah 17 kali sehari, bila hati bersih dari noda-noda dosa, maka manusia diajari oleh Alloh untuk mensyukuri nikmat hidup, dan meyakini sebaga sesuatu hal yang diperbuat adalah dalam rangka bersyukur kepada Alloh, Alloh telah memberi nikmat hidup. Dengan kasih sayang Alloh manusia bisa hidup di muka bumi, dan diperintah untuk selalu memuliakan dan mengagungkan Alloh yang telah memberi nikmat hidup.

Manusia diperintah dan diingatkan bahwa nanti di akherat ada saat pengadilan dari Alloh SWT bagi seluruh makhluq. Dan manusia diperintah untuk menempuh jalan ketaatan kepada-Nya, dengan menyembah-Nya dan mohon pertolongan hanya kepada-Nya saja.

Alloh memerintah kepada manusia untuk selalu mendekat kepada Alloh, agar menempuh jalan yang dicintai Alloh dan menjauhi segala jalan yang dimurkai Alloh dan jalan kesesatan yang ada selalu menggoda manusia.

Rukun iman adalah pendidikan universal bagi jiwa, pengajaran tak kasat mata, agar jiwa manusia bisa meminimalkan sifat-sifat buruk pada dirinya, dan kemudian menumbuhkan sifat-sifat baik, yang balasan atas perbuatan baik itu pasti di dapatkan di dunia atau di akherat,

Namun perlu diketahui bahwa kadang kebaikan-kebaikan yang harus dijalani itu kadang banyak tidak bersesuaian dengan keadaan lingkungan yang sedang mengalami kemunduran akhlaq dan budi pekerti. Sebuah perjuangan yang biasanya sangat berat, dan biasanya dipikul oleh para Nabi dan Rasul, dibantu dengan kekuatan dari Alloh SWT.

 

JABATAN berubah menjadi KEBAJIKAN

Alloh SWT telah mendidik orang-orang beriman untuk memahami sebuah kebajikan sebagaimana firman Alloh

 

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴿١٧٧﴾

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (QS. 2:177)

 

Alloh Swt memerintah kepada Nabi Daud untuk bisa menetapi kebajikan adalah dilakukan dengan pengendalian diri, dengan pengendalian yang super ketat

 

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ ﴿٢٦﴾

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. 38:26)

 

Nabi Daud telah memenuhi perintah Alloh tersebut diantaranya dengan amal-amal yang sangat terkenal sebagaimana Hadist Rasululloh

 

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى صَلَاةُ دَاوُدَ كَانَ يَنَامُ نِصْفَهُ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَيَصُومُ يَوْمًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Puasa yang paling Allah ta’ala senangi adalah puasa Daud, dan shalat yang Allah ta’ala senangi adalah shalat Daud, ia tidur setengahnya dan melakukan shalat sepertiganya, dan tidur seperenamnya, dan beliau berbuka satu hari dan berpuasa satu hari.”(HR Abu Daud 2092)

 

Sebagaimana bulan romadhon, yang dipenuhi dengan manusia-manusia yang rajin mengendalikan hawa nafsu dengan berpuasa dan seluruh energi dipusatkan untuk digunakan beribadah kepada Alloh, maka manusia telah berusaha keras untuk meniti jalan-jalan kebaikan yang Alloh tunjukkan. Dan Alloh yang pasti akan mensyukurinya dan akan memberikan Hikmah dan kebaikan-kebaikan kepada diri manusia yang patuh kepada-Nya

 

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ ﴿٢٦٩﴾

Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (QS. 2:269)

 

…. وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً ﴿٤﴾

Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. 65:4)

 

Kebajikan tidaklah bisa muncul dalam diri pribadi yang tidak memahami bagaimana sebab musabab kebajikan itu mampu menyembul dari dalam hati seseorang. Bila Manusia telah menempuh jalan-jalan kearifan, maka jiwa seseorang mampu menjadikan apapun yang di kelola menjadi sebuah kebajikan.

Bahkan kekuasaan pun bisa menjadi sebuah kebajikan, sebuah implementasi manusia dalam beribadah kepada Alloh SWT. Tuhan semesta Alam yang akan memberi kebaikan, kenikmatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. Disyukuri dengan cara berbuat baik kepada orang lain.

Alloh SWT telah mengingatkan kepada manusia-manusia yang menerima kenikmatan yang besar dari Alloh untuk digunakan nikmat dan amanah itu ke dalam kemaslahatan dan kebaikan sesama secara baik dan seluas luasnya.

 

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ﴿٧٧﴾

 

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28:77)

 

Kekuasaan bisa menjadi aset luar biasa yang menjadikan manusia untuk selamat dan bahagia di dunia dan di akherat, namun kekuasaan di tangan seseorang sering-sering bisa juga berubah menjadi malapetaka dan membawa mereka lupa kepada Alloh dan menjauh dari Alloh. Karena begitu kuat dan manisnya sebuah kekuasaan di tangan seseorang. Wallohu a’lam.


Leave a Reply