Sekolah Gratis 16 Tahun … Bisakah ???

tutwuriSegala puji bagi Alloh, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu tekun mengikuti jalan petunjuk-Nya.

Ketika seseorang membaca sejarah tentang masa-masa Kemakmuran dan Keadilan sebuah bangsa, maka tidak pernah lepas dari sebuah sitem kepemimpinan dan pemerintahan yang berwibawa, yang kaya dengan kearifan dan yang tegas dalam keadilan.

Orang sering membaca tentang suasana adil makmur di suatu zaman, namun orang sering tidak mempelajari kenapa suatu masa bisa tercipta suasana kemakmuran dan keadilan.

Raja raja di jaman dahulu, yang ingin menurunkan tahtanya dalam suasana keadaan yang terus menerus berkeadilan, mereka telah mempunyai tabiat untuk meletakkan para pangeran-pangeran calon pengganti tahta kerajaan di didikkan ditempat-tempat yang berkwalitas, baik kwalitas moral, etika, karakter, maupun juga keahlian dalam mengelola dunia.

Anak-anak calon pengganti raja yang terdidik dalam suasana ilmu moral, etika, karakter yang baik dan ilmu tentang pengelolaan materi yang berkwalitas, maka akan dapat siap mewarisi dengan baik, bila kemudian terjadi penurunan kekuasaan.

Namun bila tidak demikian, dan bila raja raja telah lupa diri, dan kemudian dirinya telah bersenang-senang dan berfoya-foya dan kemudian membiarkan para pangeran tidak mengenyam pendidikan moral, etika dan karakter yang mulia, dan bahkan para raja membiarkan anak-anaknya bergelimang kesenangan bersamanya, maka biasanya disusul dengan masa-masa suram kerajaan, dan bahkan kemudian bisa saja kerajaan pecah berantakan dan hancur.

 

1. Sekolah Gratis Seperti apa ???

Banyak orang yang mencibir tentang kemungkinan sekolah gratis, seolah dia adalah lepasnya tanggung jawab masyarakat dalam ikut memikul tanggung jawab pendidikan, bahkan mungkin orang akan berfikir bahwa sekolah gratis sesuatu yang mustahil.

Namun bila ditinjau dari sisi keadilan dan pemerataan, maka sekolah gratis adalah sesuatu yang seharusnya dijalankan. Manusia perlu menyadari, bahwa manusia-manusia cerdas dan berkwalitas tidak mesti lahir dari anak-anak orang kaya dan berkecukupan, banyak orang-orang miskin yang memiliki anak-anak yang cerdas dan berkwalitas. Sebaliknya banyak juga anak-anak orang kaya ternyata biasa-biasa saja.

Bila sebuah kekuasaan atau sebuah Negara, mengetahui sebab musabab kemakmuran dan keadilan itu terletak di dalam keadilan dalam memperoleh kesempatan pendidikan, maka pasti mereka akan mengetrapkan pendidikan gratis.

Namun dibalik kegratisan itu ada suatu aturan yang jelas dan terukur, siapa-siapa yang bisa mengenyam di dalam pendidikan tersebut. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang berumur berabad-abad, karena mereka memiliki system pewarisan pengelolaan yang baik. Mereka membuat pendidikan gratis untuk melestarikan terus menerus mewariskan keberhasilan perusahaan. Mereka memberikan pendidikan gratis kepada mereka mereka yang telah diseleksi, dan dipastikan mampu menerima estafet pengelolaan perusahaan.

Namun banyak pula perusahaan-perusahaan keluarga yang segera hancur berantakan, ketika sang pengelola tidak peduli dengan estafet keberhasilan, dan bahkan anak-anak calon pewarisnya ternyata memang bodoh, dan membiarkan terus dalam kebodohan, walaupun diberi fasilitas yang banyak pun tetap saja bodoh, maka ketika warisan perusahaan itu diturunkan maka perusahaan itu segera menuju kehancuran. Sering kita lihat, perusahaan-perusahaan keluarga yang sesak dengan nepotisme membabi buta, maka segera berantakan ketika diwariskan.

Bila sebuah Negara menyadari bahwa keberlangsungan kemakmuran dan keadilan sebuah negara terletak dipundak para pengelola Negara, Maka Negara perlu menyeleksi manusia manusia yang berkwalitas dan berbobot,kemudian mereka didik dengan pendidikan moral, akhlaq, budi pekerti, karakter yang baik, dan dibekali pula dengan keahlian-keahlian yang spesifik, sehingga kelestarian pengelolaan Negara di masa depan akan terus berjalan dengan baik. Gratisnya pendidikan bukan dikenyam oleh meraka yang mengabaikan pendidikan, namun dikenyam oleh mereka yang bersungguh-sungguh, berbakat dan memiliki daya juang yang besar.

 

2. Hukum Kesejajaran Globalisasi dan Kompetisi Antar Bangsa

Zaman hari ini zaman persaingan ketat diantara bangsa-bangsa, kita telah dikejutkan munculnya Negara-negara baru yang mencuat mengejar ketinggalan dan kemudian bertengger sejajar dengan Negara-negara maju. Dari latar belakang Negara miskin tiba-tiba mencuat menjadi Negara yang maju dan makmur.

Sebaliknya kita jika melihat Negara-negara yang berbangga bahwa mereka dapat mengkonsumsi dan mengimpor segala jenis kesenangan dari berbagai belahan dunia, namun setelah beberapa saat kemudian Negara tersebut terpuruk dan tersingkir.

Demikian mudah untuk dibaca oleh orang awam, bahwa disaat ini bila sebuah Negara peduli dengan pembangunan sumber daya manusia, maka mereka akan melejit kepada keberhasilan yang tangguh, sebaliknya bila mereka hanya bangga dengan kemampuan mengkonsumsi kemewahan teknologi, pasti mereka segera terpuruk.

Banyak Negara-negara yang peduli dengan pendidikan sumber daya manusia, kemudian mereka membeli banyak tenaga ahli dari berbagai penjuru dunia, dan kemudian mereka jadikan pendidik-pendidik bagi bangsanya. Akhirnya bangsanya bisa mengejar ketertinggalan dan sejajar dengan bangsa-bangsa maju.

 

3 . Dibalik keberhasilan yang Memukau.

Sumber daya manusia tidak bisa dipungkiri menjadi modal besar keadilan dan kemakmuran, namun dibalik itu yang paling menentukan adalah Semangat Kemuliaan dan kedermawanan para pendidik dan pengajar. Banyak anak-anak orang miskin yang mendapatkan uluran materi dan immateri dari pendidik yang memiliki hati belas kasih dan berjiwa besar.

Guru yang dibutuhkan tidak hanya manusia yang berotak cerdas, namun manusia-manusia cerdas yang memiliki semangat memajukan dan mewariskan ilmu kepada anak didiknya. Dedikasi guru-guru cerdas, manusia-manusia cerdas yang memiliki semangat pelestarian, dan pewarisan ilmu kepada generasi pelanjut termasuk mental-mental yang harus dimiliki para guru.

Banyak guru yang telah membelanjakan hartanya untuk membiayai anak-anak orang miskin untuk dapat terus mengenyam pendidikan, dan banyak guru-guru cerdas yang terus menggali ilmu dan dengan sangat senang hati memberikan ilmu-ilmu tersebut kepada murit-muritnya untuk lebih lagi digali dan digali untuk diambil kemanfaatan yang besar darinya.

Walhasil, predikat guru bukanlah mereka yang bisa mengenyam pendidikan di pendidikan-pendidikan formal. Namun guru sebenarnya adalah mereka-mereka yang mempunyai kemampuan lebih untuk menguasai dan menggali ilmu dan mengetrapkan dalam kehidupan sehari-hari, Dan kemudian mereka mampu mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain untuk difahami dan dikuasai dan diaplikasikan.

Guru bukanlah meraka saja yang duduk di pendidikan formal untuk mencetak murit-murit yang berijasah formal, namun guru adalah mereka-mereka yang mampu menggali ilmu dan memberikan ilmu kepada orang lain dengan semangat beramal sholeh, merupakan guru-guru yang benar-benar sukses. Dan bahkan mereka sangat dikenang karena keikhlasannya.

 

4. (12 +4 = 16) Wacana Tinggal Wacana ???

Bila kita memiliki pemimpin-pemimpin yang Arif, bijaksana, bermental mulia, berbudi pekerti yang agung, berkarakter kuat, Cerdas, Berwibawa, suka berkurban, maka mereka akan mampu membaca zaman. Bahkan mampu membaca perjalanan zaman. Dan mampu menyiapkan diri menatap zaman, bahkan mereka adalah futuris yang gemilang.

Sebaliknya bila kita memiliki pemimpin-pemimpin yang sempit pandangan, pastilah sekolah gratis dianggab sebagai kesia-siaan, karena memang manusia manusia demikian hanya mengejar keberhasilan sesaat dan mengabaikan keberhasilan jangka panjang.

Sekolah gratis 12 th telah menjadi kenyataan yang dikenyam oleh anak bangsa, dan tinggal jenjang terakhir 4 th yang sangat menentukan. Banyak anak-anak cerdas yang terdampar disebabkan karena kemiskinan, sehingga 4 th yang sangat menentukan untuk mendapatkan kesempatan pendidikan di perguruan tinggi tidak tergapai. Mereka adalah aset bangsa yang tersia-siakan.

Demikian pula mental manusia yang semakin kehilangan keihlasan, pengurbanan, perjuangan, kasih sayang, dan bahkan menghadapi generasi penerus yang kadang-kadang semakin berjiwa materialis dan serakah, maka wacana, demi wacana begulir tanpa ada kenyataan dan semua tinggal wacana dan pikiran yang disia-siakan.

Semoga Alloh memberikan kepada kita keikhlasan untuk mendidik anak-anak bangsa, sebagaimana kita sangat bersemangat mendidik anak-anak kita masing-masing menggapai kesuksesan, menggapai kebahagiaan dunia dan akherat. Wallohu a’lam


One Response to “Sekolah Gratis 16 Tahun … Bisakah ???”

  1. 1
    yono Says:

    Bila melongok masa lalu ketika banyak orang miskin yang sekarang sudah sukses menjadi pejabat, seharusnya mereka ingat jasa-jasa negara kepada mereka, diangkat dari kemiskinan kepada kesuksesan, semoga saat ini mereka tidak lupa atau bergaya lupa untuk mengangkat orang-orang lain yang terpinggirkan untuk memiliki kesempatan yang sama menggapai kesuksesan, walhasil tidak akan berulang pepatah yang mengenaskan seperti “KACANG LUPA KULITNYA”.. ya semoga mereka tidak lupa DIRI

Leave a Reply