Tanda Bangsa Mengalami KERUSAKAN

Harian SOLOPOS (Jumat, 26 April 2013). Imam Bukhari meriwayatkan dari Urwah bin Zubair bahwa ketika Usamah bin Zaid melakukan mediasi kepada Rasulullah SAW untuk meminta keringanan hukuman bagi seorang wanita bangsawan bani Makhzum yang ketahuan mencuri, Rasulullah SAW tidak berkenan.

Beliau kemudian berpidato yang intinya menyatakan bahwa umat dahulu telah mengalami kerusakan, karena bila yang tertangkap mencuri adalah bangsawan, maka hukum tidak ditegakkan, tetapi bila yang tertangkap mencuri adalah rakyat jelata, maka hukum ditegakkan.

Beliau menegaskan, “Walloohi, apabila Fathimah putriku mencuri, maka akan aku potong tangannya”. Tidak tegaknya keadilan menjadi penyebab kehancuran suatu bangsa. Hukum tidak ditegakkan tetapi hanya dipermainkan, tajam ke bawah tumpul ke atas.

Bila kalangan rakyat jelata yang melanggar hukum para penegak hukum yang tidak bermoral itu segera menjatuhkan hukuman. Nenek Artija, 70 tahun dari Jember saat ini masih berurusan dengan  pengadilan karena dituduh mencuri empat batang kayu bayur.

Begitu juga masih lekat dalam ingatan kita nenek Minah, 55 tahun dari Banyumas diseret ke meja hijau karena dituduh mencuri 3 biji kakao. Sementara seorang mantan petugas pajak yang statusnya sebagai narapidana, bisa melancong ke Bali dan ke luar negeri padahal seharusnya meringkuk di penjara.

Untuk menciptakan kehidupan yang aman, nyaman, damai dan bermartabat tatanan kehidupan sosial harus dibangun di atas prinsip keadilan. Hukum harus bebas dari status sosial.

Kalau tidak bebas maka mereka yang berstatus sosial tinggi akan terlepas dari jeratan hukum Hukum harus bebas dari pengaruh kekuasaan, karena kalau tidak bebas dari pengeruh kekuasaan, maka para pejabat tidak akan tersentuh hukum. Hukum harus bebas dari transaksi jual beli.

Karena bila tidak bebas dari transaksi jual beli, mereka yang berharta akan membeli hukum. Sayang penegakan hukum yang seperti itu sekarang sulit dijumpai. Mereka yang berperkara dan para penegak hukum saling berkolusi untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Dalam kisah di atas meskipun wanita pencuri itu dari kalangan bangsawan, karena terbukti mencuri maka tetap dipotong juga tangannya. Ibarat sebuah pedang, hukum memang tidak boleh pandang bulu, harus tajam ke atas maupun ke bawah. Bahkan Rasulullah SAW memberikan penegasan bila Fathimah putri kesayangan beliau mencuri, maka beliau sendiri yang akan memotong tangannya.

Saudaraku, kita tidak ingin bangsa ini mengalami kehancuran seperti yang dialami oleh bangsa-bangsa yang terdahulu. Untuk itu hukum harus ditegakkan. Apapun hukum yang berlaku di negeri ini asal hukum itu ditegakkan dengan adil, maka penegakan keadilan itu akan memberikan efek jera kepada para pelanggar hukum.

Mereka akan berfikir ulang untuk melanggar hukum lagi, karena upaya yang telah mereka lakukan untuk berkolusi, berkompromi, menyuap, dan membeli pasal-pasal telah gagal. Disamping itu penegakan hukum yang adil akan menimbulkan rasa takut bagi orang-orang yang berkeinginan untuk melanggar hukum.

Bagi umat Islam sangat mendorong untuk ditegakkan keadilan, karena berlaku adil merupakan satu langkah menuju taqwa. Allah berfirman di dalam Surat Al-Maaidah ayat 8, “…I’diluu huwa aqrabu littaqwaa…” (Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa). Bahkan dalam ayat tersebut Allah menyeru untuk berlaku adil meskipun kepada orang yang kita benci.

Semoga bangsa ini dikaruniai Allah dengan kejayaan melalui penegakan hukum di atas prinsip keadilan, aamiin.


5 Responses to “Tanda Bangsa Mengalami KERUSAKAN”

  1. 5
    Agus Sri Hartono Says:

    kapan tercipta keadilan di negeri kita????????????? banyak pengadilan tpi minim keadilan………

  2. 4
    amboro Says:

    sudah saat nya islam ditegakkan salah satunya melalui MTA….

  3. 3
    ujang sono Says:

    mantap !!!!

  4. 2
    Maskatno Giri Says:

    Trimakasih Ustadz Drs. Sukino n Solopos yang telah mau berbagi. Semoga semakin barokah.

  5. 1
    hafkark Says:

    assalamualikum pak.untuk binaan mta di pemalang alamatnya di mana ya? matursuwun

Leave a Reply