Lapang Dada Saling Memaafkan

(Harian SOLOPOS, Jumat 30 Agustus 2013). Setelah sebulan penuh digembleng dengan Ibadah Ramadlan mestinya kwalitas akhlaqnya meningkat menjadi orang yang bertaqwa. Menjadi orang yang kwalitas akhlaqnya lebih dari kebanyakan orang.

Diantara sifat mulia orang yang bertaqwa adalah bersyukur di saat mendapatkan nikmat dan bershabar di saat mendapatkan mushibah. Menafkahkan harta di waktu rejekinya lapang maupun sempit dan suka mema’afkan orang lain.[QS Ali Imran : 134]

 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Bahkan Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, bahwa Rasulullah SAW pernah berpesan kepada shahabatnya, “Wahai ‘Uqbah bin ‘Amir, sambunglah (hubungan shilatu rahim) terhadap orang yang memutuskannya, berikanlah (sesuatu) kepada orang yang telah mengharamkannya untukmu dan ma’afkanlah orang yang telah mendhalimi kamu”.

Menyambung shilatu rahim kepada orang yang mau menyambungnya adalah hal yang biasa. Tetapi Rasulullah SAW mengajarkan akhlaq yang luar biasa, yakni menyambung shilatu rahim kepada orang yang memutuskannya. Bahkan beliau menghasung para shahabat bila ingin dimudahkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah menyambung tali shilatu rahim.

Memberi hadiah kepada orang yang mau memberi adalah hal yang biasa. Tetapi Rasulullah SAW mengajarkan akhlaq yang luar biasa, yakni memberi kepada orang yang mengharamkan diri untuk memberinya.

Bahkan kepada orang yang berbuat dhalim kepadanyapun Rasulullah SAW menganjurkan untuk berlapang dada mema’afkannya. Beliau tidak hanya berteori, tetapi langsung mempraktekkan. Bahkan kemuliaan akhlaq seperti itu sudah menjadi bagian dari kepribadian beliau. Pernah terjadi setiap hari dalam perjalanan ke masjid ada orang yang meludahi beliau. Suatu saat ketika pergi ke masjid tidak ada orang yang meludahi, maka beliau mencari kabar tentang orang yang biasa meludahi itu dan ternyata dia sedang sakit.

Maka serta merta beliaupun menjenguknya. Dalam kesempatan lain kita bisa meneladani sikap beliau terhadap Abu Sufyan. Meskipun Abu Sufyan sangat benci, memusuhi, memerangi dan berusaha keras untuk membunuh beliau, tetapi di saat hendak menundukan Makkah, beliau memberikan jaminan keamanan kepada siapapun yang berada di dalam rumah Abu Sufyan. “Siapa saja yang berada di dalam masjid aman, siapa yang berada di dalam rumah Abu Sufyan aman“.

Subhaanallaah, seandainya semua umat Islam meneladani akhlaq Rasulullah SAW seperti yang Allah serukan dalam QS Al Ahzab : 21, tentu hubungan antar sesama ummat Islam akan mesra meskipun berbeda latar belakang pendidikan, ekonomi, faham, maupun politik.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

Saudaraku, mumpang kita masih diberi kesempatan hidup, jangan kita sia-siakan, mari kita melakukan evaluasi diri.

Mereka yang masih memiliki beban putus shilatu rahim hendaklah segera mengambil inisiatif untuk menyambungnya. Mereka yang memiliki saudara, teman atau shahabat yang terputus hingga mengharamkan memberi sesuatu apapun, segeralah mengambil inisiatif untuk memberi sesuatu, apabila memungkinkan. Mereka yang masih merasa didhalimi mungkin saja dalam bentuk dendam politik dan hal-hal yang lain, hendaklah berlapang dada untuk mema’afkannya.

Semua itu dituntunkan oleh Rasulullah SAW untuk menumbuhkan kepribadian yang mulia pada diri kita masing-masing. Sudah waktunya kita tinggalkan pepatah yang mengatakan, “Dadi godhong ora bakal nyuwek, dadi banyu ora bakal nyawuk”.

Untuk kita ganti dengan nasehat Rasulullah SAW kepada ‘Uqbah bin ‘Amir di atas, “Sambunglah orang yang memutuskan hubungan denganmu, berilah kepada orang yang mengharamkan pemberian kepadamu, dan ma’afkanlah orang yang medhalimi kamu“. Semoga Allah hias pribadi kita dengan Akhlaq yang mulia, aamiin.


Leave a Reply