Mudik Lebaran dan Halal Bi Halal

Harian Suara Merdeka (Jum’at, 16 Agustus 2013). Ada dua tradisi unik bangsa Indonesia yang dilakukan menjelang dan pada saat ‘iedul fithri yakni mudik lebaran dan halal bi halal . Kedua tradisi itu tidak memiliki akar dalam budaya Islam, tetapi merupakan akulturasi ajaran Islam, untuk saling bershilaturahim dan saling mema’afkan, ke dalam tradisi Jawa pada khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Lebih dari tujuh juta penduduk Jakarta dengan latar belakang suku dan agama yang berbeda tahun 2013 ini melakukan mudik lebaran. Sebuah fenomena transportasi massa yang luar biasa, yang tidak terjadi di negeri lain. Pemerintah, perusahaan, dan instansi swasta banyak yang terlibat membantu kelancaran mudik lebaran dan meminimalisir jatuhnya korban jiwa di jalan.

Islam memang tidak menuntunkan secara spesifik tradisi mudik lebaran, tetapi mengajarkan bahwa menjalin tali shilaturahim itu merupakan perbuatan yang mulia. Rasulullah SAW memberitakan bahwa menyambung tali shilaturahim itu memperpanjang usia dan memperbanyak rejeki.

عَنْ اَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ اَحَبَّ اَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى اَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Dari Anas bin Malik, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang senang dilapangkan rezqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung hubungan kerabatnya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1982]

Oleh karena itu siapapun yang melakukan mudik lebaran dengan niat mengamalkan tuntunan Rasulullah SAW itu akan memperoleh kebaikannya.

Sepeda motor yang mereka bawa pulang dengan kereta api, kapal atau dinaiki sendiri insya Allah menghadirkan barakah Allah kalau memang dipergunakan sesuai dengan kehendak Allah, ikhlash untuk menjalin shilaturahim, bukan untuk pamer kesuksesan pribadi.

Tradisi yang ke dua, halal bi halal yang intinya adalah saling mema’afkan, merupakan tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam, maka tidak ada masalah bagi umat Islam ikut melaksanakannya.

Namun umat Islam harus berbesar hati bila dalam acara halal bi halal yang biasanya dikemas dalam bentuk syawalan itu ada umat yang beragama lain yang ikut terlibat. Karena syawalan atau halal bi halal itu bukan monopoli milik umat islam, tetapi sudah menjadi milik bangsa Indonesia. Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjadi pema’af.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. [QSAl-A’raaf : 199]

Bila melakukan kesalahan untuk bersegera memohon ampunan kepada Allah

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, [QS.Ali Imran : 133],

Tentu saja dengan bertaubat dan meminta ma’af kepada yang bersangkutan bila terkait dengan hubungan antar sesama manusia.

Memanfa’atkan momen lebaran untuk saling mema’afkan merupakan amal yang baik. Tidak mudah untuk bertemu dengan orang banyak dalam satu kesempatan selain di hari lebaran. Yang perlu digaris-bawahi adalah jangan sampai ritual saling mema’afkan itu terjebak ke dalam formalitas belaka.

Ikrar lebaran yang isinya permintaan ma’af, sering terasa hambar. Tidak lebih dari ucapan formal yang kurang dijiwai oleh orang yang mengucapkannya. Sangat berbeda dari permintaan ma’af yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, yang sadar dan menyesal atas kesalahan yang telah dilakukannya.

Begitu pula yang terjadi dengan jawaban atas ikrar itu yang berupa pemberian ma’af. Disamping itu ada dua hal lagi yang perlu diatur dengan baik oleh panitia halal bi halal yakni menghindari terjadinya percampuran lelaki perempuan dan salam-salaman antara lelaki dan perempuan yang bukan mahromnya.

Tidak seperti dua puluh tahun yang lalu, sekarang sudah banyak orang yang tahu, bahwa Islam melarang lelaki dan perempuan yang bukan mahrom untuk bersalaman (bersentuhan), sehingga menolak bersalaman tidak lagi dikatakan sebagai perbuatan ekstrim.

Asal diatur dengan baik sesuai dengan syari’ah, insya Allah halal bi halal akan mendatangkan barakah Allah. Semoga halal bi halal kita tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya mendapatkan limpahan barakah Allah, aamiin.

~oO[ @ ]Oo~

 

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)


Leave a Reply