Semangat Bhinneka Tunggal Ika

bhinneka-tunggal-ika-mta-bersatu-jaya

Perbedaan merupakan satu keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Warna kulit, suku bangsa, bahasa, budaya, selera, pola pikir sampai pemahaman terhadap ayat-ayat Allahpun berbeda dari seorang ahli ilmu ke ahli ilmu yang lain.

Semua ayat Allah pasti benar, tetapi pemahaman manusia terhadap ayat-ayat tersebut belum tentu benar. Hanya Allah yang mampu mencapai kebenaran mutlak, sedangkan manusia hanya mampu menyentuh sebagian dari kebenaran relatif. Hanya orang-orang arif yang faham bahwa manusia itu sangat dlo’if yang benar-benar menyadari bahwa diri mereka tidak akan pernah terbebas dari kesalahan.

Sebaliknya hanya orang-orang yang sombong yang berani mengklaim bahwa pemahamannya terhadap ayat-ayat Allah selalu benar dan tidak pernah melakukan kesalahan. Sedangkan orang lain yang memiliki pemahaman yang berbeda darinya semuanya dianggap salah. Diperlukan kearifan dalam menyikapi perbedaan, sehingga tidak menimbulkan perpecahan.

Sebagai manusia biasa Nabi Muhammad SAW juga beberapa kali melakukan kesalahan. Tercatat dalam sejarah ketika beliau memutuskan sikap terhadap tawanan perang Badar, lalu diluruskan oleh Allah dengan turunnya QS Al-Anfaal : 67.

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الأرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ketika salah bersikap terhadap ‘Abdullah bin Umi Maktum ditegur Allah dengan turunnya surat ‘Abasa. Begitu pula ketika salah karena telah mengharamkan madu untuk diri beliau sendiri ditegur Allah dengan QS At-Tahrim : 1.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Maka bila ada orang yang merasa bahwa dirinya selalu benar, berarti tanpa disadari dia sudah merasa bahwa dirinya lebih hebat dari nabi Muhammad SAW. Memang manusia itu tempat salah dan lupa, sebagaimana dikatakan : Al insaan mahalulkhatha’ wannisyaan.

Kita bisa belajar dari kearifan lokal bangsa kita sendiri dalam mengelola perbedaan. Moto yang tertera pada burung Garuda Pancasila yakni Bhinneka Tunggal Ika (Meskipun berbeda tetapi tetap satu juga), sila ke tiga Pancasila “Persatuan Indonesia” dan ikrar Sumpah Pemuda merupakan bagian dari rekayasa sosial (social engineering) dalam membangun bangsa yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda agar bersatu.

Islam mempersatukan umatnya dengan tauhid. Rasulullah saw telah membuktikan dengan tauhid mampu mempersatukan suku Aus dan Khazraj yang sudah turun temurun saling bermusuhan. Rasulullah SAW telah berhasil mempersatukan jazirah arab dalam Islam, membangun bangsa Arab yang tertinggal menjadi maju Persatuan adalah wajib, yang mafhum mukhalafah-nya perpecahan adalah haram. Maka Allah melarang kita berpecah belah. (QS Ali Imran : 103)

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Sehingga jangan sekali-kali tulisan, ucapan, dan perbuatan kita menjadi penyebab umat yang telah dipersatukan oleh Rasulullah SAW itu berubah menjadi cerai berai kembali. Masa kampanye adalah masa yang rawan perpecahan.

Sebaiknya para juru kampanye jangan menggunakan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah untuk membenarkan partainya sendiri dan menganggap tidak benar partai yang lain. Tentu saja pernyataan para juru kampanye tersebut akan berbeda satu terhadap yang lain, bahkan tidak jarang satu dengan yang lain saling bertentangan.

Untuk itu kita harus menyikapinya dengan lapang dada, jujur dalam menilai dan adil dalam bertindak. Di hadapan Allah masing-masing orang akan menuai hasil pemikiran dan perbuatannya sendiri. Hindarilah kebanggaan terhadap partai yang menyebabkan kita terjebak ke dalam ashshabiyyah yang dalam pandangan Allah termasuk syirik (QS Ar Rum 30:31-32), na’udzubillahimin dzaalik.

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (٣١)مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Sebaliknya mari kita agungkan asma Allah, kita tinggikan tauhid, kita utamakan ukhuwwah islamiyyah, kita tebarkan kasih sayang dan kita hindari kebencian dan permusuhan. Semoga Allah mempersatukan kita meskipun memiliki sejumlah perbedaan, aamiin. ***

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)

Hikmah Solopos, Jumat 21 Maret 2014


Leave a Reply