Kurikulum 2013 & Al-Qur’an

Allah berfirman dalam Surat ke Al-Insyiqaaq : 6 yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya  kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya”. Maksudnya manusia di dunia ini baik disadari atau tidak, adalah dalam perjalanan menuju kepada Tuhannya. Dan tidak dapat tidak, dia akan menemui Tuhannya untuk menerima pembalasan-Nya dari perbuatan yang baik maupun buruk yang telah dikerjakannya di dunia.

Perjalanan hidup manusia dari lahir sampai mati pada dasarnya merupakan proses belajar. Ketika masih bayi (kecil), manusia sudah mulai belajar. Belajar mendengarkan orang-orang di sekitarnya mengucapkan kata-kata, kemudian  belajar mengucapkannya. Pada awalnya bayi masih pelo atau belum fasih mengucapkan kata-kata yang didengar. Namun hal itu terus menerus diucapkan tiada henti, dan akhirnya menjadi fasih. Setelah usia beberapa bulan, mulai belajar berjalan. Kesimpulannya masih terus belajar, belajar apa saja.

Dalam belajar tersebut melalui proses memperhatikan, mendengar, menanya, menalar, mencoba (mempraktekkan), dan mengasosiasikan (membuat jejaring).

Pemerintah kini sedang gencar mensosialisasikan Kurikulum 2013 melalui berbagai Pendidikan dan Latihan (Diklat). Pengembangan Kurikulum 2013 dilatarbelakangi perlunya merumuskan kurikulum berbasis proses pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal peserta didik melalui proses mengamati, menanya, menalar, mencoba (observation based learning), bekerja dalam jejaring melalui pembelajaran kolaboratif (collaborative learning). Lima proses ini dalam Kurikulum 2013 disebut pendekatan saintifik (scientific aplproach). Kalau dicermati lima proses tersebut ada dalam Al-Qur’an.  Pada kesempatan yang mulia ini marilah kita lihat satu persatu.

Pertama mengamati. Mengamati, dapat diungkapkan dengan kata memperhatikan. Dalam mengamati atau memperhatikan, manusia menggunakan alat yang namanya mata (penglihatan). Menurut DR. Venon V Magnesen, manusia memperoleh ilmu, 30% di antaranya  melalui melihat.

Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara soal mengamati antara lain Surat Ali Imran : 137. “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.

Allah memerintahkan untuk memperhatikan. Memperhatikan sutu peristiwa. Dalam hal ini dapat berupa peristiwa langsung atau memperhatikan peristiwa melalui membaca literature. Pada umumnya, manusia lebih terkesan dan lebih mudah memahami dengan melihat langsung daripada mendengarkan penjelasan. Misalnya mengenai bagaimana cara wudlu Rasulullah. Anak akan lebih mudah paham melihat praktek bagaimana cara wudlu, dari pada penjelasan verbal (lesan) tentang theori wudlu.

Karena sebagaimana pendapat DR Venon, manusia mendapat ilmu melalui pendengaran hanya 20%. Maka Maha Benarlah Allah yang telah mendidik manusia dengan perintah memperhatikan untuk mendapatkan pelajaran. Dalam kehidupan sehati-hari, kita juga dapat mengambil pelajaran melalui pengamatan tentang kehidupan orang-orang yang tidak mengikuti jalan Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana kehidupan atau akibat dari orang-orang yang menjalani hidup tanpa sentuhan agama dapat diamati, dapat dilihat dengan mata kepala. Dari pengamatan itu akan diperoleh pelajaran berharga.

Kedua dan ketiga adalah menanya dan menalar. Allah berfirman dalam surat An-Nahl : 43. “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Pertanyaan merupakan indikasi sikap kritis dan muncul dari proses mendengarkan atau berfkir. Artinya setelah seseorang mendengarkan, maka kemungkinan akan muncul pertanyaan. Atau, walau sebelumnya tidak mendengarkan, seseorang tergerak untuk bertanya setelah berfikir.

Allah memberi  petunjuk untuk bertanya kepada orang yang mempunyai pengetahuan. Bertanya kepada ahlinya atau pakarnya. Pertanyaan akan melahirkan ilmu-ilmu baru. Pertanyaan yang belum dapat dijawab, akan mendorong seseorang (yang ditanya) untuk mencari tahu. Antara lain dengan bertanya kepada orang yang lebih ahli. Karenanya pertanyaan memicu dan memacu lahirnya ilmu-ilmu baru dan mendorong seseorang untuk terus belajar.

Allah berfirman dalam surat Fathir : 37 yang artinya “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang dhalim seorang penolongpun”.

Dalam QS. Al-Baqarah : 44, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka apakah kamu tidak berfikir?”.

Ayat ini mengandung isyarat agar manusia menggunakan nalarnya, menggunakan fikirannya untuk mendapatkan kebenaran. Sudah tentu di sini mengandung rahasia hikmah (manfa’at) agar pikiran manusia tidak tumpul dan mudah dibodohi. Sebagaimana dalam ayat 44 Surat Al-Baqarah, Allah menyindir oang yang tidak mau berfikir. Orang itu menyuruh orang lain melakukan kebaktian (kebaikan), sedang dia sendiri tidak mengerjakan. Padahal dia membaca kitab (mengerti). Dia orang yang mengerti tidak mau mengerjakan, sedang orang lain yang belum tentu mengerti disuruh mengerjakan. Dimana nalarnya.

Di masyarakat masih ada pembodohan dan penyesatan nalar. Jika suatu benda  dapat menyebabkan lancarnya rejeki, sudah tentu benda tersebut akan dipakai sendiri oleh dhukun yang memilikinya. Atau diberikan kepada keluarga dekatnya.  Tidak akan diberikan kepada orang lain. Sebab, si dhukun tersebut tentu  ingin menjadi kaya. Karenanya tidak logis, kalau benda sehebat itu diberikan kepada orang lain.

Demikian juga jika suatu benda dapat mengantarkan seseorang  sukses ke Senayan (menjadi anggota dewan), tentu akan dipakai oleh dhukun itu sendiri atau diberikan kepada keluarga dekatnya. Benda “sakti” tersebut tidak akan diberikan kepada orang lain. Jelaslah bahwa pertanyaan, melahirkan ilmu baru atau mendorong seseorang belajar. Sedang menalar, mengantar seseorang menjadi pandai.

Keempat mencoba. Mencoba maksudnya adalah mengerjakan atau mempraktekkan. Seperti diketahui Islam adalah ilmu yang harus dipraktekkan (applied science), bukan sekedar theori (pure science). Dengan praktek, maka ilmu itu betul-betul melekat dan menjiwai. Makin banyak praktek, makin trampil, makin menguasai ilmu.

Dalam kaitannya dengan agama Islam, dengan praktek atau menjalankan syari’at agama, yakni mengerjakan  perintah  Allah dan Rasul-Nya, meninggalkan larangan Allah dan Rasul-Nya, akan menjadi pribadi-pribadi yang shalih dan agamis.

Berikut ini adalah sebagian ayat-ayat yang berbicara masalah mencoba, melakukan, atau berbuat. Di Surat An-Nisa’ : 40, 95 dan 100.

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.”(40).

Maksudnya: Allah tidak akan mengurangi pahala orang-orang yang mengerjakan kebajikan walaupun sebesar zarrah, bahkan kalau dia berbuat baik pahalanya akan dilipat gandakan oleh Allah. sekecil apapun yang dikerjakan, akan mendapat balasan. Siapa yang tidak berbuat, tidak akan mendapat apapun.

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduksatu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar” (95).

Ayat ini menjelaskan bahwa tidaklah sama orang yang berbuat dan tidak berbuat. Besarnya pahala sebanding dengan besarnya pengorbanan. Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (100).

Kelima membuat jejaring. Maksudnya  menyampaikan ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Dalam kontek ini, maksudnya adalah berda’wah, menyebarluaskan ilmu.

Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq”. (QS Ali Imron 110)

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (QS.Fushilat 33).

Dua ayat tesebut menjelaskan tanda umat terbaik mengajak kepada kebaikan, mencegah tindakan munkar dan beriman kepada Allah.  Manusia-manusia terbaik tidak hanya berda’wah   dan berpidato, tetapi juga mengerjakan apa yang dikatakan atau dida’wahkan. Hal itu terungkap dalam kaliamat  “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri (Islam)”. Maksudnya membuktikan diri sebagai seorang muslim dengan cara mempraktekkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tindakannya itu dapat diketahui bahwa dia seorang muslim.

Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk memperkuat keimanan dan pemahaman terhadap Islam, umat Islam haruslah :
- Pertama mengamati (memperhatikan). Maksudnya memperhatikan petuah-petuah yang disampaikan para ustadz dan kiai, memperhatikan akibat orang-orang yang melanggar syari’at agama.
- Kedua  menanya. Maksudnya jangan hanya menjadi “pak turut”, menerima apa saja yang disampaikan ustadz dan kiai tanpa menanyakan dalilnya dari Al-Qur’an dan sunnah.
- Ketiga menalar. Maksdunya memikirkan apa yang telah disampaikan para ustadz dan kiai.
- Keempat mencoba. Maksudnya mengamalkan apa ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
- Dan yang kelima adalah berda’wah. Mengajak orang-orang terdekat dan masyarakat untuk mempelajari agama Islam, menghayati dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dimuat di Harian RADAR Solo (20 Desember 2013)

~oO[ @ ]Oo~

http://www.mta.or.id/wp-content/plugins/sociofluid/images/digg_32.png http://www.mta.or.id/wp-content/plugins/sociofluid/images/reddit_32.png http://www.mta.or.id/wp-content/plugins/sociofluid/images/stumbleupon_32.png http://www.mta.or.id/wp-content/plugins/sociofluid/images/delicious_32.png http://www.mta.or.id/wp-content/plugins/sociofluid/images/technorati_32.png http://www.mta.or.id/wp-content/plugins/sociofluid/images/google_32.png http://www.mta.or.id/wp-content/plugins/sociofluid/images/myspace_32.png http://www.mta.or.id/wp-content/plugins/sociofluid/images/facebook_32.png http://www.mta.or.id/wp-content/plugins/sociofluid/images/yahoobuzz_32.png http://www.mta.or.id/wp-content/plugins/sociofluid/images/twitter_32.png

About the Author

has written 264 stories on this site.

Tangan dari seorang Warga Colomadu Solo (yang ternyata Karanganyar) -----------------------******------------------------ “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [Ash-Shaf : 2-3]




Write a Comments

Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!

MTA Surakarta

Copyright © 2014 MTA.OR.ID | Situs Resmi Majlis Tafsir Al-Qur'an. All rights reserved.