Memprioritaskan Aktifitas Utama Kewajiban Kepada Allah SWT.

Segala puji hanya Bagi Allah SWT, sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu tekun mengikuti jalan petunjuknya. Salam untuk seluruh Nabi dan Rasul Nya.

Segala puji bagi Allah pujian yang banyak, Dialah Allah Tuhan Pencipta, Pengatur, Pemelihara Semesta Alam. Allah Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Tinggi, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Tuhan Yang Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Pengampun. Dialah Allah Tuhan Pemilik ASMA UL HUSNA. BagiNya seluruh pujian.

Ibadah puasa telah masuk waktu sepuluh terakhir, segala puji bagi Allah, Semoga amal-amal kita diterima oleh Allah dan dibalas dengan kebahagiaan, ketenteraman, kenikmatan dan kemuliaan hidup di dunia dan di akherat, dan menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa dilindungi dan dipelihara Allah dimanapun kita berada.

Dalam sebuah hadist yang amat sangat terkenal telah disabdakan oleh Rasulullah yang memiliki arti sebagai berikut :

Telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik dari Mu’adz bin Jabal radhilayyahu’anhu mengatakan, ketika aku dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak ada penghalang antara diriku dan dia selain pelepah kayu yang diletakkan dipunggung unta, beliau berseru: “Hai Mu’adz!” ‘Baik, dan aku penuhi panggilanmu Ya Rasulullah, ‘ Jawabku. Lantas beliau lanjutkan perjalanan beberapa saat dan berujar: “Hai Mu’adz!” ‘Baik, dan aku penuhi panggilanmu hai Rasulullah, ‘ Jawabku. Beliau bertanya: “Apa hak Allah atas hamba-Nya?” Aku menjawab; ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’. Beliau bersabda: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya semurni-murninya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Kemudian beliau meneruskan perjalanan dan berseru; “hai Mu’adz, ‘Baik, dan aku penuhi panggilanmu hai Rasulullah, ‘ Jawabku. Tanya beliau; “Apa hak hamba atas Allah?” Kujawab; ‘Allah dan rasul-Nya lah yang lebih tahu’. Beliau menjelaskan: “Hak hamba atas Allah adalah agar Dia tidak menyiksa mereka.”(HR Bukhari 6019)

Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Hushain dan Al Asy’ats bin Sulaim keduanya mendengar Al Aswad bin Hilal dari Mu’adz bin Jabal berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Mu’adz, tahukah kamu hak Allah atas hamba?” “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu, ” Jawab Mu’adz. Nabi bersabda lagi: “Yaitu agar mereka beribadah kepada-Nya dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Tahukah engkau apa hak mereka atas Allah?” tanya Nabi selanjutnya.”Allah dan Rasul-Nya yang lebih lebih tahu.” Jawab Mu’adz. Nabi bersabda: “Yaitu agar Dia tidak menyiksa mereka.” (HR Bukhari 6825)

Di saat negri-negri Muslim dirundung duka nestapa, disana sini banyak sekali pertikaian diantara umat Islam, dan kekacauan-kekacauan yang sangat rumit untuk dipecahkan, umat Islam perlu mengoreksi akan segala perbuatan yang telah dilakukan selama ini.

Berkenan dengan aktifitas kehidupan sehari-hari, Allah dan Rasul-Nya telah meninggalkan kepada kita begitu banyak Kebaikan kebaikan yang berlimpah ruah, yaitu firman Allah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yaitu Hadist-Hadist Rasulullah SAW.

Al-Qur’an telah tersaji 30 Juz, demikian pula kitab-kitab tafsir yang dihasilkan oleh ulama-ulama yang sholih. Demikian pula telah tersaji puluhan ribu Hadist Rasulullah, dan telah pula di jelaskan oleh ulama-ulama yang sholih.

Namun umat Islam perlu merenungi, seberapa cintanya dan kecintaannya untuk mempelajari, menghayati dan mengamalkan mutiara-mutiara kebajikan yang telah tersaji dengan sangat menakjubkan tersebut.

Dikala hari ini, disaat waktu-waktu manusia makin sempit disebabkan semakin membajirnya teknologi modern, masih pula ditambahi lagi dengan kesibukan yang sangat menyita waktu untuk sibuk melakukan rapat rapat dan diskusi diskusi untuk bagaimana mendapatkan capaian yang gemilang tentang TAHTA, HARTA dan KESENANGAN DUNIA.

Padahal Al-Qur’an dan As-SUNNAH tidak akan manis dan lezat kecuali didalam pribadi yang bersih dan pribadi yang selalu tunduk patuh pada Allah SWT. Sebagaimana dalam firman-Nya.

فَلَاأُقْسِمُبِمَوَاقِعِالنُّجُومِ﴿٧٥﴾وَإِنَّهُلَقَسَمٌلَّوْتَعْلَمُونَعَظِيمٌ﴿٧٦﴾إِنَّهُلَقُرْآنٌكَرِيمٌ﴿٧٧﴾فِيكِتَابٍمَّكْنُونٍ﴿٧٨﴾لَّايَمَسُّهُإِلَّاالْمُطَهَّرُونَ﴿٧٩﴾تَنزِيلٌمِّنرَّبِّالْعَالَمِينَ﴿٨٠﴾أَفَبِهَذَاالْحَدِيثِأَنتُممُّدْهِنُونَ﴿٨١﴾وَتَجْعَلُونَرِزْقَكُمْأَنَّكُمْتُكَذِّبُونَ﴿٨٢﴾

Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. (QS. 56:75)

Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, (QS. 56:76)

sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, (QS. 56:77)

pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), (QS. 56:78)

tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS. 56:79)

Diturunkan dari Tuhan Semesta Alam. (QS. 56:80)

Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Qur’an ini, (QS. 56:81)

kamu (mengganti) rezqi (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). (QS. 56:82)

Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak akan menjadi sesuatu yang lezat dan sesuatu yang perlu didahulukan kecuali oleh orang-orang yang berhati Suci dan Mulia. Syaitan terus menerus menebarkan berbagai macam kotoran-kotoran ke dalam kehidupan umat manusia. Ketika kotoran-kotoran itu telah dikonsumsi manusia dan manusia telah kecanduan dengan kotoran yang diberikan oleh Syaitan, maka disaat itu pula manusia jatuh dari kedudukan nya yang mulia dan telah jatuh ke tempat yang rendah, tempat yang sempit, tempat yang susah, tempat yang penuh dengan siksa, tempat yang penuh dengan kesulitan dan kesengsaraan.

Hal-hal yang dimurkai oleh Allah, ditampakkan indah dan menawan oleh syaitan, ditampakkan lezat oleh syaitan, namun bila umat Islam mau mengkonsumsinya dan kemudian ketagihan dengannya maka mereka akan jauh dan jauh dari perlindungan Allah SWT.

حُنَفَاءلِلَّهِغَيْرَمُشْرِكِينَبِهِوَمَنيُشْرِكْبِاللَّهِفَكَأَنَّمَاخَرَّمِنَالسَّمَاءفَتَخْطَفُهُالطَّيْرُأَوْتَهْوِيبِهِالرِّيحُفِيمَكَانٍسَحِيقٍ﴿٣١﴾

dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. 22:31)

Budaya melampaui batas, dan memperturutkan hawa nafsu telah merasuk jauh ke negri-negri kaum Muslimin. Dakwah semakin menemukan kendala-kendala disebabkan karena manusia semakin sibuk dengan aktifitas dunia yang semakin hingar bingar dan euphoria memuja kesenangan hawa nafsu. Dan ternyata diujung pemujaan mereka kepada kesenangan-kesenangan hawanafsu tersebut adalah siksa Allah dan Adzab Allah.

قُلْهُوَالْقَادِرُعَلَىأَنيَبْعَثَعَلَيْكُمْعَذَاباًمِّنفَوْقِكُمْأَوْمِنتَحْتِأَرْجُلِكُمْأَوْيَلْبِسَكُمْشِيَعاًوَيُذِيقَبَعْضَكُمبَأْسَبَعْضٍانظُرْكَيْفَنُصَرِّفُالآيَاتِلَعَلَّهُمْيَفْقَهُونَ﴿٦٥﴾

Katakanlah: “Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu kepada keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya). (QS. 6:65)

Ketika manusia tidak mampu lagi menemukan hakekat tujuan hidup, maka dengan tergelarnya ilmu dan teknologi di zaman ini adalah merupakan aktifitas utama. Dan banyak dari mereka yang melupakan tugas utama hidup, yaitu Melihat Tanda-Tanda Keagungan Allah dan Taat Beribadah Kepada Allah SWT.

Walhasil disana sini muncullah egoisme manusia yang diselimuti dengan kemauan syaiton yang menyelimuti dirinya. Maka terjadilah suasana hidup yang tidak fitrah, hidup di dunia sekedar sebagai arena untuk berebut kesenangan dunia, kesenangan hawanafsu.

Demikianlah tanda-tanda Keagungan Allah telah tergelar dihadapan kita, dan nampaknya telah pula tergelar tanda-tanda Datangnya HARI QIYAMAT, dan itu sudah sangat nampak nyata dihadapan umat manusia.

Dari Berbagai kejadian yang telah kita ketahui tersebut, marilah kita melihat ke dalam diri kita masing-masing. Bila aktifitas utama kita ini adalah selalu mendahulukan untuk memenuhi Hak-Hak Allah, dan kita bertekun sebagaimana Rasulullah bertekun, dan kita abaikan segala godaan kesenangan dunia yang menggoda dan merangsang. Dan kita selalu merasa lezat dengan tekun mempelajari, menghayati dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka hal yang demikian perlu kita lestarikan dalam diri kita dan terus kita pertahankan sampai kita dimasukkan ke dalam surga-Nya.

Bila zaman semakin larut ke dalam keterlaluan memuja dunia dan tidak mempan diperbaiki lagi dengan da’wah Islam Sesuai petunjuk Rasulullah, maka seorang beriman harus bersikap sebagai ghuroba’

Islam itu bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing”. Ada yang bertanya, Siapakah orang-orang yang asing itu wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang menghidupkan Sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia.”

Sesungguhnya yang paling disukai Allah adalah orang-orang yang asing”. Ada yang bertanya. “ Siapakah orang-orang yang asing itu ?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang lari sambil membawa agamanya. Mereka berkumpul bersama Isa bin Maryam AS pada hari Qiyamat.”

Demikian luasnya ilmu Agama Islam, begitu komplitnya namun membutuhkan syarat yang ketat, yaitu kebersihan hati dalam beribadah kepada Allah SWT. Sebaliknya dunia semakin diliputi dengan keanekaragaman pendapat manusia dan membangakan diri dengan apa yang ada pada mereka.

Sehingga di saat ini, dunia semakin menuju kepada kehidupan nafsi-nafsi yang sulit diatur dengan agama Allah SWT. Semoga Allah menunjuki kita untuk selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan Sungguh-sungguh. …Wallahu a’lam.


One Response to “Memprioritaskan Aktifitas Utama Kewajiban Kepada Allah SWT.”

  1. 1
    supriyono Says:

    Alhamdulillah setelah mengaji di MTA, ibadah saya meningkat, ya Allah berikan hidayah pada orang yang belum mengerti Amin 3X Yarobbal allamin.

Leave a Reply