Menikmati Shalat Malam

SHALAT-MALAM-CIRI-MANUSIA-BERTAQWA

Lautan berkah Allah tebarkan selama bulan Ramadlan melalui berbagai amal ibadah yang Rasulullah SAW tuntunkan kepada ummatnya.

Tidak hanya orang yang berpuasa Ramadlan atas dasar iman dan mengharap pahala Allah yang dijanjikan untuk diampuni dosa­dosanya, tetapi mereka yang mendirikan shalat malam selama bulan Ramadlan mendapatkan janji yang sama.

Man qooma Romadloona iimaanan wahtisaaban ghufiro lahu maa taqoddama min dzambihi. [HR Muslim]

Membaca dan mengingat­ingat hadits itu akan menghadirkan keni’matan di dalam hati sanubari orang beriman yang rajin menegakkan shalat malam.

Sungguh beruntung menjadi orang yang beriman. Di siang hari dia merasakan keni’matan akan hadirnya Allah dalam setiap amal shalihnya saat berpuasa. Sedang di malam hari dia merasakan keni’matan akan janji Allah yang hendak mengampuni dosa­dosanya yang telah lalu.

Siapa lagi yang lebih berbahagai dibandingkan dengan orang yang berdosa yang diampuni dosa­dosanya oleh Tuhannya? Dinginnya udara malam dan beratnya membuka mata yang sedang mengantuk tidak dia rasakan lagi karena kecintaan kepada Tuhannya.

Empuknya bantal dan kasur, serta hangatnya selimut dia tinggalkan untuk mendapatkan janji Allah yang akan mengampuni dosa­dosanya. Tidak hanya itu, Rasulullah SAW dan para sahabatnya memanfaatkan suasana religious yang hadir selama bulan Ramadlan untuk memperbanyak amal shalih yang lain seperti sedeqah, i’tikaf, membaca Al-Qur’an, dan menantikan lailatul qadar.

Demikian indahkan suasa ibadah di bulan Ramadlan sehingga seolah­olah Allah merancang untuk menghadirkan suasana “pesta ibadah” siang dan malam selama sebulan penuh, sekali dalam setahun, agar mereka meni’mati keni’matan spiritual sebagai orang bertaqwa dan untuk menyegarkan kembali kehidupan beragama umat Islam. Subhaanallooh.

Dalam hati orang beriman yang menegakkan shalat malam di dalam maupun di luar bulan Ramadlan selalu terlintas ingatan akan janji Allah untuk mengangkat derajat mereka ke tempat yang terpuji.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

“Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah­mudahan Tuhan­mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. [QS Al-Israa’ : 79]

Dengan shalat malam itulah orang beriman meraih kemuliaan. Namun perlu diingat bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala puasanya selain lapar, dan berapa banyak orang yang shalat malam tidak mendapatkan pahala shalat malamnya selain bergadang semata”. [HR Ahmad]

Sehingga jangan sampai puasa kita hanya mempuasakan perut yang menghadirkan lapar dan haus, tetapi mempuasakan hati dengan menghadirkan penyertaan dan pengawasan Allah setiap saat di dalam hati.

Begitu juga jangan sampai shalat kita hanya merupakan rangkaian ruku’ dan sujud yang menjadikan badan kita berkeringat dan mata kita terjaga, tetapi merupakan rangkaian dialog antara kita sebagai hamba Allah sebagai Ilah yang kita sembah yang menjadikan mata hati kita semakin terbuka akan pentingnya menghambakan diri hanya kepada Allah saja.

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua untuk menikmati indahnya janji Allah di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadlan dengan intensif beribadah hanya karena Allah dan meninggalkan bulan Ramadlan sebagai hamba Allah yang bertaqwa, aamiin.

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)

Solopos, Senin 21 Juli 2014


Leave a Reply