Kesempatan Emas di Bulan Ramadhan

kesempatan-emas-ramadhaSegala puji hanya bagi Alloh, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya, salam untuk seluruh Nabi-nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

Alloh SWT, dialah Dzat Yang Maha Esa, yang menciptakan, memelihara, melindungi, menyantuni seluruh ciptaannya, berupa Alam Raya, Jagat Raya Semesta Alam. Sebagaimana dalam firman-Nya

 

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِالْحَقِّ وَيَوْمَ يَقُولُ كُن فَيَكُونُ قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّوَرِ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ ﴿٧٣﴾

Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan:”Jadilah, lalu jadilah”, dan ditangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. 6:73)

 

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ ﴿٥٤﴾

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. 7:54)

 

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ ﴿٣١﴾

 

Katakanlah:”Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka menjawab:”Allah”. Maka katakanlah:”Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” (QS. 10:31)

 

Segala puji bagi Alloh, dengan kata-kata apa lagi para Da’I akan meyakinkan seluruh manusia di muka bumi agar mereka mencintai Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sungguh sudah sedekimian banyak firman Alloh dibacakan dan di dakwahkan namun manusia masih tetap saja bersikap meremehkan dan melalaikan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Alloh menjelaskan tentang sebab musabab manusia terus menerus mengabaikan dan meremehkan Al-Qur’an dan AS-Sunnah sebagaimana firman-Nya

 

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ﴿٧٥﴾ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ﴿٧٦﴾ إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ ﴿٧٧﴾ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ ﴿٧٨﴾ لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ ﴿٧٩﴾ تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٨٠﴾ أَفَبِهَذَا الْحَدِيثِ أَنتُم مُّدْهِنُونَ ﴿٨١﴾ وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ ﴿٨٢﴾ فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ ﴿٨٣﴾ وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ ﴿٨٤﴾ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لَّا تُبْصِرُونَ ﴿٨٥﴾ فَلَوْلَا إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ ﴿٨٦﴾ تَرْجِعُونَهَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ ﴿٨٧﴾ فَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ ﴿٨٨﴾ فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ ﴿٨٩﴾

Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. (QS. 56:75)

Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, (QS. 56:76)

sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, (QS. 56:77)

pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), (QS. 56:78)

tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS. 56:79)

Diturunkan dari Tuhan Semesta Alam. (QS. 56:80)

Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Qur’an ini, (QS. 56:81)

kamu (mengganti) rezqi (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). (QS. 56:82)

Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, (QS. 56:83)

padahal kamu ketika itu melihat, (QS. 56:84)

dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.Tapi kamu tidak melihat, (QS. 56:85)

maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah) (QS. 56:86)

Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar, (QS. 56:87)

adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), (QS. 56:88)

maka dia memperoleh rezki serta surga kenikmatan. (QS. 56:89)

 

Walhasil, bila manusia tidak bersungguh-sungguh menempuh hidup dengan mensucikan diri, menjauhi segala bujukan syaitan dan hawa nafsu, maka mereka tidak akan pernah menghargai Al-Qur’an, bahkan mereka selalu meremehkan dan melalaikan Al-Qur’an. Dan Alloh menandaskan bahkan manusia baru sangat menyesalinya dengan sikapnya itu, ketika mereka sudah menjelang ajal menjeput, dan bahkan mereka baru mengetahui kerugian itu dengan yakin setelah mereka ada di alam kubur.

Gaya hidup dan perilaku hidup manusia yang selalu merangsang diri mereka untuk bersenang-senang dan selalu memuaskan bujukan kesenangan hawa nafsu syaitan, mereka pasti menjauhkan diri dari Al-Qur’an dan pasti mereka ditarik oleh syaitan untuk selalu menjauhi Al-Qur’an sebagaimana syaitan selalu menjauhi Al-Qur’an, sebagaimana firman Alloh

 

وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ ﴿٢١٠﴾ وَمَا يَنبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ ﴿٢١١﴾ إِنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ لَمَعْزُولُونَ ﴿٢١٢﴾

Dan al-Qur’an itu bukanlah dibawa turun oleh syaitan-syaitan. (QS. 26:210)

Dan tidaklah patut mereka membawa turun al-Qur’an itu, dan merekapun tidak akan kuasa. (QS. 26:211)

Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar al-Qur’an itu. (QS. 26:212)

 

Kekecewaan demi kekecewaan akan dirasakan oleh orang-orang yang mengabaikan Al-Qur’an, bahkan mereka nanti akan menghadapai kesulitan yang luar biasa di alam akherat. Sebagaimana firman Alloh

 

وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاء بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلَائِكَةُ تَنزِيلاً ﴿٢٥﴾ الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ وَكَانَ يَوْماً عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيراً ﴿٢٦﴾ وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً ﴿٢٧﴾ يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً ﴿٢٨﴾ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً ﴿٢٩﴾ وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً ﴿٣٠﴾ وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً مِّنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِياً وَنَصِيراً ﴿٣١﴾

 

Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. (QS. 25:25)

Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah.Dan adalah (hari itu), hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang yang kafir. (QS. 25:26)

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata:”Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. (QS. 25:27)

Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). (QS. 25:28)

Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur’an ketika al-Qur’an telah datang kepadaku. Dan syaitan itu tidak akan menolong manusia. (QS. 25:29)

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan”. (QS. 25:30)

Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari (kalangan) orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (QS. 25:31)

 

Alloh menjelaskan bahwa orang-orang ahli DOSA yang dipastikan akan menyesal di akherat. Bahwa segala perbuatan dosa yang disenangi, yang dibujukkan oleh syaitan kepada mereka telah menutupi aqal dan hatinya untuk menerima Al-Qur’an. Bila manusia-manusia modern terus menerus beramai-ramai berkreasi menciptakan budaya dosa, dan terus menerus mereka bergelimang menyebarkan budaya dosa, pasti mereka akan sangat meremehkan, mengabaikan, melalaikan dan melupakan, meragukan dan tidak menghargai Al-Qur’an.

 

Bulan Romadhon Kesempatan Emas Untuk Mencintai Al-Qur’an

Segala puji bagi Alloh, Dialah yang mengetahui seluk beluk seluruh ciptaannya, Dia Alloh yang Maha Mengetahui seluk beluk jiwa dan raga manusia , Dialah pencipta segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Hendaklah manusia meneliti di dalam Al-Qur’an, agar mereka menemukan sendiri sebenarnya kenapa mereka hidup di muka bumi dan mengapa mereka hidup di muka bumi. Alloh menunjukkan di dalam Al-Qur’an tentang bulan Romadhon sebagaimana firman-Nya

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿١٨٥﴾

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. 2:185)

 

Gelapnya hati manusia dengan tutupan dosa menjadikan manusia tidak mampu menghargai jalan-jalan kesucian, jalan kemuliaan, jalan-jalan ketinggian yang Alloh berikan kepada mereka. Namun dengan menjalankan Ibadah puasa karena Alloh, maka manusia memiliki kesempatan untuk mampu tersadar dari segala kegilaan kepada perbuatan dosa menuju kepada kebencian kepada perbuatan dosa. Rasulullah Muhammad SAW menyampaikan sabdanya

 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.(HR Bukhari No 37)

 

Segala puji bagi Alloh yang telah memberi kesempatan kepada manusia untuk mendapatkan pengampunan dosa dari Alloh SWT. Betapa lega dan lapangnya hati manusia yang telah menempuh jalan Taubat dan mendapatkan pembersihan dosa dari Alloh SWT.

Bila manusia menggunakan kesempatan yang diberikan oleh Alloh tersebut dengan sungguh-sungguh maka diantara bukti nyata dalam diri manusia maka hati dan aqalnya akan tertuntun untuk mulai mencintai Al-Qur’an, manusia kembali mencintai Al-Qur’an, manusia mulai mengumpulkan kebaikan dengan mentaddaburi Al-Qur’an, dan manusia mulai menyenangi menempuh jalan-jalan petunjuk. Manusia mulai menyenangi menempuh jalan-jalan menuju kesucian, ketinggian, kemuliaan, keselamatan, kebahagiaan, ketenteraman, dan jalan menuju kecintaan Alloh SWT.

 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ

 

bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila bulan Ramadlan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan pun dibelenggu.”(HR Muslim No 1793)

 

Bagi hamba-hamba Alloh yang biasa rajin menempuh jalan-jalan Ibadah dengan segala ketekunannya, pasti akan merasakan dengan sungguh-sungguh bedanya suasana bulan romadhon dibanding dengan bulan-bulan yang lainnya. Bagaimana hati manusia yang ingin mendekat kepada Alloh semakin, mudah, semakin lapang dan semakin membahagiakan. Dikala syaitan-syaitan dibelenggu, menjadikan manusia-manusia ahli ibadah semakin khusuk dan tekun dalam ibadahnya.

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ سَنَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ فَيَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling pemurah berbuat kebajikan, terutama di bulan Ramadhan. Karena setiap tahun Jibril selalu menemui beliau tiap-tiap malam, hingga habis bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperdengarkan bacaan Qur’an kepadanya (dan Jibril menyimak). Apabila Jibril mendatanginya, beliau lebih giat lagi berbuat kebajikan melebihi angin yang berhembus.” .(HR Muslim 4268)

 

Segala puji bagi Alloh, telah terbukti dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa di seluruh muka bumi, bila mereka mampu mengendalikan diri dari segala perbuatan dosa dan melampaui batas dan tekun dalam jalan-jalan kebenaran dan kemuliaan, mereka akan menjadi bangsa yang besar dan berwibawa,

Sebaliknya bila mereka menyenangi terendam, terkungkung, tenggelam di dalam budaya memuaskan kesenangan DOSA ajakan syaitan dan hawa nafsu, maka mereka akan jatuh terjerembab dan hancur berkeping-keping.

Sebab musabab kemuliaan sudah nampak di depan mata, demikian pula sebab musabab kehancuran sudah pula terbukti di depan mata, Jalan kemuliaan dan kebahagiaan membutuhkan kemauan yang sungguh-sungguh untuk menempuhnya.

Sebaliknya jalan yang melalaikan menurun dan mengasyikkan siapapun pasti mudah untuk menempuhnya, namun akan berakhir dalam keadaan terhina dan tercela bahkan tertindas, dan diakhiri dalam kesusahan dan siksa.

Momen bulan Romadhon, bukan sekedar rutinitas untuk bersusah-susah merasa haus dan lapar saja, namun seharusnya, dalam suasana mengendalikan diri dari bujukan syaitan dan hawa nafsu dalam rangka taat kepada Alloh di isi dengan ketekunan membaca, mempelajari, menekuni, menghayati, memahami, meresapi dan mengambil petunjuk dari Al-Qur’an, Sungguh ibadah puasa adalah kesempatan emas untuk menjadi manusia yang tinggi dan mulia dengan mengamalkan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Wallohu a’lam


Leave a Reply