Teladan dalam MENCINTAI Allah

Allah telah menjadikan harta dunia beserta seluruh asesorisnya nampak indah dalam pandangan manusia, (Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)). [QS Ali Imran : 14], sehingga banyak orang yang mencintainya.

Sebagian rakus terhadap harta, sehingga dalam mencarinya tidak peduli halal haram, dan dalam menafkahkannyapun kikir. Padahal di akhirat kelak manusia akan ditanya, “min ainaktasabahu wa fiimaa anfaqahu” (dari mana uang itu diperoleh dan untuk apa dinafqahkan).

Sebagian manusia gila terhadap jabatan sehingga waktunya habis untuk berkarir lupa akan kewajibannya sebagai hamba Allah. Bahkan banyak diantara mereka yang jatuh ke dalam lembah syirik dan pedukunan.

Sebagian lagi sangat mencintai wanita dan anak-anak mereka, sehingga waktunya habis untuk mencari nafqah demi membahagiakan mereka. Kecintaan terhadap harta dunia, istri dan anak sering melupakan manusia akan jati diri mereka sebagai hamba Allah yang seharusnya mencintai Allah lebih dari segalanya.

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

(Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq.) [QS At-Taubah : 24]

Nabi Ibrahim AS adalah sosok yang sempurna dalam mencintai Allah. Beliau juga sangat mencintai anaknya, Ismail AS. Namun kecintaannya kepada Allah melebihi cintanya kepada anaknya, sehingga ketika turun wahyu melalui mimpi yang memerintahkannya untuk menyembelih anaknya, nabi Ibrahimpun membenarkannya.

Beliau sampaikan wahyu itu kepada anaknya, dan subhanallah, Ismail AS si kecilpun membenarkan mimpi itu. Ismail AS mempersilakan ayahnya untuk menyembelihnya dan menjamin bahwa dirinya termasuk orang yang shabar menghadapi ujian.

Sebuah suri tauladan yang luar biasa dalam mencintai Allah. Maka wajar kalau kemudian Allah menandai momen sejarah kecintaan manusia yang luar biasa kepada Allah itu dengan menggantinya dengan penyembelihan yang besar.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (١٠٠)فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (١٠١)فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (١٠٢)فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (١٠٣)وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (١٠٤)قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (١٠٥)إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (١٠٦)وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

(“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.(100) Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat shabar.(101) Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang shabar”.(102) Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah keshabaran keduanya). (103) Dan Kami panggillah dia, “Hai Ibrahim,(104) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106) Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (107)) [QS Ash Shaffaat : 100-107]

Allah SWT mengekalkan peristiwa itu dalam bentuk ibadah penyembelihan hewan kurban dan merayakannya sebagai Iedul Qurban atau ‘Iedul Adlha.

Saudaraku, Rasulullah SAW pernah mengingatkan akan penyakit yang menghancurkan umat beragama sebelum Islam yang juga mengancam orang-orang Islam, yakni penyakit wahn. Rasulullah SAW mendefinisikan penyakit wahn sebagai hubbuddunyaa wa karahiyatul maut, yakni cinta dunia dan takut mati.

Artinya dunia yang sifatnya sementara ini boleh kita miliki, boleh kita sukai, boleh kita ni’mati, tetapi tidak untuk kita cintai yang berlebih-lebihan sehingga melupakan kecintaan yang mestinya dicintai daripada dunia. Cinta kita adalah untuk Allah demi kebahagiaan hidup kita di akhirat yang kekal. Wal aakhiratu khairuwwa-abqaa. (dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal) [QS Al A’laa : 17]

Kecintaan nabi Ibrahim AS kepada Allah dan peringatan Rasulullah SAW akan penyakit wahn hendaknya memberi inspirasi kepada kita semua untuk menempatkan cinta kita dengan benar. Orang yang mencintai dunia, sibuk mengejar dunia, maka akhirat akan lari darinya.

Sedang orang yang mencitai akhirat, sibuk mengejar kebahagiaan akhirat, maka Allah akan mendatangkan kebahagiaan akhirat itu untuknya, beserta bonusnya kebahagiaan dunia.[QS Asy Syuuraa : 20].

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.

Semoga Allah SWT memilih kita untuk menjadi hamba-Nya yang tulus mencintai-Nya, demi kebahagiaan kita dunia dan akhirat, aamiin.

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat MTA


Dimuat di Harian Umum Suara Merdeka, Ahad 03/11/2013


One Response to “Teladan dalam MENCINTAI Allah”

  1. 1
    Cah Gunungkidul Says:

    Subhanallah ,trimaksih pak ustadz ats tausiahnya

Leave a Reply