KIAT Meraih Hakekat SHABAR & TAWAKKAL

Harian SOLOPOS (Selasa, 30 Juli 2013). Ibadah puasa bulan Ramadlan mendidik umat Islam senantiasa merasa diawasi Allah sehingga dia tidak berani makan minum di siang hari selama bulan Ramadlan.

Suasana merasa diawasi Allah selama ini telah menjadi kekuatan pengendali yang sangat efektif bagi orang yang sedang berpuasa untuk tidak melanggar aturan Allah.

Namun masih sangat disayangkan pengawasan Allah itu seolah hilang setelah memasuki waktu Maghrib. Banyak orang yang berpuasa berlebihan dalam makan minum setelah berbuka di malam hari.

Padahal Allah menilai orang-orang yang berlebihan (mubadzdziriin) itu adalah saudara-saudaranya syaithan. Maka tidak mengherankan bila sebagian orang yang berpuasa Ramadlan tidak mendapatkan apapun selain lapar dan haus.

Pengawasan dan penyertaan Allah menjadi kunci kebaikan umat Islam, karena dengan merasa diawasi dia akan mampu mengembangkan ihsan di dalam dirinya yang didefinisikan oleh Rasulullah SAW sebagaianta’budallooha kaannaka taroohu, fainlam takun taroohu fainnahu yarooka. (Bahwasanya kamu menghambakan diri kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya. Namun jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.)

Pengawasan dan penyertaan Allah menghadirkan kebahagiaan dan rasa syukur, ketika seorang hamba mendapatkan kenikmatan. Pengawasan dan penyertaan Allah menghadirkan ketangguhan pribadi dan rasa shabar, ketika seorang hamba menghadapi mushibah.

Sehingga rasa syukur dan shabar seorang hamba itu akan muncul karena kemampuannya menghadirkan pengawasan dan penyertaan Allah baginya setiap saat. Artinya syukur dan shabar merupakan buah dari iman.

Maka wajar kalau Rasulullah SAW memberitakan bahwa orang beriman itu sungguh mengagumkan, karena semua urusannya itu menjadi baik baginya. Kalau mendapatkan nikmat dia bersyukur dan kalau mendapatkan mushibah dia shabar.

Dari Shuhaib Ar-Rumiy RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh mengagumkan urusannya orang mukmin itu, semua urusannya menjadi kebaikan untuknya, dan tidak didapati yang demikian itu kecuali pada orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan ia bershabar, maka yang demikian itu pun menjadi kebaikan baginya”. [HR. Muslim]

Sehingga mestinya semua orang yang berpuasa Ramadlan itu meningkat rasa shabar dan syukurnya, karena kemampuannya menghadirkan pengawasan dan penyertaan Allah meningkat.

Pengawasan dan penyertaan Allah menghadirkan kethaatan seorang hamba kepada Allah dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sehingga dengan pengawasan dan penyertaan Allah itu memungkinkan seorang hamba senantiasa terjaga amalnya.

Dia akan beramal hanya karena Allah dan tidak beramal juga hanya karena Allah. Orang seperti itulah yang layak untuk disebut sebagai orang yang bertaqwa. Hanya orang bertaqwa sajalah yang senantiasa bertawakkal kepada-Nya, karena dia yakin bahwa pada hakekatnya semua manfa’at dan madlarat itu berasal dari Allah, melalui sunnatullah.

Jika Allah menghendaki untuk memberikan manfa’at atau mandlarat kepada hamba-Nya, maka tidak ada orang yang mampu menghalangi-Nya.

Famay yamliku lakum minalloohi syai-an in arooda bikum dlorron au arooda bikum naf’an) [QS Al-Fath : 11]

Dia yakin segala sesuatu di dunia ini tergantung kepada Allah (Alloohush-shomad) [QS Al-Ikhlash : 2], maka hanya kepada Allah dia menggantungkan nasibnya.

Semoga Ramadlan tahun ini membawa barakah bagi kita semua, menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang tangguh, shabar, dan tawakkal kepada-Nya, berbeda dari Ramadlan tahun-tahun sebelumnya yang mungkin hanya mendapatkan lapar dan haus, aamiin.

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina

Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)

 

~oO[ @ ]Oo~


Leave a Reply