Rekonstruksi AKHLAQ Bangsa

(Harian SOLOPOS, Jumat 24 Nopember 2013). Dengan ditangkapnya seorang pimpinan Mahkamah Konstitusi (MK) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan dijadikan tersangka dalam kasus suap, maka runtuhlah kepercayaan masyarakat terhadap MK dan sistem peradilan nasional. Maka tidak mengherankan kalau beberapa hari yang lalu MK diobrak-abrik oleh sekelompok masyarakat yang tidak puas atas keputusan MK.

Sistem peradilan nasional yang seharusnya menjadi benteng penegak hukum, tempat orang berlindung dalam mencari keadilan ternyata sudah kehilangan kewibawaan, bahkan dilecehkan masyarakat. Di sisi lain media massa mengungkap terjadinya bentrok antar aparat dengan rakyat, bahkan antara aparat dengan aparat, termasuk antar oknum polisi dan oknum TNI di Karawang Jawa Barat.

Bentrok seperti itu sudah sering terjadi dan belum bisa diatasi secara permanen. Sementara itu di tengah masyarakat konflik horizontal antar pemuda, pelajar, suku, kelompok agama dan kelompok masyarakat masih saja terjadi. Beban yang ditanggung bangsa ini semakin berat dengan semakin meluasnya kasus narkoba, miras, perdagangan manusia dan pergaulan bebas. Padahal yang menjadi akar permasalahan semua itu hanya satu yakni rusaknya akhlaq bangsa.

Maka untuk menyelesaikannya tidak cukup dengan memperbaiki mekanisme kerja instansi, membuat aturan yang lebih baik, atau menegakkan hukum (yang semuanya itu nampak jelas di permukaan), tetapi harus fokus pada akar permasalahannya (yang tidak tampak), yakni memperbaiki kerusakan akhlaq bangsa.

Untuk itu kesadaran membangun akhlaq bangsa harus ditumbuhkan di seluruh lapisan masyarakat, karena tanpa pembangunan akhlaq yang serius bangsa ini akan terpecah belah dan hancur berkeping-keping. Kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah Islam.

Di jaman jahiliyyah bangsa Arab yang sudah mencapai kerusakkan akhlaq, sehingga anak sendiri dikubur hidup-hidup hanya karena jenis kelaminnya perempuan, berubah menjadi bangsa besar yang berwibawa di mata dunia karena mengikuti teladan rasulullah Muhammad saw yang mengajarkan Al-Qur’an.

Harus disadari bahwa manusia itu ciptaan Allah. Akhlaq manusia akan tumbuh berkembang menjadi baik, bila mereka patuh dan taat pada bimbingan atau hidayah Allah. Sedang hidayah Allah itu adalah Al Qur’an.

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٥٣)

(dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa) [QS Al-An’aam : 153]

Hidayah Allah yang berupa jalan kehidupan yang lurus yang dimohon oleh semua orang Islam saat membaca Al-Fatihah 17 kali sehari di dalam shalat itu adalah Al-Qur’an, tetapi sayang banyak yang tidak faham bahwa jalan lurus yang mereka mohon itu adalah Al-Qur’an.

Akibatnya umat Islam banyak yang tidak mempelajari Al-Qur’an, tidak memahami Al-Qur’an, apalagi mengamalkannya.

Banyak orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi tidak mentadabburi isinya. Banyak orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai hiasan dinding rumahnya, tetapi tidak menjadikan hiasan akhlaqnya. Banyak orang yang menjunjung tinggi mushhaf Al-Qur’an, tetapi tidak menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang diajarkan Al-Qur’an.

Sekaranglah saatnya yang tepat bagi pemerintah untuk melakukan rekonstruksi akhlaq bangsa dengan menggalakan, mendukung, memfasilitasi umat Islam belajar dan hidup sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Gariskan kebijakan yang sejalan dengan itu di seluruh instansi pemerintah dan dukung sepenuhnya para da’i yang terjun di lapangan memperbaiki akhlaq bangsa dengan mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Yakinkan jangan ada lagi kelompok yang menghalangi para da’i yang mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Bila kebijakan seperti itu diambil dan dilaksanakan pemerintah dan seluruh komponen bangsa, maka dengan pertolongan Allah bangsa ini akan selamat dari keterpurukan dan bangkit menjadi bangsa yang berwibawa di mata dunia, insya Allah. Tidakkah kita menyukainya ?.

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)


Leave a Reply