Materi Nafar 1434H: AKHLAQ

Materi Nafar Ramadlan 1434 H #1

اِنَّمَا بُعِثْتُ لاُتَمّمَ مَكَارِمَ اْلاَخْلاَقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq.

[HR. Baihaqi, dalam As-Sunanul Kubra juz 10, hal. 191, no. 21301]

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ.

اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّاتِ اَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلّ وَ سَلّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ

1. Kewajiban hamba kepada Allah SWT.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, Allah SWT telah memberi keni’matan kepada kita dengan keni’matan yang banyak. Allah telah menciptakan kita yang tadinya tidak ada. Allah telah menciptakan kita dalam sebaik-baik bentuk. Allah SWT berfirman :

لَقَدْ خَلَقْنَا اْلاِنْسَانَ فِى اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ. التين

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. [QS. At-Tiin : 4]

Allah memberi kepada kita dua telinga, yang dengannya kita bisa mendengar. dua mata, yang dengannya kita bisa melihat. Allah memberi kepada kita lisan, yang dengannya kita bisa berbicara. Allah memberi kepada kita dua tangan, yang dengannya kita bisa bekerja, dan dua kaki, yang dengannya kita bisa berjalan. Allah memberi kepada kita akal pikiran, yang dengannya kita bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk. Allah memberikan kepada kita kesehatan dan rezqi yang banyak, dan Allah telah menunjuki kita kepada agama Islam yang merupakan sebesar-besar ni’mat yang dengannya manusia selamat di dunia dan di akhirat. Allah juga memberi kepada kita keni’matan-keni’matan lain yang kita tidak bisa menghitungnya. Allah SWT berfirman :

وَ اِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا. ابرهيم

Dan jika kalian akan menghitung ni’mat-ni’mat Allah, pasti kalian tidak bisa menghitungnya. [QS. Ibrahim : 34]

Oleh karena itu wajib bagi kita bersyukur kepada Allah atas ni’mat-ni’mat-Nya, dengan beriman kepada-Nya dan mengagungkan-Nya dengan sepenuh hati, menyembah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, tha’at kepada-Nya, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, walaupun tidak ada orang yang melihatnya.

Rasulullah SAW bersabda :

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَ اَتْبِعِ السَّيّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَ خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. الترمذى

Bertaqwalah kepada Allah dimanasaja kamu berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan yang baik itu akan menghapuskannya, dan bergaullah dengan manusia dengan pergaulan yang baik. [HR. Tirmidzi, juz 3, hal. 239, no. 2053]

Kita wajib mencintai Allah melebihi dari segalanya, dan berdo’a mohon pertolongan hanya kepada-Nya, serta bertawakkal hanya kepada-Nya. Allah
SWT berfirman :

وَ عَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوْآ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Dan hanya kepada Allah lah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. [QS. Al-Maaidah : 23]

Di dalam hadits disebutkan :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ ص يَوْمًا، فَقَالَ: يَا غُلاَمُ، اِنّي اُعَلّمُكَ كَلِمَاتٍ، اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، اِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَ اِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَ اعْلَمْ اَنَّ اْلاُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى اَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ اِلاَّ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَ اِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى اَنْ يَضُرُّوْكَ لَمْ يَضُرُّوْكَ اِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلاَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ. الترمذى 4: 76، رقم: 2635، هذا حديث حسن صحيح

Dari ‘Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Pada suatu hari aku berada di belakang Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan apabila kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwasanya suatu ummat (sekumpulan orang) seandainya berkumpul untuk memberi manfa’at kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak dapat memberikan manfa’at kepadamu, melainkan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Da jika mereka berkumpul untuk memadlaratkan kamu dengan sesuatu, nicaya tidak akan dapat memberikan madlarat kepadamu, melainkan sesuatu yang telah Allah tetapkan kepadamu. Pena telah diangkat, dan shuhuf telah kering”. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 76, no. 2635]

Apabila kita bersyukur kepada Allah, maka Allah akan menambah ni’mat-ni’mat-Nya kepada kita, Allah menjadi pelindung kita di dunia dan di akhirat, dan Allah akan memasukkan kita ke dalam surga di akhirat kelak.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لاَزِيْدَنَّكُمْ وَ لاِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Sungguh jika kalian bersyukur, pasti Aku tambah ni’mat-ni’mat-Ku kepada kalian, tetapi jika kalian kufur, sesungguhnya siksa-Ku sangat keras. [QS. Ibrahim : 7]

2. Kewajiban kita kepada Rasulullah SAW.

Sesungguhnya Rasulullah SAW mempunyai haq yang besar yang wajib kita laksanakan. Setelah kita mengagungkan Allah penuh kecintaan, maka kita wajib mengagungkan Rasulullah SAW dan mencintai beliau melebihi dari cinta kita kepada ayah, ibu, anak, diri kita, bahkan manusia seluruhnya. Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ اَنَسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى اَكُوْنَ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَ وَلَدِهِ وَ النَّاسِ اَجْمَعِيْنَ

Dari Anas, Nabi SAW bersabda, “Tidak beriman salah seorang diantara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada ayahnya, anaknya, dan manusia seluruhnya“. [HR. Bukhari juz 1, hal. 9]

Rasulullah SAW datang dengan membawa agama Islam, dan dengan perantaraan beliau kita mengenal Allah Tuhan semesta alam, bisa membedakan yang haq dan yang bathal, yang halal dan yang haram, maka kita wajib mencintai beliau dengan setulus hati. Dan cinta kita kepada Rasulullah SAW dengan mengikuti ajarannya, merupakan bukti cinta kita kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman :

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَ اللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Katakanlah, “Jika kamu sekalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Ali ‘Imraan : 31]

Kita wajib tha’at kepada Rasulullah SAW. Dan barangsiapa tha’at kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke surga.

وَ مَنْ يُّطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَه يُدْخِلْهُ جَنّتٍ تّجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهرُ خلِدِيْنَ فِيْهَا، وَ ذلِكَ اْلفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Dan barangsiapa yang tha’at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang besar. [QS.An-Nisaa’ : 13]

Setelah kita mentha’ati Allah, maka kita wajib mentha’ati Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman :

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللهَ

Barangsiapa yang tha’at kepada Rasul, maka sungguh ia mentha’ati Allah. [QS. An-Nisaa’ : 79]

Bukti tha’at kita kepada Rasulullah SAW adalah dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya. Allah SWT berfirman :

وَ مَآ اتيكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَ مَا نَهيكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا

Dan apasaja yang diberikan oleh Rasul kepada kalian, maka terimalah dia, dan apasaja yang dilarangnya untuk kalian, maka tinggalkanlah. [QS. Al-Hasyr : 7]

Dan juga diantara bukti ketha’atan kita adalah kita bershalawat untuk beliau, keluarga beliau dan para shahabatnya semuanya. Allah SWT berfirman :

اِنَّ اللهَ وَ مَلئِكَتَه يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ، ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلّمُوْا تَسْلِيْمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. [QS. Al-Ahzaab : 56]

3. Kewajiban kita kepada kedua orang tua.

Kedua orang tua kita mencintai kita setulus hati, memberikan apasaja yang mereka punya, tidak mengharapkan kembali. Ayah ibu kita yang menjadi perantara kita terlahir di dunia. Ibu telah mengandung 9 bulan dengan susah payah, kemudian menyusui dengan penuh keshabaran. Ayah kita bekerja keras setiap hari, tidak kenal lelah mencari nafqah untuk keluarga. Dan keduanya mendidik dan memelihara kita dengan penuh kasih sayang. Oleh karena itu wajib kita berbhakti kepada keduanya, membalas kebaikannya dengan kebaikan pula. Namun, walau bagaimanapun juga kita tidak bisa membalas kebaikan kedua orang tua dengan sepenuhnya. Allah SWT berfirman :

وَ وَصَّيْنَا اْلاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ، حَمَلَتْهُ اُمُّه وَهْنًا عَلى وَهْنٍ وَّ فِصلُه فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَ لِوَالِدَيْكَ، اِلَيَّ الْمَصِيْرُ(14) وَ اِنْ جَاهَدكَ عَلى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِه عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَ صَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا وَّ اتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّ، ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu. (14)

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka akan Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (15) [QS.Luqmaan : 14-15]

Kita wajib mencintai kedua orangtua kita dengan setulus hati, menghormatinya dan mempergaulinya dengan sesuatu yang membuat mereka senang dan ridla. Memperhatikan nasihat-nasihatnya, kalau diperintah segera dilaksanakan dan memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya. Apabila kedua orang tua kita telah lanjut usia, maka kita harus menyantuninya dengan penuh kasih sayang. Allah SWT berfirman :

وَقَضى رَبُّكَ اَلاَ تَعْبُدُوْآ اِلآَّ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا، اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَا اَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَّهُمَا اُفّ وَّلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا(23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَ قُلْ رَّبّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (23)

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil”. (24) [QS. Al-Israa’ : 23-24]

Apabila kita berbhakti kepada kedua orang tua, mudah-mudahan Allah ridla kepada kita. Rasulullah SAW bersabda :

رِضَاءُ اللهِ فِى رِضَاءِ الْوَالِدِ وَ سَخَطُ اللهِ فِى سَخَطِ الْوَالِدِ. ابن حبان

“Ridla Allah tergantung ridla orang tua, dan kemarahan Allah tergantung kemarahan orang tua”. [HR. Ibnu Hibban juz 2, hal. 172, no. 429]

رِضَا الرَّبّ فِى رِضَا اْلوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبّ فِى سَخَطِ اْلوَالِدِ. الترمذى

Ridla Tuhan tergantung ridla orang tua, dan kemarahan Tuhan tergantung kemarahan orang tua. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 207]

بِرُّوْا آبَاءَكُمْ تَبِرَّكُمْ اَبْنَاؤُكُمْ. الحاكم فى المستدرك

Dan berbhaktilah kepada orang tua kalian, maka anak-anak kalian akan berbhakti kepada kalian”. [HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 4, hal. 170, dan ia mengatakan shahih isnadnya]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدًا اِلاَّ اَنْ يَجـِدَهُ مَمْلُوْكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ. مسلم

Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Seorang anak tidak bisa membalas (kebaikan) orang tuanya, kecuali jika ia mendapatkan orang tuanya sebagai budak, lalu ia membelinya dan memerdekakannya. [HR. Muslim juz 2, hal. 1148]

Adapun durhaka kepada kedua orang tua adalah dosa besar. Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ اَبِى بَكْرَةَ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَ: اَلاَ اُنَبّئُكُمْ بِاَكْبَرِ اْلكَبَائِرِ؟ ثَلاَثًا. َاْلاِشْرَاكُ بِاللهِ وَ عُقُوْقُ اْلوَالِدَيْنِ. وَ شَهَادَةُ الزُّوْرِ. اَوْ قَوْلُ الزُّوْرِ. وَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص مُتَّكِئًا فَجَلَسَ. فَمَا زَالَ يُكَرّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ. مسلم

Dari Abdur Rahman bin Abu Bakrah dari ayahnya, ia berkata : Dahulu kami sedang di sisi Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda, Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sebesar-besar dosa besar ?”. Beliau mengulanginya tiga kali. Beliau SAW bersabda, Mensekutukan Allah dengan sesuatu, durhaka kepada kedua orang tua dan menjadi saksi palsu atau berkata bohong”. Pada waktu itu beliau dalam keadaan bersandar, kemudian beliau duduk tegak dan beliau mengulang-ulang kalimat itu, sehingga (di dalam hati) kami berkata, Semoga beliau diam”. [HR. Muslim juz 1, hal. 91]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْكَبَائِرُ: َاْلاِشْرَاكُ بِاللهِ وَ عُقُوْقُ اْلوَالِدَيْنِ وَ قَتْلُ النَّفْسِ وَ اْليَمِيْنُ اْلغَمُوْسُ. البخارى

Dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi SAW, beliau bersabda, Dosa-dosa besar ialah mensekutukan Allah dengan sesuatu, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh orang, dan sumpah palsu”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 228]

Dan dosa durhaka kepada orang tua akan disegerakan hukumannya sebelum mendapat siksa di akhirat. Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ اَبِى بَكْرَةَ رض قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: كُلُّ الذُّنُوْبِ يُؤَخّرُ اللهُ مَا شَاءَ مِنْهَا اِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ اِلاَّ عُقُوْقَ اْلوَالِدَيْنِ فَاِنَّ اللهَ تَعَالَى يُعَجّلُهُ لِصَاحِبِهِ فِى اْلحَيَاةِ قَبْلَ اْلمَمَاتِ. الحاكم فى المستدرك

Dari Abu Bakrah RA, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Setiap dosa itu Allah menunda hukumannya menurut kehendak-Nya sampai hari qiyamat nanti kecuali hukuman sebab durhaka kepada kedua orang tua, karena sesungguhnya Allah Taaalaa akan menyegerakan siksaan kepada si pelakunya sejak masih hidup sebelum matinya”. [HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 4, hal. 173]

4. Kewajiban terhadap saudara dan kerabat.

Kita wajib berbuat baik kepada saudara-saudara kita dan kerabat-kerabat kita. Mereka dengan kita adalah dari satu nasab keturunan. Kita wajib mencintai mereka, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ اَحَقُّ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ؟ قَالَ: اُمُّكَ، ثُمَّ اُمُّكَ، ثُمَّ اُمُّكَ، ثُمَّ اَبُوْكَ، ثُمَّ اَدْنَاكَ اَدْنَاكَ. مسلم

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Ada seorang laki-laki bertanya (kepada Rasulullah SAW), Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhaq untuk saya santuni ?. Beliau SAW bersabda, Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu. Kemudian orang yang paling dekat denganmu, kemudian orang yang paling dekat denganmu. [HR. Muslim juz 4, hal. 1974]

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدّهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَ لَمْ يَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيْرِنَا. الترمذى 3: 215، رقم: 1985

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah dari golonganku orang yang tidak menyayangi kepada yang lebih muda, dan tidak memulyakan yang lebih tua”. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 215, no. 1985]

Kita wajib tolong-menolong dengan saudara-saudara kita dan kerabat kita, bershabar dan menjauhi sifat-sifat tercela, mencaci, ghibah dan memutuskan silaturahim. Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ اَبِى اَيُّوْبَ اْلاَنْصَارِيّ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ اَنْ يَهْجُرَ اَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ. يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هذَا وَ يُعْرِضُ هذَا.وَ خَيْرُهُمَا الَّذِيْ يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ. مسلم

Dari Abu Ayyub Al-Anshariy, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih tiga hari. (Apabila) keduanya bertemu, yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Dan sebaik-baik dari keduanya itu ialah orang yang memulai mengucapkan salam”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1984]

Kita perbuat hubungan kekeluargaan dengan mengunjunginya, menjenguknya diwaktu sakit dan mendo’akannya semoga Allah memberinya kesembuhan dan kesehatan. Apabila ada saudara dan kerabat kita yang meninggal dunia, kita segera datang berta’ziyah kepada mereka, membantu keluarganya yang ditinggalkan, merawat jenazahnya, dan mengantarkannya ke kubur.

Kita jaga hal-hal yang bisa membuat rukun dengan karib kerabat, dan kita jauhi hal-hal yang bisa membuat retaknya hubungan kerabat. Allah SWT memerintahkan supaya berbuat baik kepada kerabat. Firman Allah SWT :

وَ اعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوْا بِه شَيْئًا وَّ بِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَ بِذِي الْقُرْبى. النساء

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat. [QS. An-Nisaa’ : 36]

اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ اْلاِحْسَانِ وَ اِيْتَآءِ ذِي الْقُرْبى وَ يَنْهى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. النحل

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. [QS. An-Nahl : 90]

فَاتِ ذَا الْقُرْبى حَقَّه وَالْمِسْكِيْنَ وَ ابْنَ السَّبِيْلِ، ذلِكَ خَيْرٌ للَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَ اللهِ، وَ اُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ. الروم

Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridlaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. [QS. Ar-Ruum : 38]

Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ. وَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْ لِيَصْمُتْ. البخارى

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memulyakan tamunya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah menyambung kerabatnya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata yang baik atau diam. [HR. Bukhari juz 7, hal. 104]

Orang yang menyambung kerabat akan dipanjangkan umurnya.

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَنْ سَرَّهُ اَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ اَوْ يُنْسَأَ فِى اَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ. مسلم

Dari Anas bin Malik, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rezqinya atau dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung kerabatnya. [HR. Muslim juz 4, hal. 1982]

Pernah ada seorang shahabat karena telah melakukan dosa-dosa besar, lalu datang kepada Rasulullah SAW ingin bertaubat, maka Rasulullah SAW menyuruhnya supaya berbuat baik kepada kerabatnya.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلاً اَتَى النَّبِيَّ ص فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنّى اَصَبْتُ ذَنْبًا عَظِيْمًا، فَهَلْ لِى تَوْبَةٌ؟ قَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ اُمّ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ خَالَةٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَبِرَّهَا. الترمذى

Dari Ibnu ‘Umar bahwasanya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya telah melakukan dosa yang besar. Apakah masih ada taubat bagi saya ?” Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kamu masih mempunyai ibu ?”. Ia menjawab, “Tidak”. Beliau SAW bersabda, “Apakah kamu masih punya bibi (saudaranya ibu)?”. Ia menjawab, “Ya”. Rasulullah SAW bersabda, “Berbhaktilah kepadanya”. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 209]

Sebaliknya, barangsiapa yang memutuskan shilaturahim, ia tidak akan masuk surga.

عَنْ مُحَمَّدِ ابْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ قَاطِعٌ. مسلم

Dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan shilaturahim”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1981]

Dan Allah akan menyegerakan siksanya di dunia.

عَنْ اَبِى بَكْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا مِنْ ذَنْبٍ اَجْدَرُ اَنْ يُعَجّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ اْلعُقُوْبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى اْلآخِرَةِ مِنَ اْلبَغْيِ وَ قَطِيْعَةِ الرَّحِمِ. ابن ماجه 2: 1408 رقم

Dari Abu Bakrah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan siksanya oleh Allah bagi pelakunya di dunia ini disamping siksanya di akhirat nanti selain dari perbuatan zina dan memutuskan shilaturrahim”. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1408, no. 4211]

Apabila ada diantara saudara dan kerabat kita yang berbuat buruk kepada kita, hendaklah kita tetap bershabar dalam menghadapinya dengan tetap berbuat baik kepadanya. Dalam hadits disebutkan :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّ لِيْ قَرَابَةً اَصِلُهُمْ وَ يَقْطَعُوْنِى، وَ اُحْسِنُ اِلَيْهِمْ وَ يُسِيْئُوْنَ اِلَيَّ، وَ اَحْلُمُ عَنْهُمْ وَ يَجْهَلُوْنَ عَلَيَّ. فَقَالَ: لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَاَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَ لاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيْرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذلِكَ. مسلم

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai kerabat. Saya menyambung mereka, tetapi mereka itu memutus hubungan denganku. Saya berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka berbuat buruk kepadaku. Saya berbuat santun terhadap mereka, tetapi mereka berbuat bodoh terhadapku”. Nabi SAW bersabda, “Jika benar sebagaimana yang kamu katakan itu, maka seolah-olah kamu menyuapkan bara api ke mulut mereka, dan Allah akan selalu menolongmu dalam menghadapi mereka selama kamu tetap bersikap demikian itu”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1982]

5. Kewajiban terhadap tetangga.

Tetangga adalah orang-orang yang terdekat dengan kita tempat tinggalnya. Apabila kita membutuhkan pertolongan, maka tetanggalah yang segera datang memberikan pertolonngan kepada kita. Maka kita wajib berbuat baik terhadap tetangga, baik tetangga yang muslim maupun yang non muslim.

Berbuat baik kepada tetangga meliputi tolong-menolong dalam hal kebaikan, saling menjaga keamanannya, tidak mengganggu maupun berbuat jahat terhadap mereka. Allah SWT berfirman :

وَ اعْبُدُوا اللهَ وَ لاَ تُشْرِكُوْا بِه شَيْئًا وَّ بِاْلوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّ بِذِى اْلقُرْبى وَ اْليَتمى وَ اْلمَسكِيْنِ وَ اْلجَارِ ذِى اْلقُرْبى وَ اْلجَارِ اْلجُنُبِ وَ الصَّاحِبِ بِاْلجَنْبِ وَ ابْنِ السَّبِيْلِ وَ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ، اِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُوْرًا. النساء

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu-pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri [QS. An-Nisaa’ : 36]

Dan di dalam hadits disebutkan :

عَنْ عَائِشَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِى بِاْلجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ اَنَّهُ سَيُوَرّثُهُ. البخارى

Dari ‘Aisyah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Jibril senantiasa berpesan kepadaku tentang tetangga, sehingga aku menyangka bahwasanya tetangga itu akan mewarisinya”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 78]

Kita wajib memberikan pertolongan kepada tetangga apabila mereka membutuhkan pertolongan. Di dalam hadits disebutkan :

عَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُسَاوِرِ قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُخْبِرُ بْنَ الزُّبَيْرِ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ص يَقُوْلُ: لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَ جَارُهُ جَائِعٌ. البخارى فى الادب المفرد 1: 52، رقم

Dari Abdullah bin Musaawir, ia berkata : Saya mendengar Ibnu ‘Abbas memberitahu Ibnu Zubair, ia berkata : Saya mendengar Nabi SAW bersabda, “Bukanlah orang mukmin, orang yang dirinya kenyang sedang tetangganya lapar”. [HR. Bukhari, dalam Al-Adabul Mufrad juz 1, hal. 52, no. 112]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا آمَنَ بِى مَنْ بَاتَ شَبْعَانًا وَ جَارُهُ جَائِعٌ اِلَى جَنْبِهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ. الطبرانى فى الكبير 1: 259، رقم

Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah beriman kepadaku orang yang bermalam dalam keadaan kenyang sedang tetangganya lapar, padahal ia mengetahui”. [HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 1, hal. 259, no. 751]

Dan kita tidak boleh mengganggu tetangga. Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ اَبِى شُرَيْحٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: وَ اللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَ اللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَ اللهِ لاَ يُؤْمِنُ. قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اَلَّذِيْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ. البخارى

Dari Abu Syuraih, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman”, Ditanyakan (kepada beliau), “Siapa dia, ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Orang yang tetangganya tidak aman dari keburukan-keburukannya”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 78]

Bahkan pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW tentang orang yang suka menyakiti tetangganya, padahal ia orang yang rajin shalat, maka sabda Rasulullah SAW, “ia masuk neraka”.

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ اَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّ فُلَانَةَ ذَكَرَ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا، غَيْرَ اَنَّهَا تُؤْذِي بِلِسَانِهَا. قَالَ: هِيَ فِي النَّارِ. قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، اِنَّ فُلَانَةَ ذَكَرَ مِنْ قِلَّةِ صَلَاتِهَا وَ صِيَامِهَا وَ اِنَّهَا تَصَدَّقَتْ بِاَثْوَارِ اَقِطٍ غَيْرَ اَنَّها لاَ تُؤْذِي جِيْرَانَهَا. قَالَ: هِيَ فِي الْجَنَّةِ. ابن حبان 13: 76، رقم: 5764

Dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya, Ya Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah rajin (banyak) melakukan shalat, tetapi dia sering menyakiti orang dengan lisannya. Beliau SAW bersabda, Ia di neraka. Laki-laki itu bertanya lagi, Ya Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah itu tidak begitu rajin (banyak) shalatnya dan puasanya, dan sesungguhnya ia bersedeqah dengan potongan-potongan keju, tetapi dia tidak menyakiti tetangganya. Beliau SAW bersabda, Ia di surga. [HR. Ibnu Hibban juz 13, hal. 76, no. 5764]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قِيْلَ لِلنَّبِيّ ص: اِنَّ فُلاَنَةَ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَ تُؤْذِى جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا. فَقَالَ: لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ فىِ النَّارِ. قِيْلِ: فَاِنَّ فُلاَنَةَ تُصَلّى الْمَكْتُوْبَةَ وَ تَصُوْمُ رَمَضَانَ وَ تَتَصَدَّقُ بِاَثْوَارٍ مِنْ أَقِطٍ وَلاَ تُؤْذِيْ اَحَدًا بِلِسَانِهَا. قَالَ: هِيَ فِى اْلجَنَّةِ. الحاكم فى المستدرك

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Ditanyakan kepada Nabi SAW, Sesungguhnya si Fulanah biasa puasa di siang hari dan shalat malam, tetapi dia sering menyakiti tetangga dengan lisannya. Beliau SAW bersabda, Tidak ada kebaikan padanya, dia di neraka. Lalu ditanyakan kepada beliau, Sesungguhnya si Fulanah hanya melakukan shalat wajib, puasa Ramadlan dan bersedeqah dengan beberapa potong keju, tetapi ia tidak mau menyakiti seorangpun dengan lisannya. Beliau SAW menjawab, Dia di surga. [HR. Hakim dalam Mustadrak juz 4, hal. 184]

Maka kita wajib berbuat baik kepada tetangga kita, terutama tetangga dekat. Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ، قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّ لِى جَارَيْنِ، فَإِلَى اَيّهِمَا اُهْدِى؟ قَالَ: اِلَى اَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا. البخارى

Dari Aisyah, ia berkata : Saya bertanya, Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai dua tetangga, manakah diantara mereka yang harus saya hadiahi ?. Rasulullah SAW bersabda, Kepada yang pintunya lebih dekat denganmu. [HR. Bukhari juz 7, hal. 79]

 

~oO[ @ ]Oo~


Leave a Reply