Munculnya Generasi Penerus Yang Qur’ani

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan pengikutnya yang senantiasa mengikuti jalan petunjuk-Nya. Salam untuk seluruh Nabi dan Rasul.

Alhamdulillah, Allah SWT telah memberikan contoh yang amat banyak di dalam Al-Qur’an yang membahas tentang estafet Islam dari zaman ke zaman.

Islam sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia, Namun Allah senantiasa menguji umat manusia, siapakah diantara mereka yang sungguh-sungguh ingin mendapatkan Rahmat Allah dan siapakah mereka yang lengah dalam kehidupan dan kemudian  mereka sering dan selalu melupakan Allah SWT.

Men Tauhidkan Allah, merupakan ujian yang terus berulang dari generasi ke generasi. Dan puncak pemaham manusia, yang tidak lain adalah pemahaman para Nabi-Nabi tentang adanya kehidupan di Alam semesta. Para Nabi senantiasa memprihatinkan tentang keberlangsungan agama Tauhid dan bagaimana mereka dengan sangat khusuk  berdoa kepada Allah  agar  ke Tahidan itu terus turun temurun ke generasi selanjutnya.

Nabi Ibrahim, bapak Tauhid telah berdoa kepada Allah sebagimana dalam ayat berikut ini,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـذَا الْبَلَدَ آمِناً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ ﴿٣٥﴾ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٣٦﴾ رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ ﴿٣٧﴾ رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللّهِ مِن شَيْءٍ فَي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاء ﴿٣٨﴾ الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء ﴿٣٩﴾ رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء ﴿٤٠﴾ رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ ﴿٤١﴾

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata:”Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS. 14:35)

 Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 14:36)

 Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. 14:37)

 Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS. 14:38)

 Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a. (QS. 14:39)

 Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankan do’aku. (QS. 14:40)

 Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS. 14:41)

Kehidupan dunia yang sementara sering menjadi kiblat yang menajubkan bagi manusia-manusia yang lemah dalam memahami arti kehidupan yang sesungguhnya.

Seharusnya manusia hidup  selalu diisi dengan tekun melihat tanda-tanda keagungan Allah SWT dan kemudian rajin beribadah kepada Allah SWT. Namun banyak manusia yang tersilau dengan kehidupan dunia dan kemudian melupakan kehidupan akherat dan melupakan Allah SWT, dan bahkan banyak yang durhaka dan menentang Allah SWT.

Nabi Ibrahim telah berhijrah, dari tempat kaum yang kafir ke tempat yang diberkahi Allah SWT. Dan Nabi Ibrahim selalu memohon kepada Allah agar anak turunnya selalu mengikuti jejaknya untuk selalu beribadah hanya kepada Allah.

Zaman modern penuh dengan fasilitas kehidupan gemerlap dunia yang sangat melalaikan. Bila dasar-dasar Agama tidak dimiliki seorang anak manusia dengan kuat dan kokoh, maka pasti akan mudah untuk jatuh terjerembab dalam kesesatan.

Seharusnya semakin dibuka lebar tanda-tanda keagungan Allah di dalam kehidupan, seharusnya semakin pula manusia semakin rajin beribadah kepadanya. Namun dalam kehidupan yang semakin HETEROGEN, bercampurnya  orang-orang sholih dan orang-orang kafir, semakin membuat manusia sulit dalam berkonsentrasi di dalam ber Tauhid.

Setidaknya pola hidup Nabi Ibrahim yang berhijrah dan mengutamakan tentang rahmat Allah  kepadanya membuat Nabi Ibrahim selalu mendidik anak-anaknya untuk selalu berpegang pada Tauhid, berpegang teguh kepada Agama yang benar dan lurus.

Hijrah, hijrah, hijrah, dari lingkungan yang penuh berkubang dengan kekafiran kepada lingkungan yang penuh dengan rahmat Allah. Baik itu lingkungan sehari-hari, lingkungan sekolah, lingkungan bekerja, lingkungan bergaul, dan seterusnya… Wallahu a’lam.


3 Responses to “Munculnya Generasi Penerus Yang Qur’ani”

  1. 3
    LaskarJihad Says:

    Ikut menyimak,
    mhn ijin utk ikut menyebarkan di blog saya.
    maturnuwun

  2. 2
    agus multoyo Says:

    Ayo kita mulai dari diri sendiri yg akan dicontoh oleh orang lain.

  3. 1
    hendro Says:

    Keimanan kita sebagai seorang muslim tergantung perilaku keharian, semakin condong keduniawian maka yg kita dapatkan hanya duniawi saja sebaliknya bila condong ke masa depan (akherat) insya’allah kita akan mengerti bahwa dunia hanya dinikmati sebatas umur kita.

Leave a Reply