Bersikap ADIL dan Tidak DZALIM

bersikap-adilDi tengah hiruk pikuk kekacauan yang terjadi di dunia peradilan dengan terungkapnya berbagai kasus tindak pidana korupsi, semakin terasa bahwa keadilan semakin menjadi barang langka, mahal dan sulit dicari. Padahal dalam pandangan Allah adil itu lebih dekat kepada taqwa, yakni derajat tertinggi yang bisa dicapai manusia. Allah SWT berfirman (yang artinya) :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS Al-Maidah : 8].

Mestinya umat Islam menjadi umat yang paling mulia, hingga mampu berkontribusi positif terhadap upaya menegakkan keadilan dan kesejahteraan dunia. Tetapi sangat disayangkan, saat ini ternyata yang terjadi tidak demikian.

Tentu saja bukan firman Allah yang salah, tetapi manusianyalah yang menampilkan realitas semu. Seolah ibadahnya baik, tetapi mu’amalahnya penuh ma’shiyat. Allah mengancam untuk menimpakan kehinaan kepada siapasaja yang tidak menjaga hablumminallaahi (ibadah) dan hablumminannaasi (mu’amalah).

Ibadah yang baik, pasti yang berbuah mu’amalah yang baik pula. Ibadah yang baik itu merupakan buah dari kesadaran bahwa manusia itu hanyalah hamba yang dla’if yang tidak layak durhaka kepada Allah yang Maha Kuat lagi Maha Dahsyat siksa-Nya.

Ibadah yang baik berbuah rasa syukur, sehingga hati menjadi ringan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah yang baik berbuah ketha’atan yang tulus, jauh dari syirik. Orang yang seperti itulah yang dinilai Allah sebagai orang yang bertaqwa dan hanya orang yang bertaqwalah yang bisa berbuat adil. Adil didefinisikan ulama sebagai wadl’u syai-in fii mahallihi (meletakkan sesuatu pada tempatnya).

Lawan kata adil adalah dhalim. Karena adil merupakan buah dari ketaqwaan, maka dhalim pada hakekatnya merupakan buah dari ketidak-taqwaan. Tidak ada rasa takut kepada Allah di dalam hati, sehingga tidak muncul ketha’atan kepada-Nya. Maka wajar kalau yang mewarnai kehidupan manusia sekarang ini adalah kedhaliman. Dhalim kepada diri sendiri, dhalim kepada keluarga sendiri, dhalim kepada bangsa sendiri, dan dhalim kepada Allah.

Pada hakekatnya kedhaliman seseorang bukan orang lain yang rugi, tetapi dirinya sendirilah yang rugi. Orang yang berbuat dhalim, lalu mengulang-ulang kedhalimannya pada hakekatnya dia sedang membangun karakter dhalim pada dirinya sendiri. Karakter dhalim yang terbentuk dalam pribadi seseorang itu akan sulit dihilangkan, bahkan sampai dia mati dalam keadaan dhalim.

Orang seperti itulah yang rugi, karena terancam siksa yang kekal di dalam neraka. Sedang orang yang didhalimi hanya rugi di dunia ini saja.

Saudaraku, kapan lagi kalau tidak sekarang untuk menjauhi kedhaliman dan menumbuhkan ketaqwaan. Selagi Ramadlan masih hadir disini, manfaatkanlah kesempatan untuk memperbaiki diri. Hidup di dunia hanya sementara, kehidupan akhiratlah yang kekal.

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.[QS Al-Mu’min : 39]

Jangan biarkan syaithan membuat kita lengah dan lalai. Di belakang sana kematian mengejar kita tanpa kenal lelah. Sedang di depan sana liang kubur menanti kita dengan sabar. Maka kemana lagi kita akan lari ? Tidak ada jalan yang menyelamatkan kecuali berserah diri kepada Ilahi.

Semoga Allah memberikan kemudahan hati kita untuk selalu berserah diri, aamiin.

~oO[ @ ]Oo~

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)

 


Dimuat di Harian Umum Suara Merdeka, Jumat 02 Mei 2014


2 Responses to “Bersikap ADIL dan Tidak DZALIM”

  1. 2
    SUGIONO JOGOROGO Says:

    tegakkan amar makruf dan nahimunkar terus sampai datangnya keyakinan

  2. 1
    SUGIONO JOGOROGO Says:

    adil dekat dgn taqwa allahuakbar

Leave a Reply