Membangun KETAQWAAN

Harian Joglosemar, Ahad 14 Juli 2013. Taqwa adalah puncak kemuliaan sifat orang beriman. Secara umum puncak kemuliaan sifat orang beriman itu dapat diperolehnya melalui proses penghambaan diri kepada Allah [QS Al-Baqarah : 21]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,

Dengan berbagai mekanisme yang dirancang Allah untuk hamba-Nya termasuk puasa Ramadlan. [QS Al-Baqarah : 183] Maka wajar kalau para shahabat senantiasa menyambut bulan Ramadlan dengan senang hati, karena mereka merasa beruntung dengan kehadirannya yang penuh berkah dan terbuka peluang bagi mereka untuk menjadi manusia agung, manusia yang paling mulia dalam pandangan Allah yakni manusia yang bertaqwa. [QS Al-Hujurat :13]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Taqwa dari segi bahasa berasal dari kata waqaa-yaqiy  yang mendapat tambahan alif dan ta’ di depannya sehingga menjadi ittaqaa-yattaqiy yang masdar (kata benda)nya menjadi al-ittiqaa’ atau attaqwa yang memiliki beberapa arti.

Arti pertama dari attaqwa adalah aththaa’ah alkhaalishah yang artinya kethaatan yang tulus. Orang beriman yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah yang lemah dan hanya bisa menjadi kuat karena diberi kekuatan Allah. Dia menyadari tanpa bimbingan dan hidayah Allah dia akan sesat dan tidak akan selamat dari siksa api neraka yang kekal selama-lamanya.

Maka dia akan thaat kepada bimbingan Allah dengan senang hati. Dia tetap akan merasa beruntung dan berbahagia meski harus berkorban waktu, tenaga dan harta dalam menjaga kethaatannya. Sikapnya yang seperti itulah yang menjadikan hatinya ringan beristiqamah dalam menjaga kethaatan kepada Allah. Maka pantas kalau orang seperti itu dikategorikan sebagai orang yang bertaqwa.

Arti ke dua adalah alkhasyyah atau takut. Hanya orang yang takut kepada Allah saja yang bisa menghormati Allah dengan penghormatan yang tinggi. Penghormatannya yang tinggi kepada Allah itulah yang akan menjadikannya ringan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Disamping itu rasa takutnya kepada siksa api neraka akan menjadi kekuatan pengendali terhadap dirinya sendiri untuk tidak berkhianat kepada Allah. Sehingga orang yang memiliki rasa takut kepada Allah akan senantiasa terjaga dari perbuatan makshiyat. Dia akan selalu berusaha thaat kepada Allah atau dalam bahasa lain bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. [QS Ali Imran : 102]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.

Arti yang ke tiga adalah alwiqaayah atau penjagaan. Orang beriman akan senantiasa menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak disukai Allah, meninggalkan yang haram dan menjauhkan diri dari yang subhaat. Disamping itu dia akan senatiasa menjaga amanahnya dengan menjalankan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Dengan meninggalkan yang haram dan mengambil yang halal, melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang Allah dirinya senantiasa akan terjaga di atas jalan yang lurus.

Saudaraku, mari kita manfaatkan semangat beribadah di bulan Ramadlan ini dengan benar. Kita fahami makna taqwa lalu kita lakukan proses internalisasi makna taqwa melalui seluruh aktifitas ibadah selama Ramadlan ini. Rasulullah SAW berpesan, “Bertaqwalah kalian dimana saja berada, dan ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik dan bergaullah dengan manusia dengan akhlaq yang baik”. [HR. Tirmidzi, juz 3, hal. 239, no. 2053]

 Dengan menumbuhkan rasa takut kepada Allah, meningkatkan kethaatan kepada-Nya, dan menjaga diri dari perbuatan yang tidak disukai-Nya selama Ramadlan di mana saja kita berada, kita berharap di akhir bulan ini kita telah berubah menjadi hamba Allah yang bertaqwa, aamiin.

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)


Leave a Reply